Berita Puisi
Puisi: Ini Puisi-Puisi Edisi Minggu Pos Kupang Kali Ini
Puisi-Puisi Bruno Rey Pantola : Kukunyah sebatang doa, Sebelum tertelan di dalam dada. Aku didatangi para raja papah.
Penulis: PosKupang | Editor: Apolonia Matilde
Gayung Kesayangan
Pagi itu aku bangun lebih awal
Kendati mata masih sangat terpikat pada kantuk
Tak ingin menjumpai diriku semakin jatuh hati pada lelap
Aku pun bergegas menyeret setengah nyawa ini ke kamar mandi
Menerjang dingin air yang mengguyur dari gayung
Aku mandi sambil mendengarkan dendang piano bersahutan
Sedikit berisik memang
Semakin lama semakin keras
Hingga aku sadar, sedari tadi gigiku meronta ingin keluar
Ku nikmati alunan piano dengan hidangan bak kerajaan
Lengkap permaisuri-permaisuri yang menawan
Bergantian menjamuku, ada yang menyuapiku, memijat tengkukku, pun sekadar
bergelayut manja di lenganku
Tapi tunggu, Kenapa ada si Mbok yang ikut merayu?
"Le.. cepat keluar, si Mbok pengen pipis" kata si Mbok menggedor pintu
Astaga, Ku temui diriku tersandar
Sambil memeluk gayung kesayangan
Sandal Tanpa Jepit
Sandalku sayang, sandalku hilang
Jepitnya melayang, jiwaku meradang
Sandalku jepitnya hilang, sementara waktu layu begitu petang
Bagaimana aku bisa pulang?
"Maafkan aku Emak"
Lagi-lagi sandalku kehilangan jepitnya
Lagi-lagi cintaku kehabisan masa aktifnya
Pacarku hilang, kecantol orang
Tapi sandal jepit,
Kupakai enggan, ku buang sayang
Terlalu banyak kenangan yang sulit dilupakan
Ah, kenapa aku jadi galau begini
Akhirnya ku tenteng sandal tanpa jepit
Ku bawa pulang dan hendak ku hanyutkan
Pada sungai di pinggir jalan
Ternyata sungai itu, tempat kita menghabiskan waktu dulu
Sungai penawar rindu
Kini harus ku ucapkan selamat tinggal
Pada sandal juga pada pacar yang dibegal
Jepitmu jadi kenangan, cintaku akan kugantikan
Pil Pahit
Perbincanganku dengan sang kumbang di waktu siang
"Kamu begitu rupawan, hatimu dermawan, tapi kenapa kamu masih sendiri?"
Sontak air mataku berlinang'
Dadaku sesak, sakit bukan kepayang
Aku menelan pil sebagai penenang
Tapi pilnya terasa sangat pahit
Aku berpikir keras
Kenapa pil bisa sepahit ini?
Ku amati kemasan pil, mencari namamu
Barangkali pil ini terbuat dari kamu
Sumber segala kepahitan
Jawabanku lirih pada sang kumbang
Aku jatuh cinta pada orang yang salah"
(Devita Dwining Pangastuti, BTN Kolhua Blok R2 No.32 Kupang)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/doa.jpg)