Opini Pos Kupang

Relawan Politik dan Civic Engagement

Mereka berusaha untuk mempromosikan figur-figur yang akan berkontestasi dalam perhelatan demokrasi sambil mengemukakan

Editor: Dion DB Putra

Oleh Inosentius Mansur
Pemerhati sosial-politik dari Seminari Ritapiret -Maumere

POS-KUPANG.COM - Salah satu fenomena menarik menjelang perhelatan demokrasi (pilkada, pileg dan pilpres) adalah kemunculan relawan (volunteer) politik.

Mereka berusaha untuk mempromosikan figur-figur yang akan berkontestasi dalam perhelatan demokrasi sambil mengemukakan alasan-alasan mengapa figur-figur itu layak didukung.

Mereka bukanlah kelompok partisan yang berafiliasi dengan kekuatan ataupun partai politik tertentu. Mereka bergerak secara independen. Landasan gerakan mereka adalah keprihatinan atas persoalan-persoalan sosial yang melanda kehidupan bersama.

Tidak hanya itu, mereka juga tampil sebagai kelompok masyarakat yang menawarkan model restoratif ditengah praksis politik konservatif. Mereka membuktikan bahwa civic engagement (keterlibatan warga) dapat disalurkan melalui gerakan non partisan. Mereka juga meruntuhkan dominasi elite-elite politik yang selama ini memprivatisasi politik.

Baca: Ramalan Zodiak Hari Ini 6 Agustus 2018, Scorpio Sibuk, Zodiak Lain Bagaimana?

Relawan politik muncul sebagai kekuatan tandingan yang berusaha membuktikan bahwa politik masih bisa diharapkan sebagai sarana untuk mencapai cita-cita kolektif-kebangsaan.

Tatkala politik didekonstruksi untuk kepentingan parsial pragmatik, maka relawan politiklah yang berusaha untuk mengembalikannya kepada hakikatnya. Mereka berusaha untuk memperlihatkan kepada publik bahwa melalui politiklah harapan bersama dapat diperjuangkan dan diwujudkan.

Kritik

Nina Eliasoph dalam The Politics of Volunteering (2013) mengatakan bahwa relawan bisa meningkatkan partisipasi publik. Partisipasi di sini memberi kepastian kepada rakyat bahwa mereka memiliki ruang dan posisi tawar.

Hal tersebut juga memperlihatkan kemunculan new social movement untuk melawan struktur dan praksis hegemonik politik mainstream berbasis oligarki dan kapitalisasi.

Civic engagement yang tersalurkan dalam gerakan relawan politik merupakan kritik atas aktus politik para elite yang cenderung degradatif dan apolitis. Hal seperti juga dapat menjadi bukti bahwa partai politik tidak cukup representatif.

Sebab kenyataannya, partai politik memang seringkali menyangkal esensi eksistensinya. Bersemi masifnya relawan politik dapat "dibaca" sebagai kekecewaan rakyat terhadap partai dan elite politik yang memang seringkali mengabaikan kepentingan rakyat. Ini adalah "tanda merah" untuk partai politik yang mesti segera dicari solusinya.

Baca: 4 Pemain Drakor Ganteng Ini Mengidap Penyakit Parah, Siapa Mereka?

Kalau tidak, maka ditakutkan bahwa relawan politik itu akan bermetamorfosa menjadi kelompok besar yang mengkampanyekan gerakan anti partai politik.

Tentu saja kita tidak menginginkan hal seperti itu terjadi apalagi membiarkan rakyat untuk tidak lagi percaya kepada partai politik.

Namun demikian, hal seperti ini bisa saja terealisasi karena semakin hari keberadaan partai politik semakin memprihatinkan. Sementara di sisi lain, relawan politik seringkali bergerak masif dan ekspansif menjadi harapan rakyat, betapapun itu masih terfragmentaris dan belum terlembagakan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved