Headline Pos Kupang Hari Ini

EKSKLUSIF! Tenun Ikat NTT jadi Jaminan Kredit Pegadaian

Warga yang mau menggadaikan tenun ikat cukup membawa bukti identitas diri berupa KTP atau SIM atau passpor

EKSKLUSIF! Tenun Ikat NTT jadi Jaminan Kredit Pegadaian
POS KUPANG.COM/YENNI RACHMAWATY
Pegawai Kantor Pegadaian Cabang Kupang memperlihatkan barang jaminan berupa tenun ikat, Kamis (23/5/2019). 

Penenun lainnya, Tinggi Hamu (65) mengatakan, pinjaman dana dengan jaminan kain tenun sangat bagus. Hal itu dapat membantu masyarakat yang membutuhkan dana.

Penenun di Kabupaten Sikka
Penenun di Kabupaten Sikka (NET)

Penenun asal Desa Botof, Kecamatan Insana Kabupaten Timor Tengah Utara, Gradiana Faotlo senang dengan kebijakan inovasi dari Kantor Pegadaian. Menurut Gradiana dengan adanya kebijakan itu dapat membantu masyarakat dan para penenun, manakala mengalami kesulitan keuangan.

"Sebagai masyarakat kami sangat senang, karena nanti ketika kami butuh uang, maka hasil karya kami bisa dijadikan sebagai barang jaminan, setelah itu baru ditebus," ujar Gradiana.

Mau Cari Handphone Baru Harga Terjangkau? Ini Deretan Handphone Canggih dengan Harga 5 Jutaan

"Uang pinjaman dari Pegadaian itu nantinya bisa dijadikan sebagai modal untuk menenun. Karena bagaimanapun untuk menenun, para penenun membutuhkan modal yang tidak sedikit," tambahnya.

Gradiana yang juga bekerja sebagai guru ini mengharapkan, pihak Pegadaian dapat menentukan standar hasil tenunan yang nantinya dapat dijadikan sebagai barang jaminan. Dengan standar yang ditentukan oleh Pegadaian maka para penenun dapat mengikutinya.

Penenun di Desa Nita Kabupaten Sikka
Penenun di Desa Nita Kabupaten Sikka (KOMPAS/DANU KUSWORO)

"Supaya kita bisa ikuti standar yang mereka tentukan, misalnya ukuran lainnya seperti apa sehingga kita bisa ikuti kriteria yang mereka tentukan," ujarnya.

Menurutnya, para penenun, dalam menenun memiliki model, design sendiri, serta bahan yang biasanya digunakan berbeda-beda. "Jangan sampai bahan yang kita buat dengan proses waktu yang lama dinilai kurang memuaskan oleh pihak pegadaian, yang berdampak pada kualitas hasil tenunan," imbuh Gradiana.

Dia juga meminta agar harga yang ditentukan sebagai barang jaminan lebih berbeda dari harga pasar, sehingga dapat membantu para penenun.

Renungan Harian Katolik, Jumat 24 Mei 2019:Kasih dan Pengorbanan

"Pegadaian itukan perusahaan milik negara, supaya harga bisa lebih tinggi dari harga pasar. Selama ini harga pasar lebih rendah dan cukup mengecewakan penenun," katanya.

Gradiana mengharapkan pihak Pegadaian mempertimbangkan biaya produksi, dan biaya jeri lelah para penenun sehingga dapat menentukan harga yang menguntungkan kedua belah pihak.

Harga Pantas

Wakil Ketua DPRD Provinsi NTT, Alex Take Ofong, S.Fil mengatakan, tenun ikat NTT aset ekonomi masyarakat. Warga bisa menggadaikan dan pihak pegadaian mau menerimanya.

Alex Ofong
Alex Ofong (POS KUPANG.COM/TOMY MBUNGA NULANGI)

"Ketika pegadaian mau menerima sarung atau tenun ikat yang digadai masyarakat, maka di situ akan muncul nilai ekonomi. Jadi, dengan menggadai hasil tenunan, itu artinya mereka sadar tentang nilai atau manfaat tenun ikat," kata Alex ketika dimintai tanggapannya, Kamis kemarin.

Politisi Partai NasDem ini menjelaskan, ketika masyarakat menggadai tenun ikat dengan harapan mendapat dana/uang. Hanya saja, lanjut Alex, fenomena itu juga memberi pesan belum didesain secara benar untuk mendatangkan keuntungan dan meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan masayarakat.

Demi Mencerdaskan Anak di Pulau Sumba, FPPS Gelar Rapat Koordinasi, Ini Loh Temanya!

"Karena itu, DPRD NTT mendorong pemerintah baik provinsi maupun kabupaten/kota untukk memanfaatkan peluang ini dengan kebijakan yang tepat," katanya.

Lembaga-lembaga keuangan diminta untuk bersama pemerintah memanfaatkan peluang ini secara kreatif. "Kita terus mendorong kiat baik pemerintah ini, sambil tetap memotivasi masyarakat agar melestarikan tenun ikat serta menjadikannya sebagai aset ekonomi yang menjanjikan," imbuhnya.

Ketua Komisi V DPRD NTT, Jimmi WB. Sianto, SE, MM mengharapkan Pemerintah Provinsi NTT memperhatikan usaha tenun ikat yang digeluti oleh masyarakat.

Jimmi Sianto
Jimmi Sianto (ISTIMEWA)

Perhatian dimaksud lebih pada peningkatan kualitas tenun ikat. Menurutnya, potensi tenun ikat di NTT sangat banyak untuk dikembangkan. Apalagi memiliki beragam motif masing-masing daerah.

"Karena itu, saya minta pemerintah baik provinsi, kabupaten dan kota agar perhatikan secara serius kelompok-kelompok tenun ijat yang ada di setiap daerah. Di Kota Kupang sendiri kita dengar ada kampung tenun ikat, tapi itu juga belum mendapat perhatian serius," kata Jimmi.

Jimmi yang juga merupakan salah satu pencinta tenun ikat ini menjelaskan, untuk meningkatkan usaha para penenun maka pemerintah perlu juga melakukan pendampingan.

Jimmi Sianto Sebut Dirinya Pecinta Tenun Ikat NTT

"Saya lihat masih ada kendala, yakni soal kualitas tenun ikat, seperti masih ada yang luntur dan lain sebagainya. Jika pemerintah mau kembangkan tenun ikat, maka yang diperhatikan juga adalah mutu/kualitas tenun ikat" katanya.

Mengenai tenun ikat yang digadai, Jimmi mengatakan, kondisi itu juga merupakan salah satu persoalan, meski dari sisi lain bahwa pegadaian mau menerima barang tersebut sebagai jaminan dan masyarakat mendapat dana.

"Tapi ini juga bisa terkesan bahwa pasaran tenun ikat yang belum mampu menerima hasil tenunan masyarakat. Bisa juga karena mutu tenun ikat sehingga kalah bersaing. Karena itu, sekali lagi saya minta ini harus jadi perhatian pemerintah daerah," ujarnya.

Penaksir Kompeten

Ketua Program Studi Tenun Ikat Fakultas Sains dan Teknik Undana Kupang, Arie Kale Manu, ST, MT menyabut baik inovasi Pegadaian yang menjadikan tenun ikat sebagai jaminan.

Arie Kale Manu
Arie Kale Manu (POS-KUPANG.COM/GECIO VIANA)

"Saya sangat mendukung inovasi tersebut. Di samping mendukung program pemerintah, inovasi ini juga mendukung nilai budaya dan tentunya mendukung ekonomi masyarakat. Melalui inovasi tersebut dapat membuat masyarakat lebih menghargai tenun ikat karena tenun ikat akan memiliki nilai ekonomis tinggi sebab bisa digadaikan," kata Arie Kale.

Namun demikian, lanjutnya, pihak Pegadaian harus mengakomodir semua tenun ikat di NTT dan memiliki penaksir tenun ikat yang berkompeten. Sama seperti emas yang biasanya digadaikan masyarakat, ada penaksir yang berkompeten untuk memperkirakan kandungan karat dari emas tersebut.

Wah! Nama Jimin BTS Ternyata Sering Disebut dalam Dialog di Beberapa Film Korea Ternama Ini

"Jadi harus ada penaksir yang tahu tentang kualitas kain, warna, motif dari kain tenun. Itu penting sehingga diberikan harga yang pantas. Jika hal tersebut tidak dilakukan, saya mengkhawatirkan akan terjadi kecemburuan sosial karena hanya beberapa tenun ikat yang diakomodir dan harga dari tenun ikat yang dirasa tidak menguntungkan masyarakat," ujarnya.

Apabila perajin tenun ingin meningkatkan nilai jual dari tenun ikat maka harus berinovasi baik dari segi bahan dan motif tenun ikat.

Suasana Toko Komodo sewaktu penenun menyerahkan tenun ikat.
Suasana Toko Komodo sewaktu penenun menyerahkan tenun ikat. (DOK POS KUPANG.COM)

Arie Kale mengungkapkan, saat ini pihaknya mengembangkan dua jenis tenun ikat, yakni tenun ikat dengan inovasi terbaru yang memiliki kain halus dan ringan serta tenun ikat tradisional yang cukup berat saat dikenakan.

Jadi kami tetap kembangkan keduanya. Dan, motifnya kami pakai juga motif yang inovasi sehingga bisa digunakan oleh anak muda.

"Saya menilai perkembangan tenun ikat semakin maju. Hal tersebut dapat dilihat dari tenun ikat yang sering digunakan dalam acara formal maupun non formal," katanya.

Apalagi dengan program pemerintah yang mendukung dan mengkampanyekan tenun ikat saya pikir perkembangan tenun ikat akan semakin baik. Hal yang membuat tenun ikat semakin mahal harganya adalah bahan tenun ikat dan motifnya.

Ambulans Partai Gerindra Penuh dengan Batu saat Aksi 22 Mei, Kok Bisa? Ini Pengakuan Sang Sopir

Amien Rais Bawa Buku People Power saat Datangi Polda Metro Jaya, Berlanjut Usai Salat Jumat

Dia mencontohkan tenun ikat dari Sumba berbahan kapas yang dipintal dan pewarnaan pun menggunakan bahan-bahan alami serta proses pembuatannya mendetail.

Dari segi harga, kata Arie Kale, tenun ikat dari wilayah Sumba memiliki harga yang cukup tinggi berkisar Rp 8 juta sampai Rp 25 juta. Sedangkan harga tenun ikat dari daerah lainnya di NTT berkisar Rp 1 juta hingga Rp 4 juta.

"Mungkin agak lebih mahal motif Insana, Kabupaten TTU karena teknik tenun yang mendetail dan unik serta warna yang banyak disukai pembeli," ujar Arie Kale. (yenrom/rob/mm/yel/ii)

Penulis: Yeni Rachmawati
Editor: Alfons Nedabang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved