Deskriptif dan Preskriptif Mahar Politik

Dalam kajian keislaman, mahar itu sebagai pemberian sakral dan penuh ketekunan dan ketulusan sebagai bukti janji suci.

Editor: Dion DB Putra

Jauh dari hiruk-pikuk dukungan politik terhadap anak bangsa yang ingin menjadi calon anggota legislatif, dimana ada beberapa persoalan yang dapat menjadi diskursus soal mahar politik.

Berbeda dengan politk pilkada, legislatif dapat dibedakan beberapa konteks. Ada yang disebut melamar dan dilamar.

Pada konteks anggota legislatif, bisa saja peminat dari masyarakat umum yang melamar dan mendaftar jadi caleg, ada juga partai yang melamar kepada masyarakat.

Jika partai yang melamar, cenderung caleg ini memiliki nilai lebih terhadap elektabilitas dan dapat memberikan dan mendulang banyak suara. Secara otomatis, partai akan mendapat keuntungan dari banyaknya dukungan terhadap partai ini.

Pada konteks partai yang melamar, cenderung orang yang sudah punya nama besar, seperti artis, penyanyi top, bintang film, dan orang orang yang secara popularitasnya sudah bisa diprediksi banyak mendulang suara.

Pada porsi yang lain, sebenarnya masih ada saja partai yang tidak membahasakan mahar secara terang terangan terhadap pelamar umum, tetapi saat pendaftaran, sangat banyak prasyarat yang ternyata secara tersirat menggambarkan ada kutipan sejumlah dana untuk kepentingan administrasi dan kepanitiaan dan kebutuhan partai.

Pada titik ini sebenarnya tidak jauh beda dengan nama lain dari mahar itu sendiri. Jika yang disebut mahar adalah kesepakatan, tetapi saat pendaftaran sebagai caleg biasanya sebuah keharusan dan menjadi prasyarat. Tentu jika para caleg yang tidak bisa memenuhi prasyarat itu akan tereliminasi dengan sendirinya.

Pada porsi ini sebenarnya, ada diskursus lain yang menjelaskan soal kader dari partai itu sendiri yang ingin maju menjadi calon legislatif.

Pada konteks ini masih terlihat jernih partai politik tidak menggunakan mahar politik, tapi pada fakta tertentu, uang pendaftaran adalah cara lain untuk meminta pembayaran kepada caleg juga. Meski menggunakan cara lain tetapi ini membuktikan bahwa masih menggunakan dan mempraktikkan mahar politik juga.

Informasi publik memberi isyarat bahwa uang pendaftaran di beberapa partai juga tidak sedikit. Masih sangat memberatkan bagi calon legislatif berupaya mencari uang untuk kepentingan pendaftaran dan hal hal lain dari kebutuhan partai itu.

Meski ini tidak banyak yang memperbincangkan, hanya ini menjadi pintu masuk bagi partai politik dalam legalisasi praktek mahar politik dalam perpektif yang lain.

Mahar politik zaman now

Sudah selayaknya mendudukan posisi dan makna mahar sebagai ikatan sakral. Jika dimaknai sebagai ikatan sakral maka akan menjadi kekuatan sakral yang melahirkan kepentingan sakral.

Kepentingan besar dan berdampak pada kesejahteraan rakyat yang sesungguhnya. Mahar sakral seperti, membangun sumberdaya manusia yang baik, sayang terhadap warganya dengan menjaga diri dari sifat-sifat yang menyengsarakan.

Melakukan dan membesarkan daerah dengan sungguh-sungguh untuk kepentingan warga masyarakat. Semua masyarakat merasakan dampak baik dari kebijakan yang pro terhadap kepentingan semua.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved