Goris Batafor: Saya Tidak Ajarkan Anak Baca Buku Tapi Seimbangkan Otak Kiri dan Kanan

Pendiri Taman Daun Lembata, Goris Batafor, turut memberikan testimoni terkait literasi dalam acara talkshow

Goris Batafor: Saya Tidak Ajarkan Anak Baca Buku Tapi Seimbangkan Otak Kiri dan Kanan
POS KUPANG.COM/RICKO WAWO
Wakil Bupati Lembata, Thomas Ola Langoday menyerahkan kain tenun dan cinderamata kepada Pustakawan Utama Perpustakaan Nasional Indonesia, Nelwati dalam talkshow literasi yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional RI di Hotel Palm, Jumat (23/8/2019) 

POS-KUPANG.COM | LEWOLEBA - Pendiri Taman Daun Lembata, Goris Batafor, turut memberikan testimoni terkait literasi dalam acara talkshow Safari Gerakan Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional Indonesia di Hotel Palm Lewoleba, Jumat (23/8/2019). Taman Daun sendiri adalah taman baca yang beralamat di Bluwa RT 005 RW 002 Kelurahan Lewoleba Barat Kecamatan Nubatukan Kabupaten Lembata.

Taman Daun yang berdiri sejak 23 April 1987. Goris berkisah berbekal pengalamannya sewaktu muda di tanah rantau, dirinya kembali ke Lembata dan mulai mengumpulkan ibu-ibu untuk menenun. Dalam perjalanan, karena para ibu sering datang menenun membawa anak, terbesitlah di dalam pikiran untuk mendirikan sebuah taman baca bagi para bocah. Taman Daun pun resmi berdiri dan kini menjadi salah satu taman baca terbesar dan tertua di Kabupaten Lembata.

DPP Partai NasDem Belum Putuskan Calon Pimpinan DPRD NTT

"Dua tahun terakhir ini, taman daun sudah melaksanakan wisata edukasi untuk mendukung program pemerintah soal pariwisata," ungkapnya.

Goris mengatakan saat ini Taman Daun sudah membangun kemitraan dengan banyak relawan dari luar negeri. Mereka datang dan tinggal di Lembata selama dua bulan. Hal ini tentu sejalan dengan misi pemerintah mengembangkan pariwisata di Lembata.

TP PKK Kota Kupang Edukasi Siswa-siswi Bahaya HIV/AIDS dan Narkoba

Perihal membaca, dia berujar, "Kami tidak ajar anak untuk membaca. Itu tugas sekolah. Yang kami buat itu bagaimana menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan anak. Kebanyakan orangtua ingin anaknya baca supaya pintar. Tapi kita perkenalkan mereka dengan seni supaya seimbang," tegasnya.

Wabup Lembata Kunjung Setiap Komunitas Baca

Dalam talkshow ini, Wabup Lembata, Thomas Ola Langoday langsung mengambil sikap. Dirinya menunggu undangan dari setiap komunitas yang mengadakan berupa aktivitas literasi setiap bulan.

"Setiap bulan kita anjangsana dari satu komunitas ke komunitas lain. Yang penting ada aktivitas yang digagas oleh setiap komunitas dan dihadiri semua komunitas. Kalau bisa kita saling mengunjungi antar komunitas. Kalau tidak kita tunggu tahun depan dulu baru buat lagi seperti ini."

Longginus Lega sebagai Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata, meminta komunitas-baca untuk membuat proposal dan diserahkan kepadanya bila membutuhkan buku dan fasilitas lainnya bagi taman baca mereka. Pada prinsipnya pemerintah mendukung semua niat baik komunitas dalam gerakan literasi.

"Kita harapkan peran perpus itu bukan sebagai tempat baca saja tapi tempat beraktivitas dan dapat diakses siapa saja."

"Saya sadar benar kalau tugas kita semua mencerdaskan dan melestarikan karya anak bangsa. Di perpustakaan daerah ada tiga hal yang harus saya lakukan: cerdaskan anak bangsa dengan karya tulis, karya cetak dan karya rekam," sebutnya.

Sampai saat ini, dia mengakui kalau respon masyarakat masih jauh dari yang diharapankan. Kondisi infrastruktur masih jauh dari meyakinkan. Sebagai tempat aktivitas, perpustakaan harus membuat event. Literasi itu, menurutnya bukan program tapi gerakan sampai ke bawah. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo

Penulis: Ricardus Wawo
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved