Mahasiswa Harus Menguasai Legal Drafting untuk Membantu Pemerintah Daerah

Para Mahasiswa harus menguasai legal drafting untuk membantu Pemerintah Daerah

Mahasiswa Harus Menguasai Legal Drafting untuk Membantu Pemerintah Daerah
POS-KUPANG.COM/Foto Dokumentasi Tala Ia
Sri Handayani Retna Wardani (kiri) selaku pembicara dan Syahfuad Nur Rahmat (kanan) selaku moderator dalam Seminar Legal Drafting di Kampus STPMD "APMD" Yogyakarta, Sabtu (24/08/2019). 

Para Mahasiswa harus menguasai legal drafting untuk membantu Pemerintah Daerah

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Minimnya jumlah tenaga legal drafter (pembuat konsep peraturan di daerah) di luar Pulau Jawa menyebabkan banyak daerah mengambil legal drafter dari luar terutama perguruan tinggi di luar daerah untuk membuat konsep peraturan baik peraturan daerah, peraturan gubernur/bupati atau walikota maupun peraturan desa.

Seminar Legal Drafting dengan tema "Mendorong Kebijakan Ekonomi untuk Kesejahteraan Rakyat" yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Ile Ape Yogyakarta (TALA IA) asal Lembata, NTT, dilangsungkan di Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) "APMD" Yogyakarta, Sabtu (24/8/2019).

Kapal Kargo Bermuatan Nikel Hilang Kontak di Perairan Pulau Buru, Mengangkut 25 Orang Penumpang

Dalam keterangan tertulis yang diterima Pos- Kupang.Com, Sabtu (24/8/2019), Ketua Pusat Kajian Hukum Konstitusi, dan Penyusun Perda Provinsi/Kabupaten/Kota, Trainer Legal Drafting, Sri Handayani Retna Wardani, menuturkan mengambil legal drafter dari luar kurang baik karena mereka akan membuat peraturan sesuai pesanan. Legal drafter dari luar tidak tahu persis kondisi suatu daerah. Lain halnya bila legal drafter adalah putra daerah yang pasti bisa membantu pemerintah daerah dalam penyusunan konsep peraturan daerah (legal drafting). Putra daerah tahu kebutuhan daerahnya sehingga ia turut andil dalam mengawal APBD agar tetap mengalir ke rakyat daerah itu sendiri.

Pin Emas Penghargaan Terhadap DPRD NTT

Dosen Fakultas Hukum Universitas Janabadra ini juga mengatakan bahwa legal drafter tidak harus hanya lulusan fakultas hukum tetapi juga dari bidang-bidang lainnya karena peraturan yang dibuat harus mengakomodasi semua aspek antara lain hukum, ekonomi, sosial, politik, iklim usaha, budaya dan sebagainya.

"Di luar Jawa minim legal drafter. Siapa yang mau bekerjasama dengan saya, silakan. Kita bisa melakukan bersama-sama dengan cara menjadi trainer di daerah," ajak Sri Handayani.

Ketua TALA IA, Adrianus Patong mengatakan, Seminar Legal Drafting ini sengaja digelar karena adannya keprihatinan akan minimnya jumlah legal drafter di daerah yang mampu membuat peraturan yang baik dan benar serta berpihak pada kesejahteraan rakyat.

Hal yang sama juga disampaikan oleh perwakilan Alumni TALA IA, Antonius Bunga Thomas. Bahkan, ia sendiri yang berlatar belakang pendidikan bukan hukum berpendat bahwa seorang mahasiswa tidak peduli apa pun latar belakang pendidikannya harus menguasai legal drafting sehingga ia dapat berperan dalam sumbangsih pemikiran di daerah asalnya, setidaknya dalam penyusunan konsep peraturan desa.

Oleh karena itu, ia sangat mendukung seminar yang digelar oleh organisasi independentersebut.

"Saya sangat mengapresiasi panitia penyelenggara seminar ini, karena selama 15 tahun sejak berdiri pada tanggal 6 Juni 2004, baru kali ini TALA IA go public dengan melibatkan masyarakat umum, tidak hanya untuk orang Lembata atau NTT saja. Dengan kata lain, TALA IA hadir untuk Indonesia," kata alumni Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini.

Ketua Panitia Penyelenggara, Paulus Mean Atawolo menyampaikan seminar ini bertujuan untuk menambah wawasan peserta tentang legal drafting. Sedangkan, tema ini diangkat setelah melihat kebijakan-kebijakan yang ada di daerah kurang transparan dengan masyarakat, sehingga kesejahteraan rakyat belum terwujud.

 Seminar yang dipandu oleh mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Janabadra, Syahfuad Nur Rahmat, dihadiri oleh para peserta yang berasal dari beragam daerah dengan latar belakang pendidikan yang beragam pula. Hal ini selaras dengan etimologi kata TALA IA yang mana berasal dari kata bahasa Lamaholot "tala ia" yang berarti "(kita) lewat di sini". Dengan kata lain, TALA IA menerima siapa saja yang mau berproses dan belajar di wadah ini. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo)

Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved