Berita Cerpen

Cerpen Akuilina Yunita Sidin: Hujan Bulan Juni (Bukan Cerpen Supardi)

Laki-laki itu berjalan menjauh. Memunggungi perempuan berambut ikal, dengan dipenuhi sesak segala rasa dalam dadanya.

Ilustrasi/trubunnews.com
Hujan Bulan Juni (1) 

POS-KUPANG.COM|KUPANG - Laki-laki  itu berjalan menjauh. Memunggungi perempuan berambut ikal, dengan dipenuhi sesak segala rasa dalam dadanya.

Meninggalkan perbincangan penuh emosional, yang membawa pada apa yang mereka sepakati dahulu sejak perjumpaan tak sengaja itu menuju jurang yang tak mereka inginkan.

Laki-laki itu berjalan menjauh. Namun, perlahan langkahnya melambat. Ingin rasanya ia berbaik arah, berlari sekuat tenaganya untuk memeluk perempuan yang ditinggalkannya yang sedari tadi masih terdiam membisu di tempat terakhir mereka berjumpa.

Enam Calon Imam OFM Akan Ditahbiskan di Keuskupan Ruteng

Laki-laki itu hampir menghentikan langkahnya, namun beberapa hal yang berkecamuk membuatkan terus berjalan meski melambat.

"Kamu tahu apa yang paling kusukai dari kopi?" Tanya perempuan itu di suatu sore saat perjumpaan mereka pertama kali.

Meski pertemuan itu untuk kesekian kalinya mereka sudah menyepakati bahwa setiap perjumpaan di antara mereka akan selalu dianggap sebagai pertemuan pertama.

Sambil mengaduk gelas kopi di atas meja.
"Apa itu?" Jawab laki-laki itu sambil terus memperhatikan perempuan itu mengaduk kopi.

"Aku menyukai caramu menemukanku dengannya. Aku menyukai caranya menemukanmu untukku. Dan yang paling kusukai adalah aku akhirnya mencintaimu dengan mencintainya.

 SVD Bangun SMA Unggul di Kupang

Aku suka, aku akhirnya jatuh dan cinta kepadamu."' Katanya
sambil tersenyum lalu menyuguhkan kopi kepada lelaki itu.
"Arhrh." Laki-laki itu mengingat kembali. Dan, langkahnya semakin melambat.

Wanita itu meringis di tempatnya. Satu per satu kristal bening cair itu membasahi pipinya. Di ambilnya tisu, lalu membasuh basah yang terus mengalir itu.

Dia masih terdiam membisu, tak kuasa melihat laki-laki yang amat dikasihinya berjalan menjauh meninggalkannya.

Kembali terngiang percakapan terakhir diantara dia dan laki-laki itu. Laki-laki yang hadir sebagai satu-satunya orang saat patah hatinya ditinggal kekasih terindah, ayahnya.

Laki-laki yang dengan sabar mendengar segala luapan isi hati tentang ketidakterimaannya terhadap cara semesta yang amat menyakitkan itu.

Laki-laki yang menjadi sasaran pukulan atas amarah tak jelasnya. Laki-laki yang masih ada di sampingnya saat ia ingin mengasingkan diri menemukan ketenangan di sebuah Gua Maria di belakang gereja paroki.

Tarian Caci Perlu Dilestarikan Turun-temurun

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved