Opini Pos Kupang
Festival Toilet dan Sistematisasi Penanganan Sampah di Kota Kotor
Ide tentang festival toilet Gubernur NTT Viktor B Laiskodat perlu diapresiasi dan didukung oleh masyarakat NTT
Festival Toilet dan Sistematisasi Penanganan Sampah di Kota Kotor
Oleh : Egis Radamasri, SS, MKM
Dosen di STIKES St. Paulus Ruteng
DINOBATKAN sebagai kota kategori sedang dan kecil terkotor di Indonesia membuat Kupang, Ruteng, Bajawa, dan Waikabubak pun mulai berbenah.
Tak kurang dari Gubernur NTT (Kompas.com, 19/1/2018), Bupati dan Wakil Bupati di Kabupaten Manggarai (Kompas.com, 25/12018) turun ke jalan mengangkat sapu lidi dan bersama sejumlah elemen masyarakat melakukan aksi bersih-bersih sampah di jalan-jalan kota Kupang dan Ruteng.
Aksi ini patut diberi apresiasi positif sebagai tanggap balik terhadap klaim Kementerian Lingkungan Hidup yang menunjuk Kupang dan Ruteng sebagai kota kotor.
Namun demikian, tentu tidak sampai sebatas aksi bakti sosial semata-mata. Merujuk kepada standar penilaian kota terkotor, maka perhatian yang paling penting diberikan adalah penanganan fisik sampah dan pengelolaan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.
Hal-hal ini tidak sekadar dilakukan sebagai bakti sosial, tetapi harus dilakukan secara sistematis, terperinci, dan kontinu dengan alur pelaksanaan yang jelas mulai dari hulu (sampah rumah tangga) sampai dengan hilir (TPA sampah).
Hal-hal inilah yang masih sangat kurang diimplementasikan di kota Kupang, Ruteng, Bajawa, dan Waingapu.
Merujuk kembali kepada kriteria penilaian kota bersih menurut Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun KLHK, kota-kota dinyatakan terkotor karena melakukan pembuangan sampah secara terbuka.
Selain itu tidak mempunyai kebijakan dan strategi pengelolaan sampah, partisipasi masyarakatnya rendah,serta tidak berkomitmen dan tidak menyediakan anggaran yang cukup untuk mengelola sampah di wilayah kota bersangkutan (www.antaranews.com, 14/1/2019).
Berkaca ke DKI Jakarta
DKI memiliki 10 juta penduduk di malam hari dan 13 juta di siang hari, dengan kepadatan kendaraan yang super, lalulalang manusia yang sumpek, kegiatan bisnis yang bising, perkantoran dan rumah penduduk yang sekian padat, air sungai yang hitam, udara yang dicemari asap berbagai pabrik dan kendaraan bermotor, tetapi Jakarta tetap diberi predikat kota yang bersih.
Mengapa?
Karena di setiap rumah tangga disiapkan tempat sampah entah berupa karung, coran semen, atau pun kantongan plastik dan ditaruh di depan rumah setiaphari.
Para petugas sampah setiap hari mengambil sampah dengan gerobak lalu menghantarnya ke bank sampah tingkat RT/RW untuk dipilah dan diklasifikasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/gubernur-laiskodat.jpg)