Rabu, 22 April 2026

Berita Puisi

Puisi: Ini Puisi-Puisi Edisi Minggu Pos Kupang Kali Ini

Puisi-Puisi Bruno Rey Pantola : Kukunyah sebatang doa, Sebelum tertelan di dalam dada. Aku didatangi para raja papah.

Penulis: PosKupang | Editor: Apolonia Matilde
ILUSTRASI/BINCANG SARYAH
Doa 

Puisi-Puisi Bruno Rey Pantola
Doa (1)

Kukunyah sebatang doa
Sebelum tertelan di dalam dada
Aku didatangi para raja papah
Menyuguhiku sepasang mata

Untuk menoleh dan menatap
Senyum-senyum ringkih senyap
Di antara belukar duka pengap
Karuania Sang Cinta yang sedap

Sebelumnya aku lupa menutup pintu
Dan bumi menafkahi angin karu
Dari hasil taburanku sendiri pada ketandusan abu
Yang paling hina di antara tunggul para babu
(2019)

Doa 2

Sebelum kau akan pulang dari palung hatiku
Aku tunduk mendekap dadaku erat
Di antara air mata yang tak lagi menyentuh pipi
Merebahkan beningnya pada tanah yang dekil

Sabda yang terbuat dari gumpalan darah di dada
Menjelma darah di dalam mataku
Menatap langit yang terbelah memerah
Mengisahkan tubuhku yang berani menjadi manusia

Lalu kehidupan berjalar dari nadiku.
Kuraih satu per satu
Menyulutnya pada lampu yang belum sempurna
Menjadi penerang
Di dalam kelam yang berdebum.
"jangan enyah dari rapuhku"
Kataku di dalam
(2019)

Doa 3

Di antara perjalanan malam menuju pagi
Rapal-rapal puisi yang tak pernah kudengar
menjelma doa
Berdentang di atas puncak gereja
Angelus membawa pagi ke telingamu.
(2019)
(Bruno Rey Pantola, alumni Seminari Menengah St. Rafael Oepoi, Kupang).

Puisi-Puisi Devita Dwining Pangastuti
Dompet Juga Lapar

Aku adalah patung di tepi jalan
Memasung diri dari keramaian
Tak seorangpun mempedulikan
Padahal, pakaianku necis bak artis

Tapi bedanya, kulitku legam dimakan siang
Padahal rambutku klimis mirip Elvis
Tapi orang-orang memandangku sinis
Padahal mukaku juga manis, tak terlalu sadis

Tapi badanku kurus, kering, kerontang
Aduh..
Aku merasa ada yang bergerak-gerak dari dalam saku
Benar saja, itu suara perut dompetku

Kubiarkan ia berhari-hari kelaparan
Karena amplop coklatku belum punya majikan
Aku masih harus menyuruhnya sabar
Memenjara kata-kata kotor menyeruak keluar
Seperti :
"Jangkrik, cari kerja susah benar"

Gayung Kesayangan

Pagi itu aku bangun lebih awal
Kendati mata masih sangat terpikat pada kantuk
Tak ingin menjumpai diriku semakin jatuh hati pada lelap
Aku pun bergegas menyeret setengah nyawa ini ke kamar mandi

Menerjang dingin air yang mengguyur dari gayung
Aku mandi sambil mendengarkan dendang piano bersahutan
Sedikit berisik memang
Semakin lama semakin keras

Hingga aku sadar, sedari tadi gigiku meronta ingin keluar
Ku nikmati alunan piano dengan hidangan bak kerajaan
Lengkap permaisuri-permaisuri yang menawan
Bergantian menjamuku, ada yang menyuapiku, memijat tengkukku, pun sekadar
bergelayut manja di lenganku
Tapi tunggu, Kenapa ada si Mbok yang ikut merayu?
"Le.. cepat keluar, si Mbok pengen pipis" kata si Mbok menggedor pintu
Astaga, Ku temui diriku tersandar
Sambil memeluk gayung kesayangan

Sandal Tanpa Jepit

Sandalku sayang, sandalku hilang
Jepitnya melayang, jiwaku meradang
Sandalku jepitnya hilang, sementara waktu layu begitu petang
Bagaimana aku bisa pulang?
"Maafkan aku Emak"
Lagi-lagi sandalku kehilangan jepitnya
Lagi-lagi cintaku kehabisan masa aktifnya
Pacarku hilang, kecantol orang
Tapi sandal jepit,
Kupakai enggan, ku buang sayang
Terlalu banyak kenangan yang sulit dilupakan
Ah, kenapa aku jadi galau begini
Akhirnya ku tenteng sandal tanpa jepit
Ku bawa pulang dan hendak ku hanyutkan
Pada sungai di pinggir jalan
Ternyata sungai itu, tempat kita menghabiskan waktu dulu
Sungai penawar rindu
Kini harus ku ucapkan selamat tinggal
Pada sandal juga pada pacar yang dibegal
Jepitmu jadi kenangan, cintaku akan kugantikan

Pil Pahit

Perbincanganku dengan sang kumbang di waktu siang
"Kamu begitu rupawan, hatimu dermawan, tapi kenapa kamu masih sendiri?"
Sontak air mataku berlinang'
Dadaku sesak, sakit bukan kepayang

Aku menelan pil sebagai penenang
Tapi pilnya terasa sangat pahit
Aku berpikir keras
Kenapa pil bisa sepahit ini?

Ku amati kemasan pil, mencari namamu
Barangkali pil ini terbuat dari kamu
Sumber segala kepahitan
Jawabanku lirih pada sang kumbang
Aku jatuh cinta pada orang yang salah"

(Devita Dwining Pangastuti, BTN Kolhua Blok R2 No.32 Kupang)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved