Berita Cerpen

Cerpen Erwin Pitang: Kado Imamat

"Pergilah, Nak. Kelak ketika matahari kebanggaanmu mesti terbenam di atas atap yang menguzur oleh kehendak waktu.

Cerpen Erwin Pitang: Kado Imamat
ilustrasi
Kado Imamat 

POS-KUPANG.COM|KUPANG - "Pergilah, Nak. Kelak ketika matahari kebanggaanmu mesti terbenam di atas atap yang menguzur oleh kehendak waktu, saat itu pula harapan yang kau tabur dalam ladang hati ketika musim menuai berada di ujung kelana mesti kau tanggalkan bersama kepergian langit sore yang tak mungkin menghadirkan bintang bagimu selepas hadirnya malam. Citamu tersamar di ujung petuah ayahmu."

SEBUAH pesan singkat dari bunda menghampiri kuping kecilku kala aku memutuskan diri meninggalkan keluarga dengan segala keadaannya.

Atas ijin bapak yang samar-samar dan restu bunda yang tulus, aku mencoba mengungkapkan harapan bahwa aku telah mencintai sebuah kehidupan baru.

Guru Yaswari Ikut Seleksi Calon Kepala Sekolah, Ini Yang Dilakukan

Kehidupan yang aku maksudkan adalah hidup sebagai biarawan. Benih panggilanku sebenarnya telah tumbuh pada tumpukkan hasrat yang menggebuh saat jiwa ini masih terlalu dini tuk berkelana.

Namun, benih-benih itu masih terhimpit pada samudra ketakutan yang membuncah. Aku menyadari bahwa setiap benih itu mesti membutuhkan cahaya keberanian yang menuntun proses pertumbuhannya.

Keinginan itu sudah kuutarakan setahun yang lalu kala si jago tak mampu lagi mengumandangkan keperkasaan di antara dunia yang kian kaku bercerita dan ayah-ayah belum lengah melantunkan dongeng ke telinga anak mereka.

Suatu waktu, ketika air mata bunda tak mampu mengungkapkan kesepian karena harus merelakan aku pergi dan tangan lembutnya menandai dahiku menjadi berkat terakhir di keningku, aku melangkah meninggalkan rumah dengan jejak-jejak yang masih menceritakan kerinduan.

Di balik pintu rumah ayah menatapku dengan mata yang tak biasa setelah menggoreskan tanda salib pada keningku. Ini adalah sebuah keyakinan bahwa seorang anak menjadi pria sejati atas berkat ayahnya tetapi hari-hari hidupnya akan dilenyapkan melalui kutukan jika tak menghargai bundanya.

Semuanya kuterima bukan karena kewajiban tetapi percaya akan kata-kata yang mungkin menciptakan badai melalui setiap doa dan air mata.

Air mata bisa menjadi lautan yang mengancam bahtera hidupku. Di mata ayah yang sedang berbicara tentang sebuah harapan, seperti ada cerita yang mungkin lupa dikisahkan.

Halaman
1234
Editor: Apolonia Matilde
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved