BWS NT II NTT Sosialisasi dan Lakukan Pendataan Awal Persiapan Pengadaan Tanah Bendungan Lambo
Pihak BWS NT II NTT Sosialisasi dan Lakukan Pendataan Awal Persiapan Pengadaan Tanah Bendungan Lambo
Penulis: Gordi Donofan | Editor: Kanis Jehola
Ia menerangkan proses rencana pembangunan Waduk Lambo dalam kegiatan sosialisasi supaya tim BWS harus memastikan hak-hak warga yang tidak bisa terabaikan dan bisa terakomodir semuanya demi kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II, Ir. Agus Sosiawan, menjelaskan, bahwa kedatangan kali ini merupakan kegiatan sosialisasi tentang pendataan dan pengadaan tanah yang terkena dampak dan untuk mengetahui berapa luas lahan yang terkena dampak termasuk pekarangan dan pemukiman.
Ia menjelaskan kegiatan ini atas dasar menjawab program nasional.
"Kami BWS merencanakan untuk percepatan sosialisasi pengadaan tanah sesuai perintah undang-undang. Kami dari BWS untuk mendata tanah perorangan, tanah pekarangan, rumah supaya bisa mengetahui berapa luas lahan yamg dimiliki oleh penduduk yang terkena dampak yang berkaitan dengan pergantian rugi yang terkena dampak pembangunan waduk," jelasnya.
Ia mengaku pihak BWS mengharapkan kepada masyarakat agar mari kita kerja sama dan saling mendukung dalam proses sosialisasi sehingga kegiatan bisa berjalan sesuai dengan rencana.
"Kami dari kementrian PUPR bekerja sesuai dengan aturan yang berlaku walaupun rencana pembangunan waduk Lambo belum semuanya sepakat dan yang keberatan silakan ajukan proses ini sesuai dengan aturan yang berlaku," ujarnya.
Sementara Ketua Forum Penolakan, Bernadinus Gaso dari Rendubotowe, bahwa pihaknya memintah pemerintah Nagekeo dan BWS memberikan penjelasan dari hasil survei dan luas genangan sehingga masyarakat bisa memahami dengan baik.
Ia mengatakan tempat situs dan ritual budaya tidak boleh diabaikan oleh pemerintah. Sehingga pihaknya tetap konsisten menolak pembangunan waduk Lambo diwilayah itu.
Sementara Mince Mawa, mengatakan pihaknya tetap menolak karena lokasi itu merupakan lokasi perkampungan, tempat ritual dan tempat ritus budaya. Sehingga sangat keberatan jika Lowose akan dijadikan tempat waduk Lambo.
"Bahwa kami forum penolakan, kami tidak menolak pembangunan Waduk Lambo tetapi kami menolak tempatnya di Lwolose dan dipindahkan ke Malawaka dan Lowophebhu yg letaknya berdekatan du desa RenduButowe," ujar Siti.
Pantauan POS-KUPANG.COM, terjadi dinamika saat diskusi yaitu pihak yang kontra dan pro namun semuanya berjalan aman.
Kegiatan sosialisasi persiapan pengadaan tanah pembangunan bendungan Mbay selesai, berjalan lancar, aman dan tertib. (Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Gordi Donofan)