Bersama Natal Itu Lintas Batas
Hidup bersama dalam keluarga, ada kedamaian, ada keadilan, ada sukacita, ada persatuan hati. Itulah Natal. Ini tidak
Oleh: Anton Bele
Pemerhati sosial budaya, tinggal di Kupang
POS KUPANG.COM - Bersama Natal itu beda dengan Natal Bersama. Natal Bersama itu perayaan, seremoni, pesta, ramah-tamah, nyalakan lilin, ada ornamen Natal, kandang Natal, Pohon Terang, patung Natal, sambutan, makan-minum. Bersama Natal itu kehidupan.
Bukan pesta, bukan liturgi. Hidup damai, hidup adil, itulah Natal dalam arti sesungguhnya. Natal itu perayaan kelahiran Juru Damai. Dipestakan, boleh. Dihayati, tanda tanya (?)
Hidup bersama dalam keluarga, ada kedamaian, ada keadilan, ada sukacita, ada persatuan hati. Itulah Natal. Ini tidak dibatasi dengan perayaan tanggal 25 Desember. Ini sudah pertengahan Januari 2018, masih Natal Bersama. Ada yang sejak awal Desember 2017, sudah Natal Bersama. Penuh semangat. Natal Bersama tingkat keluarga, kelompok sampai tingkat nasional. Luar biasa.
Waktu Perayaan Natal, ada gencatan senjata. Suami istirahat sejenak dan tidak mengomel pada sang istri. Natal, damai. Istri menyenangkan suami dengan hidangan kesukaan suami. Natal, pesta.
Bapa-Mama didatangi anak-anak, cium. Cium damai. Tetangga saling berkunjung, jabat tangan, berangkulan, lupakan saling caci kemarin karena ayam totok tanaman.
Natal, damai. Saling maki, ditunda, besok, sesudah Natal. Apalagi ada rentetan Tahun Baru, semua amarah disimpan dulu, ucapan `Maaf lahir bathin' mengalir dari segala bibir.
Entah itu muncul dari hati, misteri. Natal bersama di mall, di aula, di restoran, di lapangan, di kantor, di toko, wajar dan wajib. Kembang api, petasan, pertanda gebyar Natal dipadukan dengan saudara kandungnya, Tahun Baru.
Natal tahun lama, Tahun Baru yah, Tahun Baru. Dua pesta ini saling berpaut jadi satu. Toko makanan dan minuman diserbu karena mana ada orang yang mau rayakan Natal dan Tahun Baru tanpa makan dan minum ditambah pakaian baru. Ini semua Natal Bersama, lahiriah.
Bersama Natal. Entah apa pun istilahnya, hidup adil dan damai. Ada keadilan dan kedamaian. Orang Latin memakai istilah: Iustitia et Pax. Keadilan dan Kedamaian. Sumber Keadilan dan Kedamaian itulah yang menampakkan Diri dalam peristiwa yang kita namakan Natal, Kelahiran.
Allah masuk dalam sejarah manusia, menjadi Manusia. Itulah Natal. Tujuan Natal jelas: pax hominibus bonae voluntatis = damai bagi orang yang berkehendak baik, itulah Natal.
Kehendak baik itu tidak boleh hanya sebatas Natal Bersama yang diisi dengan renungan penuh kutipan Alkitabiah, mengharukan, mencengangkan, terkadang membingungkan juga.
Lintas Batas
Bersama Natal itu lintas batas. Istilah Natal itu khas kristiani. Tapi maknanya, perwujudan keadilan dan kedamaian itu tidak monopoli orang Kristen. Itu manusiawi, menyeluruh, mendunia. Yang namanya kita manusia ini, wajib hukumnya untuk Bersama Natal.
Bersama hidup dalam satu wilayah, dalam satu perkumpulan, di sana harus ada Natal, bersama Natal. Di kantor ada keadilan dan kedamaian. Itulah Natal. Di sekolah, kampus, asrama, ada Natal, setiap hari, bukan hanya bulan Desember.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/bersalaman_20160517_173612.jpg)