Opini Pos Kupang

Darurat Tsunami Campak dan Rubella

Sebenarnya seberapa daruratnya penyakit campak dan rubella di Indonesia sehingga kita khawatirkan akan ada tsumani MR?

Editor: Sipri Seko
POS KUPANG/GORDI DONOFAN
Petugas kesehatan dari Puskesmas Danga saat melayani pemberian imunisasi Campak dan Rubella di Posyandu Ade Irma B di Kelurahan Danga Kabupaten Nagekeo, Kamis (13/9/2018). 

Sedangkan untuk rubella, kurang lebih 77% penderitanya merupakan anak usia di bawah 15 tahun. Suatu studi tentang estimasi beban penyakit CRS di Indonesia pada tahun 2013 diperkirakan terdapat 2.767 kasus CRS, 82/100.000 terjadi pada usia ibu 15-19 tahun dan menurun menjadi 47/100.000 pada usia ibu 40-44 tahun.

Kedaruratan lainnya adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh orangtua yang anaknya menderita CRS. Orangtua yang anaknya cacat karena rubella bisa mengeluarkan dana hingga minimum Rp 400 juta per anak per tahun untuk operasi dan terapi. Kerugian ekonomi ini tentu belum termasuk beban psikis, sosial, hilangnya waktu dan produktivitas serta masa depan anak yang suram. Indonesia diperkirakan mengalami kerugian ekonomi akibat penyakit Measle-Rubella (MR) mencapai Rp5,7 triliun per tahun.

Sejak 1 Agustus hingga 30 September 2018; pemerintah melaksanakan kampanye imunisasi MR bagi anak usia 9 bulang hingga kurang dari 15 tahun. Ini adalah kampanye tahap kedua bagi 32 juta anak di 28 provinsi di luar Pulau Jawa.

Kampanye imunisasi MR tahap pertama telah dicanangkan pada 1 Agustus 2017 lalu oleh Presinden Joko Widodo di Madrasah Tsanawiyah Negeri 10 Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kampanye imunisasi tahap I ini berhasil melindungi lebih dari 35 juta di seluruh Pulau Jawa dari ancaman campak dan rubella.

Kedaruratan penyakit campak rubella di Indonesia makin diperparah dengan terancam gagalnya kampanye Imunisasi MR tahap kedua ini. Hingga minggu ketiga September 2018, cakupan imunisasi MR di Indonesia masih pada posisi 53% persen; artinya baru sekitar 17 juta anak dari target 32 juta anak yang menerima imunisasi MR.

Pada saat yang bersamaan, sedang terjadi kejadian luar biasa campak di berbagai daerah di Kalimantan dan Sumatera. Provinsi Daerah Istimewa Aceh bahkan diperkirakan mengalami tsunami rubella akibat rendah cakupan imunsasi MR di daerah ini yang baru mencapai 8 persen.

Di NTT, tsunami rubella bisa saja terjadi di Kabupaten Manggarai Barat, Alor, Sabu Raijua, Sumba Barat, Lembata, Flores Timur, Ende, Rote Ndao, Sumba Barat Daya dan Lembata. Kabupaten-kabupaten ini, kondisi cakupan MR masih jauh dari target minimal 95%.

Tentu belum lepas dari ingatan kita ketika terjadi KLB Campak di Nuapin TTS yang hanya sebulan, nyawa 12 anak TTS jadi korban keganasan virus ini. Kita tentu tidak ingin anak-anak NTT lain jadi korban berikutnya, hanya karena kondisi darurat ini kita sikapi dengan biasa-biasa. Para pemimpin harus sadar bahwa memperjuangkan generasi yang sehat dan berkualitas, merupakan tujuan utama pembangunan bangsa ini.

Para orangtua harus sadar ketika program imunisasi MR ini kita bisa tolak dengan berbagai alasan, virus tidak pernah gagal dalam menyerang mereka yang tidak terlindungi. Penyakit dan virus tidak punya batas wilayah, tidak mengenal waktu dan tidak membedakan agama, ras dan golongan. Kedaruratan ini harus diakhiri. Tsunami MR jangan sampai terjadi. Jawabannya adalah imunisasi MR. (Anggota Forum Academia NTT)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved