Sikap Buruk Inilah yang Menodai Keindahan Alam Riung di Flores
Obrolan makan malam diselipi deskripsi singkat tentang apa yang dilihat sore tadi. Ada bagang dan perahu sedang rehat di pantai
Oleh : Dominggus Koro
Pemandu wisata berbahasa Prancis, Ketua DPC HPI Maumere
POS KUPANG.COM -- Rabu, 26 Oktober 2017. Waktu menunjukan pukul 17.25 ketika kami tiba di Pondok SVD, Riung.
Sesaat lagi matahari akan tenggelam untuk terbit di belahan bumi yang lain. Setelah memasukan tas ke kamar masing-masing, Patrick Molier dan tujuh kawannya berjalan kaki menuju dermaga. Mereka mau melihat pantai dan gugusan pulau yang akan dikunjungi esok harinya.
Obrolan makan malam diselipi deskripsi singkat tentang apa yang dilihat sore tadi. Ada bagang dan perahu sedang rehat di pantai yang sedang surut.
Hutan bakau menghijau, kontras dengan rona pebukitan yang kerontang. Beberapa ekor kelelawar mulai hilir mudik. Pendek kata, Riung menghadirkan kesan pertama yang menyenangkan.
Namun, asa senang kemarin kini berganti kecewa saat perahu kami berlabuh di pantai Pulau Tiga. Patrick mengumpat, "Merde!". Taik! Yang lain bergumam kecewa, menggeleng-gelengkan kepala. Betapa tidak.
Sampah plastik aneka jenis menjadi hiasan buruk di pantai berpasir putih halus. Sampah-sampah itu masih basah, dibawa air pasang yang perlahan mulai surut.
"Lautnya kotor ya, Pak", kata seorang wanita, yang lebih dulu tiba di Pulau Tiga bersama suami dan anaknya.
Meski bisa berbahasa Indonesia, Patrick menjawab dia dalam bahasa Prancis, "Ce n'est pas la mer qui est sale, mais les gens qui sont sales. On doit sensibiliser tous les indonesiens a ne pas jeter dans la nature!"
Bukan laut yang kotor tetapi manusia yang kotor. Kita mesti membuat semua orang Indonesia peka agar tak sembarangan membuang sampah di alam. "Setuju, Pak", timpal turis dari Bandung itu setelah tahu arti omongan Patrick.
Patrick beristrikan wanita Bali dan sudah lama menetap di Pulau Dewata. Pemilik usaha villa di bilangan Sanur ini mengajak teman-teman kelasnya di masa sekolah menengah untuk berlibur di Flores.
Kembali dari laut, Patrick menemui pegawai KSDA. Ia mengeluhkan sampah dan menasehati mereka agar tidak hanya menagih karcis tapi juga rutin membersihkan pantai. Salah seorang pegawai menjawab bahwa mereka pun melakukan apa yang disarankan. Hanya, itu tadi, pantai tetap saja kotor.
Kita memang mesti mengasah kepekaan untuk menghargai alam; bumi, laut dan sungai. Bumi penuh kasih. Menumbuhkan sumber-sumber makanan bagi keberlangsungan hidup warga kehidupan.
Menghadirkan aneka bunga yang menghibur mata, melembutkan rasa dan jiwa kita dengan keindahan dan keharuman.
Laut menyediakan sumber protein dan gizi. Kita bisa melepas stres dan beban kerja dengan ria bermain di hamparan pasir. Kita membasuh penat dan kotoran dengan mandi dan berenang di dalamnya.