Opini Pos Kupang
Napas Caci Lenyap di Pantai Pede
Caci adalah atraksi budaya khas Manggarai Raya, yang kini meliputi tiga kabupaten.
Oleh Frans Sarong
Penulis Buku Serpihan Budaya NTT, 2013, pensiunan wartawan Kompas
POS-KUPANG.COM -- Caci adalah atraksi budaya khas Manggarai Raya, yang kini meliputi tiga kabupaten. Selain induknya, Manggarai, dua kabupaten mekarannya adalah Manggarai Barat (2003) dan Manggarai Tumur (2007).
Seluruh warga tiga kabupaten itu -bahkan hingga kawasan Riung (wilayah bagian utara Kabupaten Ngada) -adalah ahli waris caci.
Baca: TONTON SEKARANG Timnas Indonesia Vs Hongkong Piala AFF 2018, Indonesia Sudah Unggul
Baca: Ramalan Zodiak Rabu 17 Oktober 2018: Aries Siap Kecewa, Cancer Bakal Dapat Kabar Bahagia!
Baca: Penggemar Drama Korea, Intip 10 Drakor Yang Bakal Tayang Bulan Oktober 2018
Baca: 11 Musisi Internasional ini Ingin Kolaborasi dengan BTS, Ada yang Minta Jadi Member ke-8!
Selain mengelegar suasananya, aksi caci juga mendebarkan, terutama sejak lepas siang hingga tetua melemparkan tikar kumal ke tengah arena sebagai pertanda atraksi berakhir, sekitar pukul 17.00 petang.
Betapa tidak! Aksinya yang melibatkan sejumlah pasangan lelaki dewasa, secara bergantian saling cambuk sekuat tenaga. Alat pukulnya berupa pecut dari pilinan kulit kerbau yang sudah mengering.
Khusus di Manggarai Tumur bagian selatan, ujung pilinan cemeti masih disambungkan lagi dengan lidi atau pori segar. Akibanya, guratan luka disertai darah segar mengucur, tentu saja menjadi risiko lumrah bagi pelaga yang tak tangkas menangkis.
Di Manggarai Barat yang memiliki obyek wisata terkenal, Taman Nasional Komodo, sejak lama terbentuk sejumlah sanggar budaya. Caci adalah atraksi utama setiap sanggar, yang selalu siap pentas bagi para pelancong minat khusus.
Atraksi itu -termasuk dalam rangkaian perayaan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus -biasa dipentaskan di Pantai Pede, Labuan Bajo, kota Kabupaten Manggarai Barat. Lokasi Pantai Pede tampan memang. Letaknya di sekitar bibir pantai.
Posisinya langsung menghadap bentangan TN Komodo. Memiliki kawasan seluas 1.733 km2, TN Komodo sendiri telah menjadi situs warisan dunia (1991), lalu berhasil menembus kontestasi New7Wonders atau Tujuh Keajaiban Dunia (2011).
Status hebat itu tentu saja karena keunikannya yang tak ada duanya di dunia. Tiga pulau besar dalam kawasan TN Komodo, yakni Komodo, Rinca dan Padar, adalah habitat utama komodo, yang dalam klasifikasi ilmiahnya disebut varanus komodoensis. Binatang purba tersisa dengan rata rata panjang 2-3 meter, adalah sebangsa buaya yang hidup di daratan.
Sekadar melengkapi pemahaman tentang tipikal khasnya. Komodo adalah jenis binatang yang dikenal malas namun garang. Tampak acuh tak acuh bila sedang berjemur pagi di atas bongkah batu di tepi pantai. Tapi eit.hati hati! Sosok malas itu tetap mengancam.
Pesonanya menyihir dunia, apalagi setelah sukses jadi tujuh keajaiban dunia tujuh tahun lalu. Kalau beranjak apalagi berlari, rangkakan komodo anggun, bagian perutnya tak menyentuh tanah. Ia adalah raja satwa di kawasannya, leluasa menjelajah sabana dan goa.
Seperti kurang lebih 25 jenis hewan reptilia lainnya, komodo beranak pinak melalui telur. Uniknya, cinta induk komodo hanya sebatas telurnya. Bayi komodo hasil tetasan dari telurnya itu langsung jadi mangsa. Yang selamat hanya bayi-bayi komodo yang lincah dan cepat memanjat pohon.
Keunikan berdaya tarik tinggi disertai status hebat yang telah diraihnya, membuat TN Komodo kian gencar dikunjungi pelancong terutama wisatawan asing dari berbagai pelosok dunia.
Menurut catatan Balai TN Komodo di Labuan Bajo, wisatawan yang berkunjung tahun 2017 berjumlah 125.069 orang. Lebih separuh atau sebanyak 76.612 orang di antaranya adalah wisatawan asing terutama dari Amerika Serikat. Jumlah itu jauh melonjak tinggi dibanding tahun 2010 atau setahun sebelum raihan New7Wonders, yang jumlah wisatawannya sekitar 45.000 orang (domestik dan asing).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/caci_20180307_190636.jpg)