Rabu, 15 April 2026

Berita Puisi

Puisi: Ini Puisi-Puisi Edisi Minggu Pos Kupang Kali Ini

Puisi-Puisi Bruno Rey Pantola : Kukunyah sebatang doa, Sebelum tertelan di dalam dada. Aku didatangi para raja papah.

Penulis: PosKupang | Editor: Apolonia Matilde
ILUSTRASI/BINCANG SARYAH
Doa 

Puisi-Puisi Bruno Rey Pantola
Doa (1)

Kukunyah sebatang doa
Sebelum tertelan di dalam dada
Aku didatangi para raja papah
Menyuguhiku sepasang mata

Untuk menoleh dan menatap
Senyum-senyum ringkih senyap
Di antara belukar duka pengap
Karuania Sang Cinta yang sedap

Sebelumnya aku lupa menutup pintu
Dan bumi menafkahi angin karu
Dari hasil taburanku sendiri pada ketandusan abu
Yang paling hina di antara tunggul para babu
(2019)

Doa 2

Sebelum kau akan pulang dari palung hatiku
Aku tunduk mendekap dadaku erat
Di antara air mata yang tak lagi menyentuh pipi
Merebahkan beningnya pada tanah yang dekil

Sabda yang terbuat dari gumpalan darah di dada
Menjelma darah di dalam mataku
Menatap langit yang terbelah memerah
Mengisahkan tubuhku yang berani menjadi manusia

Lalu kehidupan berjalar dari nadiku.
Kuraih satu per satu
Menyulutnya pada lampu yang belum sempurna
Menjadi penerang
Di dalam kelam yang berdebum.
"jangan enyah dari rapuhku"
Kataku di dalam
(2019)

Doa 3

Di antara perjalanan malam menuju pagi
Rapal-rapal puisi yang tak pernah kudengar
menjelma doa
Berdentang di atas puncak gereja
Angelus membawa pagi ke telingamu.
(2019)
(Bruno Rey Pantola, alumni Seminari Menengah St. Rafael Oepoi, Kupang).

Puisi-Puisi Devita Dwining Pangastuti
Dompet Juga Lapar

Aku adalah patung di tepi jalan
Memasung diri dari keramaian
Tak seorangpun mempedulikan
Padahal, pakaianku necis bak artis

Tapi bedanya, kulitku legam dimakan siang
Padahal rambutku klimis mirip Elvis
Tapi orang-orang memandangku sinis
Padahal mukaku juga manis, tak terlalu sadis

Tapi badanku kurus, kering, kerontang
Aduh..
Aku merasa ada yang bergerak-gerak dari dalam saku
Benar saja, itu suara perut dompetku

Kubiarkan ia berhari-hari kelaparan
Karena amplop coklatku belum punya majikan
Aku masih harus menyuruhnya sabar
Memenjara kata-kata kotor menyeruak keluar
Seperti :
"Jangkrik, cari kerja susah benar"

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved