Dimensi Firdaus dalam Tindakan Memberi. Begini Penjelasannya
Setiap orang dapat memberi. Karena memberi adalah tindakan yang terpuji dan menusiawi. Di zaman ini tindakan memberi
Oleh: RD Maxi Un Bria
Ketua Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Agung Kupang.
Bona conscientia paradisus; hati nurani yang baik adalah jalan menuju firdaus. (Yakobus Armanius )
POS KUPANG.COM - Hidup adalah pemberian Sang Khalik. Demikian keyakinan orang beriman. Keyakinan ini telah menggerakkan hati banyak orang untuk melakukan tindakan memberi sebagai kebajikan.
Setiap orang dapat memberi. Karena memberi adalah tindakan yang terpuji dan menusiawi. Di zaman ini tindakan memberi secara sempit sering diartikan sebagai memberikan materi.
Tindakan memberi umumnya dilakukan saat kebayakan orang berkelebihan, hanya sedikit orang rela memberi dalam keterbatasan. Namun hakekat tindakan memberi yang hendak dikaji melampaui dimensi material karena melingkupi juga dimensi spiritual dan nilai universal kemanusiaan.
Ada beberapa alasan melakukan tindakan memberi. Ada orang yang melakukan tindakan memberi sebagai penyeimbang terhadap segala hal yang telah diterima. Ada juga yang menghidupi habitus tindakan memberi untuk menyatakan nilai syukur atas segala anugerah dan rejeki yang telah diterima.
Mereka percaya dengan makna the power of giving. Setiap kali kita memberi, sesungguhnya pada saat yang sama kita sedang menerima pergandaan kekuatan positif yang menggembirakan dan menghadirkan rasa damai.
Tindakan memberi yang disertai nurani dan hati yang baik memaksimalkan sukacita hidup bersesama.
Adapun tanda-tanda yang menegaskan bahwa seseorang memiliki hati nurani yang baik saat memberi adalah menjadikan nilai kasih, motif yang jujur, berkat dan syukur sebagai dasar bertindak.
Sebagaimana Yesus Kristus yang telah memberi contoh mulia kepada para murid tentang karakter memberi yang agung.
Dalam perjamuan terakhir, "Yesus mengambil roti, mengucap berkat dan memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata, Ambillah, Inilah TubuhKu".
Kemudian Yesus mengambil cawan, mengucap syukur dan memberikannya kepada mereka, dan mereka semua minum dari cawan itu. Dan Ia berkata kepada mereka " Inilah DarahKu, darah perjanjian yang ditumpahkan bagi banyak orang " (Mrk 14 :22-24).
Yesus memberikan sesuatu yang paling berharga bagi para murid yakni Tubuh dan DarahNYA sendiri untuk menegaskan persekutuan yang abadi.
Yesus tinggal dalam para murid dan para murid tinggal di dalam Yesus untuk menghidupi nilai-nilai Kerajaan Allah yakni cinta kasih, pelayanan, pengorbanan, pengampunan, persekutuan, keadilan, kebenaran, iman dan pengharapan tentang kebangkitan dan keselamatan hidup kekal yang telah diajarkan Yesus.
Tindakan memberikan diri dan hidup Yesus bagi kebaikan dan keselamatan umat manusia menjadi model tindakan memberi, yang dapat diteladani para murid dalam spirit pelayanan dan ziarah kegembalaan bersama umat manusia.