Perawat Puskesmas Se-Kota Kupang Ikut Workshop Standard Asuhan Keperawatan
Workshop yang berlangsung di Hotel Neo, Jl Piet A. Tallo Kota Kupang terselenggara atas kerja sama PPNI NTT dan IPKKI NTT
Penulis: Agustinus Sape | Editor: Agustinus Sape
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Sebanyak 22 perawat utusan dari 11 puskesmas di Kota Kupang ditambah tujuh dosen keperawatan dan satu pengurus IPKKI mengikuti workshop penyusunan standard asuhan keperawatan individu, keluarga dan komunitas untuk 10 penyakit menular 01 puskesmas dengan pendekatan NANDA, SDKI, NOC dan NIC.
Workshop yang berlangsung di Hotel Neo, Jl Piet A. Tallo Kota Kupang pada tanggal 31 Agustus sampai dengan tanggal 2 September 2017 ini terselenggara atas kerja sama PPNI NTT dan IPKKI NTT.
Ketua DPW PPNI NTT, Aemilianus Mau, S.Kep, Ns, M. Kep, ketika membuka workshop tersebut di Hotel Neo, Kamis (31/8/2017), berharap kegiatan ini bisa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta sesuai dengan standard asuhan keperawatan.
Aemilianus mengatakan, workshop kali ini hanya melibatkan perawat dari 11 puskesmas di Kota Kupang, namun ke depan diharapkan menjangkau semua perawat puskesmas di seluruh NTT sehingga asuhan keperawatan pada waktunya akan memiliki standard yang sama.
Ketua Panitia Worshop, Margaretha Teli, S.Kep, Ns, MSc dalam laporannya menyebutkan tiga tujuan dari workshop tersebut, yakni mensosialisasikan diagnosa keperawatan Indonesia dan komunitas; meningkatkan pengetahuan dan kemampuan para dosen keparawatan komunitas dan perawat-perawat komunitas menyusun Standard Asuhan Keperawatan untuk 10 penyakit menular dan tidak menular terbesar di puskesmas; menyusun standard asuhan keperawatan komunitas pada tingkat individu, keluarga dan komunitas.

Menurut Margaretha, selama kegiatan ini para peserta akan difasilitasi/dilatih oleh Dr. Theresia S. Ralo, MPH dari Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Wiwin Wiarsih, S.Kp., M.N dari Universitas Indonesia, yang juga menjabat Wakil Ketua I Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas Indonesia (IPKKI) dan Dosen Departemen Keperawatan Komunitas; Ketua DPW PPNI NTT, Aemilianus Mau dan 5 orang panitia.
Metode yang dipakai adalah ceramah, diskusi, kerja kelompok penyusunan standard asuhan keperawatan untuk 10 penyakit menular dan 10 penyakit tidak menular yang sering terjadi di puskesmas.
Pada akhir workshop diharapkan tersusunnya modul Standard Asuhan Keperawatan untuk 10 penyakit infeksi menular dan penyakit tidak menular terbesar di puskesmas; meningkatnya kemampuan peserta menyusun standard Asuhan Keperawatan untuk 10 penyakit infeksi menular dan penyakit tidak menular terbesar di puskesmas; meningkatnya kualitas asuhan keperawatan pada tatanan komunitas.
Margaretha menyampaikan, kegiatan ini sepenuhnya dibiayai Pemerintah Australia melalui program Alumni Grant Scheme (skema dana hibah alumni) yang diadministrasikan oleh Australia Awards in Indonesia. Program ini terus berupaya memperkuat hubungan Australia-Indonesia dan mendorong para alumni dari Australia untuk menerapkan semua pengetahuan, keterampilan yang telah diperoleh dalam bentuk tindakan atau aksi nyata di masyarakat yang akan memberikan perubahan yang bermakna.
Kondisi NTT
Margaretha sebagai salah satu alumnus Australia mendapat kesempatan untuk mengajukan proposal kegiatan di bidang kesehatan kepada Australia Awards in Indonesia untuk mendapatkan Alumni Grant Scheme (dana hibah alumni). Alhasil, proposal yang diajukannya tentang asuhan keperawatan disetujui sehingga workshop ini bisa diselenggarakan.
Dia pun memaparkan kondisi kesehatan masyarakat NTT berdasarkan sejumlah riset. NTT merupakan salah satu provinsi dengan angka kejadian penyakit infeksi menular dan penyakit tidak menular yang tinggi di Indonesia.
TB masih merupakan beban di NTT. Fakta terkait dengan penyakit TB paru di Indonesia diitemukan 460.000 kasus baru/tahun, 67.000 Kasus meninggal karena TB atau sekitar 186 orang/hari, TB merupakan pembunuh no 1 di antara penyakit menular, 10 Penyakit pembunuh tertinggi di Indonesia (SKRT) 2004. Sementara di NTT berdasarkan hasil evaluasi beban TB di Nusa Tenggara Timiur tahun 2016 menunjukkan bahwa kita masih memiliki 5.682 kasus, tersebar di semua 21 kabupaten dan kota Kupang.
Usia 5 tahun ke atas merupakan penyebab kematian No 4 setelah stroke, diabetes dan hipertensi (Riskesda 2007).
Meningkatnya jumlah kasus resistensi terhadap pengobatan TB (Multi Drug Resistence/MDR) turut mempengaruhi pengendalian TB.