Berita Desa Goreng Meni

Menyedihkan! Tunggu Hujan Berhenti KBM Siswa SMPN 10 Lamba Leda Berlanjut

Sejak bulan Maret 2017 sebanyak 64 siswa-siswi kelas satu dan dua SMP Negeri 10 Lamba Leda di Kecamatan Lamba Leda, belajar di bawah pohon.

Menyedihkan! Tunggu Hujan Berhenti KBM Siswa SMPN 10 Lamba Leda Berlanjut
ISTIMEWA
Meski sekolah di bawah pohon, guru SMP Negeri 10 di Desa Goreng Meni, Kecamatan Lambaleda, Kabupaten Manggarai, masih bisa tersenyum di hadapan para siswanya. 

Laporan Wartawan Pos-Kupang.Com, Aris Ninu

POS-KUPANG.COM, BORONG - Sejak bulan Maret 2017 sebanyak 64 siswa-siswi kelas satu dan dua SMP Negeri 10 Lamba Leda di Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) belajar di bawah pohon. Hal itu terjadi karena sejak didirikan tahun 2013, sekolah negeri ini belum memiliki gedung sendiri.

Kepala Sekolah SMP Negeri 10 Lamba Leda,  Damianus Nabit
Kepala Sekolah SMP Negeri 10 Lamba Leda, Damianus Nabit (POS KUPANG/ARIS NINU)

Sejak 2013 para siswa dan guru menggunakan ruangan kelas SDK Meni untuk proses belajar mengajar. Namun, karena siswa SDK Meni banyak kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa-siswi SMP Negeri 10 Lamba Leda pindah ke PAUD Meni Jaya.

Baca: Rinto Sae Sedih Lihat Bapaknya Marianus Pakai Rompi Orange

Kepala Sekolah SMP Negeri 10 Lamba Leda, Damianus Nabit, mengakui siswa kelas satu dan kelas dua di sekolah itu sejak Maret 2017 hingga sekarang ini belajar di bawah pohon karena tidak memiliki ruangan kelas. Sedangkan siswa kelas tiga belajar di dalam ruangan kelas milik PAUD Meni Jaya, karena satu ruangan PAUD tidak dipakai. Siswa PAUD Meni Jaya hanya pakai dua ruangan.

"Sejak Maret 2017 siswa kelas satu dan kelas dua belajar di luar ruangan (di bawah pohon). Siswa kelas tiga belajar di dalam ruangan milik PAUD Meni Jaya, Desa Goreng Meni, Kecamatan Lamba Leda," kata Damianus, ditemui di Lamba Leda, Minggu (4/3/2018).

Baca: Emi Nomleni Tidak Lelah Walaupun Tanpa Marianus

Ia menjelaskan, SMP Negeri 10 Lamba Leda berdiri sejak tahun 2013. Sejak berdiri para siswa dan guru-guru menggunakan ruangan kelas SDK Meni untuk KBM. "Paginya siswa SD KBM, siang siswa SMP. Kondisi ini bertahan sampai Maret 2017. Pada Maret 2017 karena ruangan kelas SDK Meni siswanya banyak, kami pindah ke PAUD Meni Jaya. Waktu itu Kepala Desa Goreng Meni, Aleksius Talis mengizinkan kami menggunakan gedung PAUD yang memilikki tiga ruangan belajar. Untung kepala desa prihatin, kalau tidak kami tidak bisa buat apa-apa," ujarnya.

Tunggu Hujan Berhenti
Damianus mengatakan, para siswa kelas satu dan kelas dua belajar di bawah pohon pukul 07.00 hingga pukul 10.00 Wita. Pada jam berikutnya KBM di dalam ruang kelas milik PAUD Meni Jaya, setelah para siswa PAUD selesai belajar.

"Setelah pukul 10.00 Wita kami pakai ruang kelas PAUD. Tapi kalau tidak hujan, kami belajar terus di luar ruangan. Kalau hujan kami masuk ke ruangan kelas milik PAUD. Kadang kalau hujan pagi hari kami tunggu sampai hujan berhenti baru belajar. Kalau hujan sampai siang KBM pasti molor sampai siang," ujar Damianus.

Damianus mengharapkan sekolah itu memiliki gedung sendiri yang memadai untuk proses KBM. "Harapan saya, kami ada ruangan kelas," ujarnya.

Mengenai kondisi sekolah yang tidak memiliki gedung sendiri, Damianus mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Timur.

Saat ini, jelas Damianus, jumlah siswa di sekolah tersebut 93 orang. Rinciannya, kelas satu 29 orang, kelas dua 35 orang dan kelas tiga 49 orang siswa. Sedangkan tenaga guru 13 orang. Dari jumlah itu, kata damianus, guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) tiga orang dan sepuluh lainnya guru komite. (*)

Data Sekolah
* Siswa Kelas 1 : 29 orang
* Siswa Kelas 2 : 35 orang
* Siswa Kelas 3: 49 orang
* Guru 13 orang
- Guru negeri 3 orang
- Guru komite 10 orang

Penulis: Aris Ninu
Editor: Kanis Jehola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved