Breaking News

Opini Pos Kupang

Menuju NTT Provinsi Literasi

Dalam buku itu, Pater Dami telah memetakan secara jelas mengapa budaya membaca itu belum tumbuh dan mengakar

Editor: Dion DB Putra
ilustrasi 

Oleh Isidorus Lilijawa
Tenaga Ahli DPR RI

POS-KUPANG.COM - Dalam buku 15 Tahun Pos Kupang Suara Nusa Tenggara Timur, Pater John Dami Mukese, SVD menulis artikel tentang "Mendongkrak Budaya Membaca di NTT".

Dalam buku itu, Pater Dami telah memetakan secara jelas mengapa budaya membaca itu belum tumbuh dan mengakar di bumi NTT ini. Selain mengemukakan problem mentalitas yang lahir dari dalam diri, faktor-faktor luar seperti pengaruh alat telekomunikasi, sistem pendidikan dan persoalan ekonomi menjadi titik perhatian tulisan itu.

Ada anggapan bahwa membeli buku dan membaca buku adalah urusan kaum intelektual, para akademisi dan mahasiswa dan bukan menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat umum. Anggapan ini ditunjang oleh asumsi bahwa membaca adalah kegiatan intelektual yang cocok dilakukan oleh kaum intelektual.

Urutan Zodiak Paling Setia Hingga Doyan Selingkuh, Lihat Kamu dan Pasanganmu Berada di Urutan Mana?

Drakor Clean With Passion For Now Rating Tertinggi di Episode 1, Malam ini Episode 2 Tayang

BTS Akan Keluarkan Album Terbaru Dengan Konsep Unik, Army Siap-siap Ya!

Anggapan keliru ini terlanjur menjadi bagian dari konsep masyarakat kita jika kepada mereka diminta untuk membiasakan diri membaca buku, majalah atau koran. Padahal membaca buku adalah kebiasaan positif yang bisa dilakukan oleh siapa saja.

Persoalan yang selalu diangkat berkaitan dengan upaya membumikan budaya membaca adalah ketiadaan uang untuk membeli buku. Padahal alasan seperti ini seringkali terkesan dibuat-buat.

Kalau masalah ekonomi, khususnya ketiadaan uang menjadi masalah utama orang tidak membeli buku, majalah atau koran, mengapa orang NTT bisa keluarkan uang banyak untuk hal-hal yang bukan kebutuhan pokok setara makan, perumahan dan pakaian, semisal rokok minum dan bahkan judi?

Masyarakat Membaca

Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi NTT, kabupaten/kota maupun pihak swasta untuk mendongkrak minat baca dan menumbuhkan budaya baca yang tujuannya adalah membentuk masyarakat baca (reading society).

Pemerintah dengan perpustakaan-perpustakaan daerah, perpustakaan keliling berupaya meningkatkan melek huruf masyarakat dan menyediakan pengetahuan bagi masyarakat. Lembaga-lembaga swasta semisal LSM pun membuka taman bacaan masyarakat, taman bacaan anak untuk mendongkrak budaya membaca.

Di sekolah-sekolah pun hampir selalu ada perpustakaan sekolah. Ini berarti sarana untuk membaca telah disiapkan walau masih ada kekurangan di sana sini. Namun, mengapa membaca belum menjadi budaya kita orang NTT?

Coba kita periksa, berapa banyak orang yang mampir di perpustakaan umum maupun perpustakaan sekolah/kampus setiap hari? Berapa jam seminggu dipakai untuk membaca buku? Berapa banyak uang dihabiskan untuk membeli buku-buku bacaan? Berapa banyak koleksi buku-buku bacaan kita? Apakah kita mempunyai perpustakaan pribadi?

Ini data lama tetapi penting untuk pembelajaran kita. Taufiq Ismail pada tahun 2000 mengungkapkan data yang menyedihkan mengenai perbandingan jumlah buku yang wajib dibaca dan dibahas oleh siswa SMA di 13 negara.

Datanya sebagai berikut: USA 32 judul, Belanda 30, Prancis 30, Jerman 22, Jepang 22, Swiss 15, Kanada 13, Rusia 12, Brunei 7, Malaysia 6, Singapura 6, Thailand 5, Indonesia 0 judul.

Data Taufiq Ismail tahun 2003, mengatakan bahwa siswa SMU di Malaysia diwajibkan membaca novel 12 judul, cerita pendek 18, drama 8, puisi modern 18, puisi tradisional 18, prosa tradisional 12. Di Indonesia? Sangat memprihatinkan. Kalau dulu Malaysia berguru pada bangsa kita, sekarang mereka lebih maju dan berkembang dari pada kita.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved