Breaking News:

Catatan Sepakbola

Magis Bola yang Membenci Kepongahan

Kendati secara individu keterampilan kaki Hazard dan Mbappe setimbangan beratnya, namun tetap ada faktor pembeda di antara

Editor: Putra
KOMPAS.COM
Pemain Perancis, Kylian Mbappe 

Tingkah pola oknum-oknum politikus karbitan lazimnya ditandai oleh kesewenang-wenangan yang menabrak rasionalitas, sekaligus menjauh secara ekstrem dari kepatutan nilai-nilai kemanusiaan.

Politikus-politikus katrolan lazimnya cenderung menghalalkan segala cara, sepanjang cara itu memberikan keuntungan politik berganda. Yang mau dan atau dapat menjadi sekutu, dirangkul. Yang dianggap musuh, lumrah untuk disingkirkan! Bukankah dalam dunia politik praktis yang tidak berbasis pada "politik nilai"(nilai-nilai yang koheren dengan harkat dan martabat kemanusiaan), yang abadi hanyalah kepentingan?

Bukankah tidak ada permusuhan atau perkawanan abadi dalam lakon politik jenis ini? Meminjam ungkapan Dalai Lama, sang spiritualis Budha dari Tibet, bahwa "Sesungguhnya politik itu adalah bidang yang sama baiknya dengan bidang-bidang kehidupan yang lain, seperti agama, pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya. Tetapi, politik menjadi kotor apabila dijalankan oleh orang-orang yang berhati busuk".

Ahh, sudahlah....mari melirik dan merasakan lagi magis bola di bumi Rusia. Magis bola, pengisi ruang batin yang sumpek oleh kejumudan realita zaman. Magis bola, yang bergerak dan membekas seperti jiwa kaum penyair yang terus gelisah kala memandang wajah ketidakadilan.

Magis bola, yang dayanya berpencar-pencar riang dari Rusia dan menjadi aliran kecil dari sungai sukacita dan damai sejahtera, untuk dirasakan oleh seluruh penikmat bola sepenghuni bumi.

***

Laga perdana babak semi-final yang menghadapkan Prancis dan Belgia mengundang ragam pendapat dari banyak analis bola. Merata dan sama-seimbangnya skill pemain di kedua kubu, membuat para analis bola kesulitan memproyeksikan kemenangan berada di pihak mana.

Alhasil, simpul pendapat yang moderat pun muncul demi menjembatani polemik, paling tidak begini bunyinya: "Tim mana yang membuat kesalahan paling kecil, itulah yang akan menang".

Nah, pada laga Rabu dinihari (11/7/2018), Prancis adalah tim pembuat kesalahan paling kecil, yakni lagak `bodoh' Mbappe yang `meminta' hadiah kartu kuning. Di luar aksi dungu Mbappe, Prancis secara tim adalah tim paling efektif dan taktikal dalam menyusun, mengalirkan, dan menuntaskan serangan. Hanya ketidaktenangan mengeksekusi bola ke mulut gawang, yang membuat trisula maut
Mbappe-Griezmann-Giroud tak kuasa menceplos gawang Thibaut Cortuiz.

Beruntung benar Umtiti, si pengawal paling ngotot di area pertahanan Prancis. Saat berbaris di hadapan gawang Belgia bersama sejumlah tandemnya, Dewi Fortuna --sang dewi keberuntungan--, terbang perlahan dan bergelayut manja di atas kepalanya. Bola yang telanjang ---untuk meminjam judul buku analis bola, Dion DB Putra--itu pun mencumbu cepat dewi keberuntungan, memeluk erat sang dewi, sembari melayang dan jatuh bersama di dalam gawang Cortuiz. Hasilnya konkrit, gol tunggal pun lahir sudah.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved