Berita Cerpen

Cerpen Akuilina Yunita Sidin: Hujan Bulan Juni (Bukan Cerpen Supardi)

Laki-laki itu berjalan menjauh. Memunggungi perempuan berambut ikal, dengan dipenuhi sesak segala rasa dalam dadanya.

Cerpen Akuilina Yunita Sidin: Hujan Bulan Juni (Bukan Cerpen Supardi)
Ilustrasi/trubunnews.com
Hujan Bulan Juni (1) 

Maka kita hanya perlu menikmatinya. Kamu ingat bukan? Pertemuan kitapun adalah sebuah kebetulan. Kebetulan di sebuah kedai kopi. Kamu datang menemani temanmu lalu melemparkan senyum ramahmu saat aku sedang asyik meneguk kopi yang sudah ku pesan. Hingga pada akhirnya kita masih bersama sampai sekarang ini. Kita sudah direncakan. Maka, begitupun yang terjadi sekarang. Kepergian abadi beliau adalah rencana Empunya-nya. Suatu saat akan kau rasakan kebaikan dibalik rencana ini."

Hadiri Lion King European Premiere, Beyonce Mencuri Perhatian di Karpet Merah Bertabur Bintang

Laki-laki itupun menanggapi dengan suara yang cukup tegas.
"Aku mencintainya. Aku merindukannya." Sambung perempuan itu sambil menangis sejadi-jadinya meremas dengan erat tangan laki-laki itu dan merebah di bahunya.

"Dan Tuhan amat sangat mencintainya. Dia lebih mencintainya." Katanya sambil memeluk dengan erat perempuan yang terus menangis sedari tadi. Terasa di dadanya sakit yang teramat dalam dirasakan perempuan itu.

Perempuan yang sebelumnnya selalu menunjukkan senyum di tiap jumpa mereka. Perempuan yang mampu membawanya ke dalam dunia-dunia imaji. Permainan kata. Puisi Karya rasa dalam kata lainnya.

Perempuan yang hadir dengan lelucon garing namun mampu membuatnya tertawa. Namun perempuan itu kini tengah menitikkan air mata bagai banjir di depan matanya. Yang menyimpan perasaan sakit atas kehilangan seorang ayah.

Permpuan yang amat disayanginya. Segala kesesakan pun dirasakan juga olehnya.

" I wanna be yours. Menjadi satu-satunya orang yang akan menyeka tiap basah air mata oleh luka. Yang akan menemanimu dengan tawa dan senyum. I want you. I love you," katanya mengakiri perbincangan sore itu.

Langit memerah. Angin pantai semakin dingin. Semua kata itu berujung senyum si perempuan itu. Laki-laki itu menyeka basah yang masih tersisa di pipi gadis itu. Lalu, beberapa kecupan senja menghantar mereka untuk kembali. Kembali ke rumah. Namun bukan pada duka.

" Mama, aku tak mempunyai rasa sayang sedikitpun dengan dia. Om tolong bujuk mama." Perempuan itu meringis di depan mama dan om-nya di suatu sore sambil mereka menikmati kopi dan sepiring kue.

Pakai Bikini, Ayu Ting Ting Jadi Sorotan, Teman Raffi Ahmad Ini Malah Balas Begini

"Mencintai adalah sebuah proses yang panjang. Menyayangi adalah sebuah perjalanan. Maka mungkin sekarang belum punya rasa sayang, tapi tentang suatu saat nanti, siapa yang tahu rencana semesta," sambung Om-nya menjawab perempuan itu.

Halaman
1234
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved