Tak Cukup Sekolah Ramah Anak

Soal prinsip dikoreksi selalu demi pertumbuhan dan perkembangan para siswa. Hal utama perihal sekolah ramah anak

Editor: Dion DB Putra
pos kupang/edy bau
ilustrasi 

Oleh: Linus Lusi
Fasilitator SRA penegakan Disiplin Positif WVI ADP Ende 2016, bekerja di Badan Pengelola Perbatasan Prov NTT.

POS KUPANG.COM -- Salam Pos Kupang Senin, 2/10/2017 menyoroti sisi pembelajaran para guru. Terdapat banyak kelemahan interaksi pedagogis dalam kesantunan budaya belajar.

Soal prinsip dikoreksi selalu demi pertumbuhan dan perkembangan para siswa. Hal utama perihal sekolah ramah anak dan sepak terjang para guru dalam kelas. Ideologi pembelajaran sekolah ramah anak, utamanya selalu memberi rasa aman dan memastikan layanan pendidikan bermutu terhadap siswa. Dua hal ini menjadi atribut wajib hukumnya terhadap para penyelenggara pendidikan.

Cita-cita luhur tersebut, setiap saat selalu saja ada pembelokan dengan aneka dalih pembelajaran. Kasus pembiaran siswa meracuni dirinya seperti dialami Ari Langoday, siswa SMP Satap Waiwaru Kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata sebagai bukti arogansi sang guru.

Masalahnya terjadi tekanan psikis akut dialami Ari karena disakiti,diperlakukan semena-mena oleh guru honorer. Akibatnya racun rumput pun diteguknya. Untung nyawanya tertolong setelah dirujuk ke salah satu rumah sakit di Kupang.

Kasus serupa terulang di SMPN 4 Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur, Bu Guru Yosephina Nartin menghukum siswanya menjilat kloset. Sedih. Menjijikan (Pos Kupang, Jumat 15/9/2017).

Perilaku demikian, akhirnya diberhentikan oleh Dinas Pendidikan Manggarai Timur sebagai upaya menyelamatkan wajah pendidikan dari sorotan. Kendatipun dinontugaskan namun trauma pendidikan secara kelembagaan maupun tekanan psikis diderita oleh siswa perlu waktu yang panjang dalam pemulihan psikis dan tekanan lainnya.

Mencermati situasi yang diangkat oleh media respon pemerintah begitu cepat, namun tak sedikit pula luput dari pantuan media yang mungkin lebih parah lagi. Dalam pemikiran demikian para guru dan pemangku kepentingan perlu urun rembuk lagi soal manajemen sekolah ramah anak.

Bagi saya sejak model sekolah ramah anak diperkenalkan di sekolah dasar tahun 2000-an malapraktek kekerasan lambat laun menepi seiring dengan berbagai model pelatihan pendampingan sekolah ramah anak. Karena kasus ini terlanjur menyita perhatian, bagi saya tak cukup sekolah ramah anak. Bingkai sekolah ramah anak yang dibangun seperti apa, diawali dari mana?

Disiplin Positif
Cara pandang guru terhadap siswa dalam pembelajaran hingga kini semakin bergeser ke arah penegakan disiplin positif. Kasus yang terjadi di atas tidak menjadi sebuah vonis kematian sekolah ramah anak. Tetapi menjadi bahan diskusi bagi sektor pendidikan untuk mencari alternatif pola pendekatan.

Para guru, pegawas dan pengampu kepentingan perlu difasilitasi pemahaman disiplin positif. Kekhasan disiplin positif dalam ranah sekolah ramah anak ditandai banyak hal. Di antaranya konsitensi sikap dan perbuatan sejalan.

Ketika diabaikan oleh siswa, penegakan disiplin positif siap menghadangnya. Karena pada dasarnya siswa senang ke sekolah disambut dengan kegembiraan. Hal ini menjadi beban tersendiri karena sebagian guru belum terbiasa dengan sikap yang ramah bersahaya.

Sisi kepribadian guru ada terkenal dengan sikap cuek, sinis,arogan terhadap para siswanya. Hasil survei yang dikutip oleh Save The Children mengingatkan guru selalu murah senyum, tegur, sapa menyebabkan anak merasa nyaman ke sekolah. Juga mendengarkan cerita anak, sebagai idola, berteman dengan siswa serta menyayangi siswa.

Merujuk pada disiplin positif maka segala aktivitas pembelajaran siswa dan penegakan disiplin selalu positif. Dari aspek pembelajaran dan pembiasan yang anti konotasi negatif sebagaimana diperankan oleh kedua guru disebutkan di atas.

Karena itu disiplin positif sekolah ramah anak mengharuskan guru memahami keunikan siswa, analisis lingkungan tempat tinggal siswa dan perkembangan siswa. Tujuan agar memberi sebuah disiplin serta memperhatikan situasi dan perkembangan siswa.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved