34 Desa Di TTS Mulai Alami Kekeringan
Hingga menjelang akhir bulan Juli 2019, sebanyak 34 Desa di 12 Kecamatan di Kabupaten TTS mengalami kekurangan air bersih.
Penulis: Dion Kota | Editor: Adiana Ahmad
34 Desa Di TTS Mulai Alami Kekeringan
Laporan Reporter Pos Kupang.Com, Dion Kota
POSKUPANG.COM | SOE - Hingga menjelang akhir bulan Juli 2019, sebanyak 34 Desa di 12 Kecamatan di Kabupaten TTS mengalami kekurangan air bersih.
Hal ini merupakan dampak dari keringnya sumber mata air permukaan dan kali-kali di Kabupaten TTS.
Data yang diperoleh pos kupang.com dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten TTS, menyebut, kecamatan Amanuban Timur dan Fatukopa menjadi dua kecamatan dengan dampak kekurangan air bersih paling besar. Di dua kecamatan tersebut, masing-masing lima desanya mulai mengalami kekurangan air bersih.
Sekertaris BPBD Kabupaten TTS, Jusuf Alle saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon selulerenya, Selasa (23/7/2019) pagi mengatakan, saat ini BPBD masih mendata desa-desa yang mengalami kekurangan air bersih sebagai dampak dari sumber air permukaan yang telah mengering.
Usai mendata, selanjutnya BPBD akan membuat jadwal untuk melakukan distribusi air bersih ke desa-desa tersebut guna memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Seperti tahun lalu, BPBD Kabupaten TTS juga akan bersurat ke BPBD Propinsi NTT untuk meminta bantuan mobil tangki guna membantu proses distribusi air bersih.
• Kondisi Limbah di Ramayana Mall Kupang Mulai Mengganggu, Warga Lapor Pemkot Kupang
"Kita masih sementara mendata dan untuk sementara jumlahnya 34 desa yang mengalami kekurangan air bersih sebagai dampak dari keringnya sumber mata air permukaan. Kita akan segera buat jadwal untuk melakukan mendroping air bersih ke desa-desa," ungkap Jusuf.
Salah satu desa yang menjadi langganan kekeringan sumber air permukaan adalah Desa Basmuti di Kecamatan Kuanfatu.
Setiap tahunnya, sumber mata air permukaan di desa tersebut hanya mampu bertahan hingga awal bulan September.
Mulai dari September hingga musim penghujan tiba, masyarakat terpaksa harus membeli air bersih yang dijual menggunakan jirgen untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
• Antisipasi Dampak Kekeringan, DPRD NTT Minta Pemprov NTT Alokasikan Dana Cadangan
Saat ini, dari total 16 sumber mata air yang ada di Desa Basmuti, 4 di antaranya sudah mengering. Debit air di 12 mata air yang masih mengalir pun sudah menurun debit airnya. Diperkirakan, 12 mata air lainnya juga akan mengering pada September mendatang.
"Sekarang masyarakat sudah mulai beli air yang dijual 60 liter dengan harga Rp. 10.000," ungkap Kepala Desa Basmuti, Asta Lopo.
Beruntungnya, ditengah penderitaan masyarakat Basmuti ada Yayasan Kebun Anggur yang menaruh perhatian untuk melakukan pemboran sumur bor.
• DPRD NTT Minta Pemerintah Alokasikan Dana Cadangan Untuk Atasi Kekeringan