Silent Epidemic Bunuh Diri dan Depresi
Kedua korban di atas dan korban Jembatan Liliba menambah angka kasus bunuh diri, khusus di Kota Kupang menjadi yang
Oleh: Maria F Elfrida
Perawat Kesehatan Jiwa
POS KUPANG.COM -- Belum hilang dari ingatan kita cerita tragis Jembatan Liliba yang untuk kelima kalinya dalam kurun waktu lima tahun (2013-2018) dipakai sebagai sarana untuk mengakhiri hidup. Korban terakhir Jembatan Liliba adalah pria muda yang terkenal sebagai sosok yang pintar, cerdas dan suka bergaul.
Dua hari berturut-turut Pos Kupang (19/2/2018) kembali memberitakan kasus bunuh diri di Malaka. Korbannya remaja putri berumur 18 tahun berstatus siswi SMA; mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Korban kedua adalah seorang ibu rumah tangga di Manggarai yang membakar dirinya dengan minyak tanah akibat stres karena penyakit yang dideritanya (Pos Kupang, 20/2/2018).
Kedua korban di atas dan korban Jembatan Liliba menambah angka kasus bunuh diri, khusus di Kota Kupang menjadi yang kesebelas menurut data olahan Pos Kupang selama Jan 2017 -Feb 2018. Artinya hampir setiap bulan satu orang yang bunuh diri.
Data ini belum termasuk kasus bunuh yang tidak terekspose media massa. Cara yang dipilih beragam seperti gantung diri, membakar, menembak diri hingga terjun bebas dari ketinggian. Tempat yang dipilih bervariasi baik di rumah sendiri, tempat kos maupun tempat umum.
Mereka melakukannya dalam kamar mandi, kamar kos, kamar tidur sendiri, di lopo, di tempat jemuran, hingga yang paling viral adalah dengan cara terjun dari tempat tinggi (Jembatan Liliba).
Latar belakang pelaku beragam mulai dari mahasiswa/i, aparatur sipil negara, polisi hingga ibu rumah tangga. Tren bunuh diri ini paling banyak dilakukan mahasiswa yang notabene adalah orang terpelajar.
Bunuh diri merupakan fenomena gunung es. Seperti wabah bisu atau silent epidemic yang kurang mendapat perhatian. Jika terjadi satu kasus bunuh diri akan mengundang banyak perhatian dan menjadi "trending topic" di mana-mana.
Namun setelah beberapa lama, hal ini akan redup begitu saja, jauh dari perhatian kita. Padahal dampak yang ditinggalkan begitu berat bagi orangtua, keluarga, teman dekat dan masyarakat yang mengenal korban.
Masalah depresi hingga bunuh diri di tingkat internasional maupun nasional telah menjadi wabah bisu.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan setiap 40 detik, ada satu orang meninggal karena bunuh diri. Ratio orang yang bunuh diri adalah 11,4 per 100 ribu orang.
Sedangkan untuk Indonesia berdasarkan data WHO tahun 2012, angka bunuh diri 4,3 per 100 ribu orang. Dan, untuk setiap kasus bunuh diri, muncul 20 percobaan bunuh diri lainnya (cnnindonesia.com, 2015).
Untuk Provinsi NTT seperti data di atas, masalah bunuh diri adalah hal yang kerap terjadi hampir setiap tahun. Pada tahun 2017 saja ada sebanyak 11 kasus bunuh diri yang terjadi (kupang.tribunnews.com/2017).
Alasan pelaku bunuh diri juga bermacam-macam, seperti masalah ekonomi, rumah tangga, pacar (hubungan yang tidak direstui, putus pacar/kehamilan di luar nikah), ataupun urusan pekerjaan. Namun umumnya alasan bunuh diri adalah masalah pribadi.
Pelaku tertutup dan tidak menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya. Karena itu peristiwa bunuh diri sangat meresahkan publik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/gantung-diri_20180128_133203.jpg)