Opini Pos Kupang
Opini Pos Kupang :Bisnis Prostitusi Daring dan Budaya Konsumtif
ILO dan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) memperkirakan saat ini terdapat sekitar 140.000 -230.000 perempuan yang bekerja di industri seks di Indonesia
Secara demikian, prostitusi bukan hanya bisa dilihat sebagai masalah moral dan etika semata, tetapi juga bisa dilihat sebagai masalah struktur ekonomi, budaya, sosial atau bahkan politik.
Boleh dibilang prostitusi sendiri sudah ada sejak dahulu kala. Bahkan, sementara kalangan menyebut aktivitas prostitusi sebagai salah satu mata pencaharian paling tua di dunia.
Dalam konteks ekonomi, bisnis seks di negeri ini sesungguhnya telah menjadi sebuah industri. Ia menjadi salah satu bagian dari roda ekonomi kita.
Sebuah kajian yang dilakukan Organisasi Buruh Dunia (ILO) beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa industri seks di Indonesia menyumbang sekitar 0,8-2,4 persen dari total produk domestik bruto (PDB).
ILO dan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) memperkirakan bahwa saat ini terdapat sekitar 140.000 -230.000 perempuan yang bekerja di industri seks di Indonesia.
Laporan ILO bertajuk "Sex Industry Assuming Massive Proportions in Southeast Asia" menyebut bahwa di samping adanya stigma dan bahaya yang mengancam,
bekerja menjadi pekerja seks komersial (PSK) menjadi pilihan yang paling mungkin untuk mendapat penghasilan yang lebih tinggi bagi para perempuan muda.
Meskipun lahan-lahan lokalisasi tempat prostitusi ditutup, tidak sedikit dari mereka yang terlibat dalam bisnis ini kemudian berupaya menyiasati keadaan bagaimana agar usaha mereka tetap bisa berjalan.
Urusan duit memang tidak pernah bisa dikompromikan. Apa pun risikonya, mereka mesti menjalankan usaha mereka, demi mendapatkan uang.
Menebalnya budaya konsumtif mungkin saja menjadi salah satu hal yang menggerakkan seseorang untuk terlibat dalam jaringan bisnis prostitusi.
Kita tahu, bagi banyak orang sekarang ini, kesenangan, kepuasan dan kebahagiaan hidup ditentukan oleh seberapa banyak barang yang dimiliki dan seberapa banyak barang yang dikonsumsi.
Kesuksesan orang kebanyakan diukur dengan uang dan harta yang dimilikinya. Dalam upaya memenuhi pencapaian tersebut, kencenderungan orang saat ini akhirnya berada pada dua pilihan saja: mencari uang dan menghabiskan uang.
Demi antara lain tuntutan gaya hidup, semakin banyak saja orang menempuh berbagai upaya demi mendapatkan uang lebih banyak. Salah satunya adalah dengan menjalankan bisnis prostitusi.
Kita sepakat, aktivitas prostitusi --yang disebut-sebut sebagai salah satu mata pencaharian paling tua di dunia ini --tidak boleh dibiarkan.
Selain bertentangan dengan hukum agama dan hukum negara kita, praktik prostitusi nyata-nyata menginjak-injak harkat, martabat dan derajat kemanusiaan, khususnya kaum perempuan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/kapolda-jatim-5-oknum-artis-terbukti-kuat-terlibat-jaringan-prostitusi-online.jpg)