BMKG dan su-re.co Bantu Petani Kembangkan Kopi dan Kakao Bajawa

BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang dan PT Sustainability Resilience (su-re.co) berkolaborasi membantu petani mengembangkan Kopi dan Kakao Bajawa

BMKG dan su-re.co Bantu Petani Kembangkan Kopi dan Kakao Bajawa
POS-KUPANG.COM/ LAUS MARKUS GOTI
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Lasiana Kupang bersama para peserta SLI di Kantor BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang, Rabu (2662019). 

"Sebagaimana kita ketahui Kopi Bajawa ini sudah terkenal bahkan ke luar negeri, jadi kita perlu menjaga produktivitasnya. Jadi dengan adanya SLI ini kita antisipasi kemungkinan cuaca ekstrim yang bisa mempengaruhi hasil Kopi bisa dihindari," tambahnya.

Albert, Direktur Koperasi Sekunder Arabika Bajawa, peserta dalam SLI tersebut mengungkap, cuaca dan iklim yang tidak menentu itu pastinya sangat berpengaruh terhadap mutu kopi dan kemudian dapat menyebabkan anomali harga.

"Makanya itu juga berpengaruh terhadap pendapatan petani. Misalnya jika akan terjadi hujan lebat, karena pengetahuna pengertian rendah mereka tidak bisa mengantisipansi untuk masa panen, dan penjemuran. Oleh karena itu bisa saja gagal panen atau kualitasnya rendah," ujarnya.

Ia menjelaskan, Lapmas Ngada awalnya dibentuk untuk memberikan advokasi kepada masyarakat terkait status lahan di kawasan konservasi.

Namun sejak tahun 2008 dukungan LAPMAS difokuskan kepada pengembangan rantai produksi petani melalui sekolah lapangan dan peningkatan mutu paska panen. Kopi produksi petani binaan LAPMAS dipasarkan melalui Koperasi Sekunder Arabika Flores Bajawa.

Kopi Pait Colol Manggarai Timur Mulai Beredar di Labuan Bajo, Manggarai Barat-NTT

Takeshi Takama, CEO dari su-re.co, menyebut Su-re.co beserta SEI Asia melihat peluang yang sangat besar pada tanaman perkebunan komoditas ekspor Indonesia, antara lain kopi dan kakao, sehingga, bekerja sama dengan BMKG. Kemudian sejak tahun 2018 di Jembrana, Bali, dilakukan proyek pilot SLI Kopi Kakao, yang diteruskan di Nusa Tenggara Timur.

“Dari pengalaman sebelumnya, sebagai peneliti pengembangan masyarakat dan perubahan iklim, saya berkali-kali melihat pelatihan masyarakat yang berakhir begitu saja setelah acara selesai. Pelatihan petani tidak bisa berjalan sendiri, harus ada yang membeli produk yang dihasilkan petani tersebut. Su-re.co memberikan bantuan pemasaran kepada petani yang berkontribusi untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim melalui green business kami su-re.coffee yang dipasarkan di Bali, Eropa, Jepang dan Amerika.” Jelasnya.

Ia mengatakan tidak hanya pelatihan, su-re.co, sebagai salah satu penyelenggara SLI Kopi menekankan pentingnya usaha pengembangan petani agar dihubungkan dengan pasar yang akan membeli produk hasil pertanian.

Proyek SLI Kopi Kakao, kata dia, akan terus berjalan selama tahun 2019 di Bali dan Nusa Tenggara Timur selama periode Juni hingga September 2019.

Ia berharap program ini akan diadopsi sebagai program nasional dan diimplementasikan ke berbagai komoditas lainnya. Maka dari itu, dibutuhkan sinergi dan kolaborasi dari pihak peneliti, pemerintah dan industry untuk mendukung perkembangan Indonesia ke arah Climate Smart Agriculture.(*)

Penulis: Laus Markus Goti
Editor: Adiana Ahmad
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved