Robert Sianipar Berbagi Strategi Agar BPR Tidak Kollaps, Ini yang Harus Dilakukan

Kepala Kantor OJK NTT, Robert Sianipar berbagi strategi agar BPR tidak kollaps, ini yang harus dilakukan

POS-KUPANG.COM/Yeni Rachmawati
Kepala Kantor OJK NTT, Robert Sianipar 

Kepala Kantor OJK NTT, Robert Sianipar berbagi strategi agar BPR tidak kollaps, ini yang harus dilakukan

POS-KUPANG. COM | KUPANG -- Kepala Kantor OJK NTT, Robert Sianipar berbagi strategi kepada BPR agar tidak mengalami kollaps seperti di Denpasar.

Salah satu strategi yang harus diterapkan yaitu penguatan capacity bilding, dengan memperkuat kompetensi dan pengetahuan. Karena aktivitas bisnis yang paling dominan di BPR adalah kredit dan itu sumber risiko yang membuat bank cepat kollaps.

BBPP Kupang Hadirkan 30 Petugas Inseminator Buatan Non Aparatur untuk Tujuan ini

Bila kredit ditanam sembarangan dan usahanya macet, maka likuiditas bank terganggu.

Oleh karena itu, kata Robert, kepada POS-KUPANG. COM, Senin (16/9/2019), secara umum OJK mengimbau agar BPR tetap menerapkan tata kelola yang baik dan manajemen risikonya.

Bila menanam minimal harus mengetahui risikonya dan jangan spekulatif.

"Misalnya, apa yang sedang buming, melirik lima tahun lalu sedang buming properti semua masuk ke sana. Begitu tanah dan properti menajdi komiditi yang diperjualbelikan kemudian pasarnya turun kan mangkrak.

Bandara Supadio Tertutup Asap, Pesawat Jemaah Haji Kalbar Mendarat di Soekarno Hatta

Sementara sumber pengembaliannya dari keuntungan jual beli itu. Itulah kondisi Bali lima tahun lalu. Di sana satu are dijual Rp 1 miliar dan diberikan kredit, tapi waktu itu sedang buming orang spekulatif, begitu marketnya turung barang masih tertahan tidak ada pembeli," terangnya.

Kata Robert, bila memakai uang pribadi tidak masalah tapi kalau pakai uang bank, tapi tidak bisa kembalikan kredit akhirnya bank tertanam karena tidak ada pemasukan bunga.

"Darimana membiayai operasional, likuiditas terganggung, begitu juga dengan cash resio. Karena cash rasio dibawah tiga persen rata-rata enam bulan terakhir, atau rasio permodalan dibawah empat persen maka bank tersebut masuk dalam pengawasan intensif. Maka bank tersebut dikasih waktu untuk setor modal kalau pemilik tidak punya uang untuk setor modal maka bisa cabut ijin usaha. Jadi sebenarnya tidak sakit tiba-tiba tapi ada prosesnya," tukasnya.

Robert mengatakan kondisi BPR di NTT tergolong sehat. Tapi bila dipakai indikator permodalan sehat, ada yang empat persen. Tapi itu karena kurang jualan dan tidak menyalurkan kredit. Tapi ingat jangan spekulatif.

Lanjutnya, bank harus membatasi pada sektor tertentu tidak bisa menanam semua fortopolio di situ.

"Kondisi BPR yang tutup di Bali bisa menjadi pembelajaran untuk BPR yang ada di NTT. Jangan membiayai spekulatif, ada manajemen risiko yang efektif dan ada limit risiko konsentrasi," tukasnya. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Yeni Rachmawati)

Penulis: Yeni Rachmawati
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved