Bersama Natal Itu Lintas Batas

Hidup bersama dalam keluarga, ada kedamaian, ada keadilan, ada sukacita, ada persatuan hati. Itulah Natal. Ini tidak

Editor: Dion DB Putra
ilustrasi

Di Desa, Kecamatan, Kota, Kabupaten, Provinsi, Negara, Benua, Dunia, ada keadilan dan kedamaian, itulah yang namanya Bersama Natal, bukan sekadar Natal Bersama.

Bersama Natal itu tidak membuat batas antara rakyat dan pemerintah, antara pejabat dan anak buah. Tidak ada batas antara jenderal dan prajurit. Itulah bersama Natal.

Namanya sesama manusia, ada hak mutlak untuk hidup adil dan damai. Heran bahwa ada segelintir orang yang mau kaya sendiri, senang sendiri, berkuasa sendiri. Inilah keserakahan yang mengingkari hidup bersama Natal.

Segala daya dan upaya dikerahkan untuk tegakkan keadilan dan kedamaian. Itulah namanya bersama Natal. Yang pintar bantu yang dungu, bukan semakin membodohi.

Yang kaya menanam modal untuk sejahterahkan sesama yang bersama
mengembangkan modal itu atas berbagai cara. Inilah namanya usaha dagang dalam arti yang manusiawi sejati, tidak buncit sendiri. Yang cari kursi duduk lebih tinggi untuk angkat sesama di sekitarnya agar tidak terbenam dalam lumpur kemelaratan.

Inilah bersama Natal antara pengusung dan yang diusung. Jangan sampai yang diusung melekat di kursi dan yang mengusung telapaknya hangus di aspal.

Bersama Natal itu nampak dalam segala aspek kehidupan. Ilmu dan teknologi dicurahkan secara adil dan damai di bangku sekolah dan dunia kampus. Para Guru,
Dosen dan Tutor bersama peserta didik, mahasiswa dan peserta kursus berbagi ilmu dan teknologi untuk kemajuan masyarakat. Itulah namanya bersama Natal di dunia pendidikan.

Para petugas di Rumah sakit dan berbagai lembaga pendidikan untuk peningkatan kesehatan dan penanggulangan penyakit memfokuskan diri pada manusia agar sehat jasmani-rohani, tidak ada Rumah Sakit yang memetik manfaat laba berlebihan dari nasib para penderita penyakit, para petugas kesehatan menyapa si-sakit dengan senyum ramah, itulah perwujudan yang sungguh dari bersama Natal.

Bersama Natal itu penegakan kedamaian dan keadilan di semua jenjang kemasyarakatan, mulai dari keluarga sampai ke masyarakat seantero dunia.

Tidak boleh ada pertentangan antara yang namanya Palestina dan Israel, antara Korea Selatan dan Utara, antara Timur dan Barat. Natal bersama dirayakan di seluruh dunia.

Tetapi kita umat manusia lalai dalam hidup bersama dalam suasana Natal. Hapus perbudakan, hapus diskriminasi, hapus penjajahan, hapus kemiskinan. Itulah upaya bersama wujudkan Natal.

Bersama Natal itu hidup dalam suasana saling menghargai, saling membantu. Bukan saling menjelekkan dan mencelakakan. Dunia kita masih jauh dari hidup bersama Natal.

Kita masih berkutat pada Natal Bersama dengan segala Panitianya. Seremoni, perlu, tapi seremoni tanpa penghayatan dalam hidup nyata, sia-sia. Natal Bersama itu perlu untuk membangkitkan semangat persaudaraan.

Semangat itulah yang harus diwujud-nyatakan dalam berpikir, berkata dan berbuat yang terbaik untuk kepentingan sesama. Ini dimulai dari keluarga, meluas ke tetangga dan masyarakat luas.

Bersama Natal itu tidak membuat batas antar Agama. Natal itu memang khas tradisi Kristiani yang harus dipancarkan dan diwujud-nyatakan maknanya untuk semua manusia tanpa membedakan dia itu penganut Agama apa. Berdirilah di titik kemanusiaan, lalu meningkatkan itu pada tingkat Agama. Jangan terbalik. Berdiri pada titik Agama baru meningkat ke tingkat kemanusiaan.

Kita sama-sama manusia yang ber-Natal dalam arti menghayati keadilan dan kedamaian. Ini universal.

Seremoninya terbatas, tapi penghayatannya tidak terbatas. Gebyar Natal akan segera usai. Gema makna Natal terus memacu setiap kita untuk hidup saling merangkul dalam semangat kasih persaudaraan sejati. Natal Bersama menghantar kita ke Bersama Natal. *

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved