Jokowi Bagikan Cerita Gading Jansen Lewat Akun Facebook Alasan Banyak Orang Batak Jadi Pengacara

Presiden Jokowi Bagikan Cerita Gading Jansen Lewat Akun Facebook Alasan Banyak Orang Batak Jadi pengacara

Jokowi Bagikan Cerita Gading Jansen Lewat Akun Facebook Alasan Banyak Orang Batak Jadi Pengacara
KOMPAS.com/ANTARA FOTO/AKBAR NUGROHO GUMAY
Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo (kanan) mengunjungi Kampung Adat Batu Persidangan di Samosir, Sumut, Rabu (31/7/2019). Kedatangan Presiden Jokowi itu untuk meninjau pengembangan wisata di kawasan Danau Toba yang akan dijadikan destinasi wisata berkelas dunia. 

POS-KUPANG.COM | JAKARTA - Presiden Jokowi Bagikan Cerita Gading Jansen Lewat Akun Facebook Alasan Banyak Orang Batak Jadi pengacara

Dalam kunjungannya ke Sumatera Utara, Presiden Joko Widodo tidak hanya meninjau lokasi wisata dan infrastruktur yang ada di wilayah itu.

Presiden juga banyak mendapatkan cerita soal hikayat lokal di wilayah itu, salah satunya soal alasan orang batak banyak yang menjadi pengacara.

Di Sikka, 20.960 Ekor HPR Divaksin Anti Rabies

Cerita yang Presiden dapat itu lalu ia bagikan lagi lewat akun facebook resminya. "Tahukah Anda mengapa banyak orang Batak jadi pengacara?" kata Jokowi membuka tulisan singkat di status Facebook.

Jokowi mendapatkan jawaban atas pertanyaan di atas saat berkunjung ke kampung tua Huta Siallagan, Sumatera Utara, Rabu (31/7/2019).

Kampung itu namanya diambil dari nama Raja Laga Siallagan, garis keturunan suku Batak asli. Kampung itu masih di area Danau Toba, tepatnya Desa Ambarita, Kabupaten Samosir.

Bahaya Gigi Berlubang yang Tak Ditangani Bisa Bikin Nyawa Kamu Melayang Guys

"Inilah kampung yang konon titik awal sejarah peradaban penegakan hukum di Samosir pada zaman dahulu kala," kata Jokowi.

Di kampung itu Jokowi lalu bertemu keturunan raja ke-17 Siallagan, Gading Jansen Siallagan. Gading lantas mengisahkan kepada Jokowi mengapa banyak orang batak yang kini menjadi pengacara.

Gading mengisahkan, di kampungnya masih ada bekas 'batu persidangan'. Batu itu berbentuk sebuah meja dengan kursi tersusun melingkar, tempat sang raja mengadili pelanggar hukum adat.

Sidang pengadilan di situ dihadiri raja, adik-adik raja, penasehat terdakwa, penasehat korban, dan penasehat kerajaan.

Halaman
12
Editor: Kanis Jehola
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved