Silent Epidemic Bunuh Diri dan Depresi
Kedua korban di atas dan korban Jembatan Liliba menambah angka kasus bunuh diri, khusus di Kota Kupang menjadi yang
Kasus bunuh diri banyak berhubungan dengan masalah kesehatan mental. Kesehatan mental tidak hanya identik dengan gangguan jiwa atau "orang gila".
Gangguan jiwa dapat terjadi karena adanya tekanan dalam pikiran baik itu peristiwa dalam kehidupan yang menimbulkan stres, ketegangan dan kesulitan hidup, adanya tekanan sosial, budaya maupun ekonomi.
Seiring perubahan teknologi dan informasi, masalah kejiwaan juga dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya pengaruh media sosial. Kerap kali kita membaca berita mengenai kasus bunuh diri pada anak maupun remaja terkait bullying, masalah sekolah maupun hubungan keluarga dan sosial yang tidak harmonis yang berakibat pada stres berkepanjangan.
Stres merupakan pemicu awal depresi yang tidak dapat terselesaikan baik itu kurangnya koping mekanisme (kemampuan untuk menjalani stres) atau tidak adanya dukungan sosial. Apabila hal ini dibiarkan tentu saja merupakan bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
Wujud depresi di masyarakat dapat kita lihat pada masalah pembunuhan bayi atau anak di bawah umur, pelecehan seksual, KDRT, meluasnya penggunaan narkoba yang merupakan upaya pelarian dari tekanan pada situasi nyata, berkembangnya konflik di masyarakat hingga yang paling fatal bunuh diri.
Berbagai hal ini merupakan tanda depresi baik itu perorangan maupun massal. Semakin banyak orang cepat tersinggung, mengamuk dan makin agresif atau sebaliknya menjadi mudah menyerah dan mengambil jalan pintas dengan bunuh diri.
Tiga gejala utama depresi yang perlu kita ketahui yaitu penderita biasanya kehilangan minat terhadap hal-hal yang dulu disukai, kehilangan energi atau motivasi serta perasaan murung.
Gejala depresi lainnya yaitu mengasingkan diri dari lingkungan sosial, perubahan sikap dan perilaku, kesulitan konsentrasi, kesulitan tidur (insomnia), tidur berlebihan (hipersomnia), perubahan pola makan, perasaan tidak berharga, sering mengungkapkan ide dan ancaman serta fantasi atau bayang-bayang untuk melakukan bunuh diri mulai bermunculan di pikirannya.
Meski tidak semua orang melakukan bunuh diri karena mengalami depresi, namun sekitar 80 persen penyebab bunuh diri adalah depresi.
Seringkali seseorang yang memiliki niat bunuh diri sudah menunjukkan beberapa tanda dan gejala yang bisa diamati orang-orang terdekatnya.
Namun sayangnya, banyak orang yang mengabaikan hal ini dengan alasan "itu hanya perasaan galau biasa" atau meremehkan dengan pikiran "tidak mungkin dia berani bunuh diri" hingga pada akhirnya semua terlambat.
Kondisi ini diperparah anggapan masyarakat bahwa depresi itu normal, sama seperti stres biasa. Padahal, tidak hanya stres yang bersifat sementara dan diyakini tidak terlalu meresahkan, depresi nyatanya sudah dikategorikan sebagai gangguan kesehatan mental dan apabila dibiarkan bisa berujung percobaan bunuh diri.
Apa yang bisa kita lakukan pada orang disekitar kita yang sedang mengalami depresi agar tidak bunuh diri? Ingat, jangan menganggap remeh atau melupakan orang-orang di sekitar kita yang menunjukkan tanda-tanda depresi dan percobaan bunuh diri.
Sebenarnya orang-orang tersebut sangat membutuhkan perhatian atau dukungan keluarga, teman dan masyarakat. Mari menjadi lebih peka pada orang yang mengatakan ingin mati atau mengungkapkan ingin bunuh diri.
Hal ini bisa saja menjadi ungkapan hatinya yang paling dalam dan harus segera mendapat respon.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/gantung-diri_20180128_133203.jpg)