Catatan Sepakbola

Magis Bola yang Membenci Kepongahan

Kendati secara individu keterampilan kaki Hazard dan Mbappe setimbangan beratnya, namun tetap ada faktor pembeda di antara

KOMPAS.COM
Pemain Perancis, Kylian Mbappe 

Menyambut gol dari hubungan sekejap dengan sang dewi keberuntungan, spontan Umtiti menari-nari kecil dan menggoyang-goyangkan pinggulnya sembari tertawa kecil. Para patriot dari negeri Napoleon Bonaparte berlari berebutan menghampiri Umtiti, sang kekasih dari dewi keberuntungan dalam laga itu, demi berbagi ucapan selamat dan rasa bahagia.

Di ruang waktu yang lain, kendati masih di tempat yang sama, kemuraman dan aliran duka mulai menghinggapi Belgia. Mereka sepertinya sadar bahwa dewi keberuntungan telah terbang menjauh menghindari mereka. Tidak seperti saat menghadapi Jepang, dimana dewi keberuntungan begitu mesra menemani mereka hingga ke ujung laga.

Ya, Prancis memang bukan Jepang. Dewi keberuntungan telah datang mencumbui Belgia saat meladeni Jepang, dan kini tak mau datang lagi. Di final nanti, akankah Prancis mengalami hal serupa Belgia? Entahlah.

Menyimak penampilan Hazard dan para kolega, banyak analis bola beropini bahwa Belgia mengalami anti-klimaks. Sangat mungkin mereka telah merasa menjadi juara dunia setelah sukses membekap Brasil di babak perempat final. Ada gejala `sindrom megalomania' di sini; belum apa-apa sudah merasa besar. Belum masuk final, tapi sudah merasa jadi juara.

Sangat mungkin, sengatan sindrom megalomania inilah yang membuat generasi emas Belgia yang fenomenal itu, tidak mampu bermain lepas meladeni Prancis.

Belum lagi, oleh banyak analis bola pula, Prancis dianggap bermain negatif dengan lebih dominan bertahan, sembari menanti kesempatan serangan balik. Taktik sepakbola negatif ini memang mengurangi eksplosivitas pertarungan, tetapi terbukti efektik untuk membungkus kemenangan.

Gaya permainan Prancis ini kontras saat mereka menghajar Argentina di babak penyisihan grup. Jagad medsos pun ramai oleh omelan sinis penyokong Belgia. Mereka menganggap Prancis bermain dengan `gaya penakut'. Takut diserang Belgia secara bertubi-tubi. Lebih takut lagi tidak lolos ke Final Piala Dunia 2018. Mungkin begitu makna dari gaya penakut itu.

***

Di lorong waktu yang lain, juga di tempat yang berbeda, Kamis dinihari (12/7/2018), dua tim dari belahan Eropa barat dan timur saling bersemuka untuk berseteru.

Inggris yang tampil dengan kostum kebesaran putih-putih terlihat begitu santun, menghadapi Kroasia yang tampak angker dengan tampilan kostum hitam-hitam. Suasana Luzhniki Stadium nampak meriah dengan histeria pendukung kedua negara. Warna-warni kostum pendukung menambah ceria stadion. Kostum kotak-kotak merah-putih khas Kroasia terlihat mendominasi atmosfir stadion.

Halaman
1234
Editor: Putra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved