Breaking News:

Opini Pos Kupang

Opini Pos Kupang 14 Mei 2019 : People Power atau Pester Power

Realitas sosial diisi hiruk pikuk suara dan argumentasi narasi politik people power sebagai jalan akhir dari sebuah penentuan tonggak estafet bangsa.

Editor: Ferry Jahang
KOMPAS.com/ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA
Foto dirilis Kamis (21/3/2019), memperlihatkan pekerja melakukan pelipatan kertas suara pilpres di Gudang KPU, Cibinong, Bogor, Jawa Barat. 

Kedua, terjadinya instabilitas politik (konflik ideologi negara atau perselisihan antar aktor politik) yang berujung pada terjadinya kelangkaan barang dan jasa hingga krisis ekonomi.

Ketiga, gagalnya sistem tata kelola negara yang mengarah terjadinya ketidakadilan secara meluas pada aspek penegakan hukum dan pembagian sumber-sumber ekonomi.

Jika salah satu prasyarat telah terpenuhi, maka sudah tentu people power dalam bentuk revolusi dapat terjadi dan memiliki legitimasi sosial yang kuat.

Juga mendapatkan dukungan publik yang luas dan merata di wilayah hukum negara tersebut.

Lantas bagaimana dengan kondisi Indonesia saat ini, apakah ketiga prasyarat tersebut saat ini sedang terjadi?

Jika ketiga prasyarat utama tersebut tidak terjadi, maka kita patut bertanya, revolusi tersebut merupakan bentuk people power atau pester power?

Pester Power sebagai Musuh Demokrasi

Jika people power dimaknai sebagai kekuatan rakyat guna mendukung proses demokratisasi di suatu negara, maka pester power dimaknai sebagai kekuatan pengganggu layaknya hama di sebuah lahan pertanian yang subur.

Tujuan politiknya untuk memberangus sebuah proses demokratisasi.

People power memiliki legitimasi sosial dan hukum dengan dasar argumentasi rasionalitas sebagai nilai utamanya.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved