Berita Cerpen
Cerpen Erwin Pitang: Kado Imamat
"Pergilah, Nak. Kelak ketika matahari kebanggaanmu mesti terbenam di atas atap yang menguzur oleh kehendak waktu.
Aku sudah lelah mencari jawaban atas pesan misteri yang belum juga kurangkai menjadi sebuah kenyataan. Sementara dari atas bukit, bola mataku menangkap suasana yang tak seperti biasanya. Dari kejauhan aku melihat beberapa tetuah adat melintas di dekat rumahku.
Mungkin keluarga merencanakan sesuatu karena aku berhasil menyelesaikan pendidikanku ini dengan baik. Sebagai sebuah bentuk ucapan syukur atas dukungan yang selama ini telah menuntun aku sampai ke puncak perjuanganku.
Hati kecilku berguman dalam kebahagiaan yang terpendam. Lalu sebuah nafas kuhembuskan sebagai perpisahan atas senja yang telah menemaniku sedari tadi. Aku bergegas ke rumah untuk mengetahui apa sebenarnya yang akan terjadi.
Malam. Tak ada satu suara pun yang menggemah dalam kebersamaan itu setelah beberapa tetuah adat bergantian melakukan ritual adat yang telah menjadi tradisi di suku kami.
Aku sungguh bersyukur karena beberapa nasihat dari mereka telah memberi kekuatan dan kebahagiaan bagiku kala ada pujian yang terbit memuja dari bibir mereka yang tulus.
Namun kerinduan atas petuah ayah adalah penantianku sedari kedatanganku. Sedih hati ini berucap ketika tak ada kata pujian atau kebanggan yang ayah lantunkan untukku.
• Make Up Artist Ungkap Tingkah Reino Barack dan Syahrini di Belakang Kamera
Sedang ayah masih terdiam tanpa kata. Rautnya menciptakan kebingungan dalam diri yang tengah masih membutuhkan petuanya. Hembusan nafasnya pertanda ada kata-kata yang akan diutusnya dari peraduan hatinya untuk memuja, memuji atau menasihatiku pun bisa melukaiku.
Bunda tak menampakkan rautnya. Inilah kebiasanya jika ada ritual bunda selalu tidak dipedulikan. Padahal bunda sebagai sosok yang menghadirkan haruslah turut menjadi salah satu insan dari semua insan yang sedang berbahagia. Hari-hari hidupku bisa menjadi kebinasaan jika doa dan kutukannya menggemah ke peraduan sang Khalik.
Bunda, sebuah tawa bisa menjadi kebohongan jika ada kerinduan yang masih membujur pada sela-sela canda tawa. Kebahagiaanku belum sempurna jika raut bunda mesih disembunyikan dari kebersaama kami. Hati kecilku berguman. Pilu.
"Nak.. Ayah tak mampu melukis bahagia di atas kertas, sebab kata dari tinta hitam yang tertulis terkadang adalah dusta. Membohongi kebahagiaan dengan kata padahal kenyataanya adalah luka. Ibarat kata senyum adalah cara melukai diri yang paling tenang. Terima kasih karena kesetiaan yang kau tunjukkan melalui peluh yang keluar dari setiap hembusan nafas yang kau perjuangkan. Namun, Keberhasilanmu kau raih di ujung usia ayah yang berada di ujung senja. Dan kamu tahu tak ada lagi orang yang bisa menggantikan posisi ayah. Darah dari ayah akan berhenti juga detik ini jika tak ada yang menggantikan ayah. Oleh karena itu, di tengah keberadaan tetuah adat ini, ayah mau menggantikan kamu menjadi kepala adat di suku kita. Hanya kaulah satu-satunya yang bisa mengantikan posisi ayah. Kau berhak untuk mewarisi darah itu."
Mendengar kata-kata ayah ini, darah ini serentak mendidih dan mata indah ini tak sanggup memandang ayah dengan hormat.
"Ayah. Elang laut selalu kembali ke sarangnya walaupun ia mengetahui bahwa kehidupan di dalam sarang adalah kegelapan. Di luar sarang, dia bebas melakukan apa saja sejauh ia mampu karena memang tak ada kerinduan dari kawanannya di sarang yang melarangnya pun menuntutnya untuk bahagia. Dan ketika kebebasannya dibatasi oleh waktu meskipun ia tahu bahwa kehidupan di sarang adalah kegelapan, kembali ke sarang adalah pilihannya. Namun hal itu tidaklah demikian terjadi dalam diriku. Untuk apa ayah berjuang mengorbankan tenaga, berjalan dari lorong ke lorong mencari nafkah, menjual malu menggadai keberanian hanya untuk aku yang pada akhirnya harus kembali untuk melanjutkan keturunan sebagai kepala adat?
Aku menguras tenaga menghabisi usia muda bukan untuk mencari kehormatan tetapi untuk tidak dibodohi dan tidak ingin hidup dalam kegelapan. Percuma aku bersekolah tetapi akhirnya aku harus kembali ke rumah dan menjadi orang yang terkungkung dalam sebuah dunia yang entah sampai kapan membuka ruang untuk mengikuti perubahan zaman. Sekali lagi aku katakan aku tidak ingin melanjutkan posisi ayah. Kalau laki-laki sulung yang tidak ingin menggantikan posisi ayahnya dalam adat adalah kejahatan maka aku akan berusaha menjadi penjahat. Menjadi bagian dalam suku dan adat adalah penghormatanku kepada para leluhur yang telah mewarisi tradisi ini."
• PAN dan Demokrat Diam soal Usul Pembentukan Pansus Pemilu 2019 Saat Rapat Paripurna
Belum selesai kuutarakan niat hatiku, sebuah pukulan keras mengenai kepalaku. Aku terjatuh dan terkapar pada pelukan bunda yang secara tiba-tiba ada di sekitar kami ketika mendengar pertengkaran itu. Kepalaku terasa berat dan mataku samar-samar memandang sekelilingnya. Ayah tak henti-hentinya melancarkan kekejamannya karena kata-kataku telah menodahi martabatnya sebagai kepala adat. Apalagi di hadapan para tetuah adat. Aku tak berdaya. Lemah. Pesan bunda saat pertama aku meninggalkan mereka baru bisa aku pahami setelah pukulan itu. Semua tentang masa depanku yang ditentukan oleh adat.
"Ayah, engkau yang menciptakan nafas bagi hidupku. Engkau yang menghadirkan aku sehingga bisa menatap dunia dan memahami maksud aku dilahirkan. Semuanya karena ayah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/kado-imamat.jpg)