Bahasa dan Kekacauan Babilonik

Tapi kata-kata tak berdosa. Dia tak punya agama, jenis kelamin, ideologi, partai, dan kepentingan. Dia netral, bebas, merdeka.

Editor: Dion DB Putra
ilustrasi

Oleh: Peter Tan
Mahasiswa STFK Ledalero Maumere, Flores

POS KUPANG.COM -- Kata-kata lebih tajam daripada pedang! Lebih sering ungkapan ini bukan sekadar konotasi. Tak hanya menjembatani, menyatukan dan merajut pengertian, kata-kata cukup sering membelah, melukai dan memicu konflik.

Kata-kata menyucikan sekaligus mengkafirkan, memuja sekaligus mengkambinghitamkan.

Tapi kata-kata tak berdosa. Dia tak punya agama, jenis kelamin, ideologi, partai, dan kepentingan. Dia netral, bebas, merdeka.

Manusia yang berkata-kata itulah yang mencemari `keperawanan' kata-kata. Manusia yang berkata-kata itulah yang memberi busana agama dan politik kepada kata-kata.

Lantas, permusuhan agama dan politik juga menjadi permusuhan kata-kata. Seperti agama dan kepentingan saling berperang, demikian kata-kata berperang melawan kata-kata.

Barangkali karena itu, Sumpah Pemuda 28 Oktober itu merumuskan gagasan cemerlang "bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan".

Indonesia yang plural perlu memiliki bahasa bersama, yang dipakai tidak saja untuk membangun identitas kolektif, melainkan terutama untuk membangun pengertian dan toleransi di antara kemungkinan besar munculnya aneka kesalahpahaman dan ketaksepahaman.

Kekacauan Babilonik

Bahasa adalah syarat kemajuan sekaligus titik lemah sebuah bangsa. Kira-kira itulah ide besar dalam mitos tentang menara Babel yang dikarang penulis Kitab Kejadian.

Mitos itu berkisah tentang manusia di bumi yang berbicara dalam bahasa dan logat yang sama. Mereka satu bangsa dengan satu bahasa untuk semua. Bahasa dan logat yang sama itu memungkinkan mereka berkomunikasi satu sama lain, berdiskusi, merencanakan dan membangun peradaban maju.

Tuhan menyaksikan semuanya. Dia bukan tak suka keseragaman bahasa itu, atau kesalingpahaman dan komunikasi yang muncul dari padanya.

Dia hanya tak suka dengan peradaban manusia yang semakin arogan. Maka Dia menceraiberaikan dan menyerakkan mereka dengan pertama-tama menghancurkan kekuatan manusia sekaligus titik lemahnya yaitu bahasa.

Itulah Babel: sebuah kota, entah nyata atau imajiner, di mana bahasa manusia `dikacaubalaukan' sehingga manusia terserak-serak, terpisah, saling melawan dan berperang demi kaumnya. Babel bukan saja kekacauan bahasa, tapi juga simbol kekacauan komunikasi dan pemahaman.`

Kekacauan babilonik' itu tak jauh dari realitas sehari-hari bangsa Indonesia. Bangsa ini adalah bangsa yang mudah tersinggung dan menyeruduk di ruang publik karena bahasa.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved