Tak Cukup Sekolah Ramah Anak

Soal prinsip dikoreksi selalu demi pertumbuhan dan perkembangan para siswa. Hal utama perihal sekolah ramah anak

Editor: Dion DB Putra
pos kupang/edy bau
ilustrasi 

Pada kasus SMPN 4 Poco Ranaka, Manggarai Timur tersebut, siswanya tak mampu berkutik akibat ketaatan semu . Akibatnya membelenggu nalarnya sehingga tidak mampu membedakan kloset itu seperti apa. Karena itu guru dalam konsep sekolah ramah anak disiplin positif selalu melibatkan siswa dalam desain perencanaan pembelajaran dengan konsekwensinya. Sehingga penalti disiplin positif apa yang didapatkan bukan hal baru. Asal logis, rasional yang dapat membentuk karakter positif. Nilai karakter ramah anak tidak terlepas keluarga ramah anak.

Keluarga ramah anak
Ramah anak merupakan sebuah ikon bangsa dan negara mini. Dalam pandangan Charles E, ciri keluarga ramah anak, dimunculkan dalam kalimat tanya. Apakah kedua orang tua sering bermain dengan anak?

Apakah semua anggota keluarga bersahabat satu sama lain? Apakah meluangkan satu hari sebagai hari keluarga? Suatu refleksi yang mendalam. Kita urai satu persatu menjadi bahan diskusi dapat menjadi seribu satu alasan.

Dalam pandangan kaum muda, mereka melihat keluarga ramah dalam ragam aktivitas. Seperti pandangan mahasiswa Angkatan Muda Mahasiswa Pelajar Asal Ile Ape Kupang (AMMAPAI) sebuah organisi kepemudaan lokal Lembata Kupang yang berdiri tahun 1982 memunculkan banyak hal (2012).

Di antaranya melatih anak berbicara terus terang, orang tua jangan selalu bersifat memerintah,mengajari anak untuk saling mengasihi, menepati janji terhadap permintaan anak yang disepakati dan menanyakan anak ketika masih di luar rumah.

Pernyataan para mahasiswa ini sebagai instrumen dalam keluarga untuk memperkuat sekolah ramah anak. Berbagai potensi negatif yang bersarang di kalangan mahasiswa lambat laun mencair seiring dengan ruang yang diberikan oleh orang tua terhadap pendapat dan harapan mereka.

Tak Cukup Sekolah Ramah Anak
Paparan di atas tak cukup buat sekolah untuk membiasakan ramah anak. Karena sekolah dengan karakter sosial, edukatif dan pembiasaan memiliki keterbatasan dalam banyak hal.

Maka peran serta masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat dan orang tua secara sadar mengadvokasi kesadaran kolekstif siswa dan guru untuk menghindari tindakan kekerasan terhadap siswa.

Dalil apapun tidak dibenarkan. Ada dua persepsi dikalangan guru senior. Seseorang guru melakukan tindakan kekerasan tanpa solusi pedagogik adalah sebuah kegagalan, karena guru diberi tugas keahlian untuk mendidik dan mengajar. Maka selalu diberi pemulihan panggilan keguruan dalam ragam model pelatihan, pembimbingan dan pembiasaan pembelajaran yang ramah non kekerasan terhadap para siswa.

Dalam periode tertentu kekhasan sekolah ramah anak, keluarga ramah anak dan disiplin positif dievaluasi. Dampaknya seperti apa? Apakah memberi dukungan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa atau menurunkan prestasi belajar. Jawaban tunggal. Survei UNICEF yang dipublikasikan tahun 2005 dalam implementasi sekolah ramah anak di NTT memberi hal positif.

Sekolah ramah anak dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Karena itu untuk mempertahankan wibawa lembaga dan guru di sisi lain,sekolah ramah anak tak cukup. Perlu penegakan disiplin positif, keluarga ramah anak dan lingkungan ramah anak. *

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved