Berita NTT Terkini

Dua Bulan Bisa Hasilkan Rp 1 Miliar, Orang ini Minta Gunakan Dana Desa untuk Kembangkan Kelor

Dua Bulan Bisa Hasilkan Rp 1 Miliar, Orang ini Minta Gunakan Dana Desa untuk Kembangkan Kelor

Penulis: Adiana Ahmad | Editor: Fredrikus Royanto Bau
istimewa
Penanaman perdana kelor oleh Ketua PKK Provinsi NTT, Julie Laiskodat di Nampar Mancing, Manggarai Barat 

 Dua Bulan Bisa Hasilkan Rp 1 Miliar, Orang ini Minta Gunakan Dana Desa untuk Kembangkan Kelor

Laporan Wartawan POS-KUPANG.COM, Adiana Ahmad

POS-KUPANG,COM | KUPANG - Hanya bekerja selama dua bulan, petani kelor bisa menghasilkan hingga Rp 1 miliar.

Karena itu, masyarakat desa diminta untuk aktif menyukseskan program tanam kelor termasuk pemerintahan desa juga mengalokasikan dana desa untuk pengembangan kelor ini.

Hal ini disampaikan Kepala Dins Pertanian Provinsi NTT, Yphanes Tay Ruba kepada POS-KUPANG.COM. Selasa (30/10/2018).

Baca: Tak Bawa STNK, 3 Polisi Disetop Sesama Polisi dan Ditilang

Baca: Keluarga Mahasiswa Katolik Se-Undana Kupang Peduli Lingkungan Kampus

Baca: Mengenal Syachrul Anto, Penyelam yang Gugur dalam Pencarian JT 610

Dikatakannya, untuk pengembangan kelor klaster daun harus benar-benar organik, karena itu, lahan yang disiapkan harus benar-benar lahan baru.

Sedangkan untuk bubuk kelor yang diekspor ternyata tidak sembarang kelor tetapi harus dari kelor organik atau dari lahan yang tidak terkontaminasi pestisida atau pupuk kimia.

"Siapkan lahan. Terbaik kalau lahan baru. Tidak boleh terkontaminasi bahan kimia. Usia enam bulan sudah bisa pangkas. Daun dipisah dari tulang dan dikeringkan," jelas Yohanes.

 

Setelah ada lahan, lanjut Yohanes, pihaknya akan siapkan demplot dan road map kerja sama dengan BPTP, komunikasi dengan mitra untuk pembiayaan karena pemerintah sifatnya hanya memfasilitasi.

Yohanes mengungkapkan, pemerintah akan menyiapkan benih untuk lahan-lahan demplot dan lahan masyarakat yang ingin mengembangkan kelor.

Baca: Setelah Diberikan Miras, Siswi SMP Diperkosa 4 Laki-Laki, Begini Kisahnya

Baca: Dekompresi - Mengenal Penyebab Tewasnya Penyelam Basarnas saat Evakuasi Lion Air Jatuh

Baca: Roda Lion Air JT 610 Tiba di Tanjung Priok

"Ini peluang sekaligus tantangan bagi kita. NTT potensi cukup besar karena lahan masih luas. Di Jawa, lahan yang layak untuk kelor klaster daun terbatas," kata Yohanes.

Dijelaskan, Dinas Pertanian NTT menargetkan pengiriman awal bubuk kelor sebanyak satu kontainer atau 20 ton dengan nilai penjualannya Rp 1 miliar.

Untuk mendapatkan bubuk daun kelor sebanyak itu dibutuhkan lahan seluas 40 sampai 60 hektar are tanaman kelor.

Yohanes mengatakan, permintaan bubuk kelor dari luar cukup besar.

Sementara stok yang ada pada masyarakat masih terbatas.

"Pengembangan kelor kita bagi dua klaster, yakni klaster daun untuk memenuhi permintaan bubuk dari buyers 1.000 ton per tahun dan klaster biji," kata Yohanes.

Baca: Rapat Komisi V DPRD NTT dengan Dinas Nakertrans Ditunda

Baca: Kabasarnas: Ada Penyelam yang Sudah Melihat Badan Pesawat Lion Air

Baca: Lorens Taniu Mengakui dengan Ikut GISA, Cetak E-KTP Hanya 30 Menit

Ia mengatakan, tahun ini pengembangan kelor untuk kluster daun baru pada demplot-demplot di Oeteta, Pitai Sulamu Kabupaten Kupang dan Oefafi di Kupang Timur.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved