Ustadz Yusuf Mansur
Ustadz Yusuf Mansur Kerap Dihina, Putri Bungsunya Aisah Bela Sang Ayah, Semoga Masuk Syurga!
Terbaru, ketika Ustadz Yusuf Mansur mengunggah video putri bungsunya, Aisyah Humairoh Hafidzoh Mansur, yang sedang makan.
Penulis: Hasyim Ashari | Editor: Hasyim Ashari
Ustadz Yusuf Mansur memiliki lima orang anak.
Terdiri dari tiga perempuan dan dua laki-laki.
Mengutip Idntimes.com Nama-nama mereka kental dengan nuansa Islami.
Siapa saja dan apa arti nama lima buah hati Ustadz Yusuf Mansur ini?
Putri sulung Ustadz Yusuf Mansur yang juga seorang selebgram ini sukses mencuri perhatian karena parasnya nan manis serta gayanya yang kekinian.
Namanya yang anggun ternyata tersimpan makna nan indah.
Wirda dalam bahasa Jerman berarti 'sang penjaga'.
Salamah merupakan kosakata bahasa Arab yang bermakna 'mampu, dapat dipercaya dan diandalkan'.
Dalam bahasa Islami, Ulya memiliki makna 'lebih tinggi atau paling tinggi'.
Terakhir, disematkan nama belakang sang ayah, Mansur, yang bermakna 'kekal' atau 'yang dimenangkan'.
2. Qumii Rahmatal Qulub Mansur
Nuansa Islami terasa kental sekali dalam nama putri kedua Ustadz Yusuf Mansur.
Nama Qumii dan Rahmatal diambil dari bahasa Arab yang bermakna 'blessing (berkah dari Tuhan)'.
Sedangkan kata Qulub merupakan kosakata bahasa Arab untuk 'hati' atau 'kalbu'.
Sama seperti sang kakak, disematkan pula nama belakang Mansur untuk melengkapi namanya.
3. Muhammad Kunn Syafii Mansur
Jadi sosok panutan bagi umat muslim, Ustadz Yusuf Mansur menyematkan nama Nabi Muhammad untuk putranya.
Kata Kunn kemungkinan diambil dari frasa Kun Fayakun, yang artinya 'jadilah'.
Kata ini menunjukkan kekuasaan Tuhan sebagai Yang Maha Pencipta.
Nama Syafii kemungkinan diambil dari salah satu sosok penulis serta cendikiawan yang masih berkerabat dengan Rasulullah, Imam Syafi'i.
Digunakan pula nama belakang Mansur untuk melengkapi namanya.
4. Muhammad Yusuf Al Haafidz Mansur
Sama seperti kakaknya, putra Ustadz Yusuf Mansur ini juga diberikan nama awalan Muhammad.
Diberikan pula nama Yusuf, salah satu tokoh nabi dalam Islam yang dikenal memiliki ketampanan luar biasa.
Dalam bahasa Islami, Hafidz memiliki makna 'penjaga'.
Kata ini juga biasa digunakan untuk menyebut seorang penghafal Al-Quran.
Sedangkan nama Mansur merupakan nama belakang sang ayah.
5. Aisyah Humairoh Hafidzoh Mansur
Terakhir, ada Aisyah Humairoh Hafidzoh Mansur.
Nama Aisyah memiliki banyak arti dalam berbagai bahaya, seperti 'kehidupan' (Arab) dan 'gadis cantik' (Indonesia).
Aisyah juga merupakan sosok istri dari Nabi Muhammad SAW.
Dalam bahasa Arab, Humairoh bermakna 'merona', sedangkan Hafidzoh merupakan bentuk feminin dari Hafidz (penjaga).
Terakhir, disematkan nama Mansur yang merupakan nama belakang sang ayah.
Mengenal Ustadz Yusuf Mansur
Mengutip Wikipedia, Yusuf Mansur atau Jam'an Nurkhatib Mansur (lahir di Jakarta, 19 Desember 1976; umur 42 tahun) adalah seorang tokoh pendakwah, penulis buku dan pengusaha dari Betawi.
Ia juga pimpinan dari pondok pesantren Daarul Quran Ketapang, Cipondoh, Cikarang Tangerang dan pengajian Wisata Hati.
Terlahir dengan nama Jam'an Nurkhatib Mansur.
Ia lahir dari keluarga Betawi berkecukupan pasangan Abdurrahman Mimbar dan Humrifíah.
Ia anak yang sangat dimanja orangtuanya.
Sejak kecil, ia anak yang cerdas dan itu tampak dari kemampuannya menangkap pelajaran di
Madrasah Ibtidaiyah Chairiyah Mansuriyah Jembatan Lima, Tambora Jakarta Barat.
(Didirikan oleh kakek buyutnya, K.H. Muhammad Mansur, yang dikenal dengan panggilan Guru
Mansur. Belakangan madrasah tersebut dikelola kakak orangtuanya, K.H. Ahmadi Muhammad.
Yusuf Mansur memanggilnya Ayah Mamat).
Sejak usia 9 tahun, kelas 4 MI (Madrasah Ibtidaiyah), ia sering tampil di atas mimbar untuk
berpidato pada acara Ihtifal Madrasah yang diselenggarakan setiap tahun menjelang Ramadan.
Saat tamat MI, ia kemudian melanjutkan ke MTs (Madrasah Tsanawiyah) Chairiyah Mansuriyah
yaitu lembaga pendidikan yang dikelola keluarganya, KH. Achmadi Muhammad.
Saat itu, Yusuf Mansur adalah siswa paling muda dibandingkan dengan teman-temannya yang
lain.
Ia pun lulus dari MTs. Chairiyah Mansuriyah tahun pada tahun 1988/1989 sebagai siswa terbaik
di usia 14 tahun.
Lulus dari MTs. Chairiyah Mansuriyah, ia kemudian melanjutkan ke Madrasah Aliyah Negeri 1
Grogol sebagai lulusan terbaik.
Lulusan Madrasah Aliyah Negeri 1 Grogol, Jakarta Barat, tahun 1992 ini pernah kuliah di
Fakultas Hukum, Jurusan Syari'ah di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Hal ini tertuang dalam pengantar bukunya "Lukmanul Hakim Mencari Tuhan yang Hilang" yang
diungkap oleh Prof. Dr. H. Amin Suma, MA., M.H. Namun, berhenti tengah jalan karena lebih
suka balapan motor.
Kendati sudah menjadi tokoh Nasional yang cukup dikenal masyarakat Indonesia, Yusuf Mansur
tetap tawadhu dan ta'zhim terhadap guru-gurunya.
Baik guru-guru Ibtidaiyah maupun Tsanawiyah.
Hal ini terlihat dari caranya yang selalu mencium tangan mereka saat bertemu.
Acap kali ia menyempatkan diri mampir ke Madrasah tempat ia dibesarkan oleh guru-gurunya.
Di antara guru yang masih mengajar sampai saat ini antara lain:
Hasan Luthfy Attamimy, M.A., (sekarang Kepala MTs. Chairiyah Mansuriyah),
H.M. Naksabandi, S.Ag.,
Drs. Pramonohadi, Subagyo, S.Pd.,
Drs. H.M. Basuni, Abdun Najih, S.Pd.,
Halimatus Sa'diah, S,Pd.,
Drs. Syamsudin, M.Pd.,dan sebagiannya sudah wafat.
Pada tahun 1996, Ia terjun di bisnis informatika, sayang bisnisnya malah menyebabkan ia terlilit
hutang dan membuatnya masuk rumah tahanan selama 2 bulan, dan hal serupa kembali terulang
pada tahun 1998.
Saat di penjara itulah, ia menemukan hikmah tentang sedekah.
Selepas dari penjara, ia mencoba memulai usaha dari nol lagi dengan berjualan es di terminal
Kali Deres.
Berkat kesabaran dan keikhlasan sedekah pula akhirnya bisnisnya mulai berkembang dari semula
berjualan dengan termos, lalu gerobak sampai kemudian memiliki pegawai.
Hidup Yusuf Mansyur mulai berubah saat ia berkenalan dengan seorang polisi yang
memperkenalkannya dengan LSM.
Selama bekerja di LSM itulah, ia membuat buku Wisata Hati Mencari Tuhan Yang Hilang.
Buku yang terinspirasi oleh pengalamannya sewaktu di penjara saat rindu dengan orang tua.
Tak dinyana, buku itu mendapat sambutan yang luar biasa.
Yusuf Mansur sering diundang untuk bedah buku tersebut.
Dari sini, undangan untuk berceramah mulai menghampirinya.
Di banyak ceramahnya, ia selalu menekankan makna di balik sedekah dengan memberi contoh-contoh kisah kehidupan nyata.
Gaya bicaranya yang simpel dan apa adanya saat berdakwah membuat isi ceramah mudah dicerna
dan digemari masyarakat.
Ia sekarang tengah menggeluti bisnis network yaitu VSI (Veretra Sentosa Internasional).
Yusuf Mansur juga menggagas berdirinya Program Pembibitan Penghafal Al Quran (PPPA) yang
mencetak penghafal Qur'an melalui pendidikan gratis bagi para dhuafa yang ada di Pondok
Pesantren Daarul Qur'an Bulak Santri.
Alamatnya di Jl. Ketapang Poncol, Ketapang, Cipondoh, Kota
Tangerang, Banten.
Dana dari program ini diambil dari sedekah jamaah Wisata Hati. (*)