Breaking News

Kemerdekaan dan Kritik Bahasa

Dalam tiga poin penting sumpah pemuda, khususnya poin ketiga, tercantum dengan sangat jelas goresan tinta bersejarah

Editor: Dion DB Putra

Oleh: Fransiskus Sabar
Mahasiswa STFK Ledalero, tinggal di Ritapiret Maumere

Tidak ada elemen terluhur yang dimiliki suatu bangsa selain bahasa.
(Ernst Moritz Arndt)

POS KUPANG.COM -- Tidak dapat dimungkiri bahwa HUT ke-72 kemerdekaan RI yang baru saja kita rayakan secara kolosal merupakan buah dari kehadiran bahasa. Bahasa menjadi elemen kunci dalam sendi pembangunan Indonesia merdeka. Hal ini dapat dipotret dalam narasi bersejarah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Dalam tiga poin penting sumpah pemuda, khususnya poin ketiga, tercantum dengan sangat jelas goresan tinta bersejarah yang berbunyi "Kami (Bangsa Indonesia) berbahasa satu, bahasa Indonesia".

Tidak sampai disini, drama bersejarah tentang bahasa Indonesia ini kemudian dikukuhkan secara definitif menjadi bahasa nasional oleh Kongres Rakyat Indonesia pada Desember 1939 yang disponsori oleh GAPI (Gabungan Politik Inndonesia).

Bahkan jauh sebelum Negara Indonesia merdeka, kehadiran bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional menjadi senjata dan kekuatan baru bagi rakyat Indonesia. Bahasa menjadi kekuatan yang dapat mempersatukan dan mengikat kelompok-kelompok perjuangan kecil menjadi suatu persekutuan yang besar dengan rasa yang membakar semangat.

Bahasa Indonesia muncul sebagai kekuatan transenden yang berfungsi sebagai benteng sekaligus senjata yang mampu memukul mundur kekuatan pasukan penjajah (Belanda).

Sampai pada titik ini, apa yang pernah dicanangkan oleh Boris Pasternak melalui romannya yang berjudul Dokter Zhivago benar adanya bahwa bahasa mempunyai kekuatan yang dahsyat. Bahasa dapat "melicinkan batu" dan "menggerakkan roda kelincir" .

Blunder Berbahasa
Seiring perjalanan waktu dan gempuran arus teknologi yang semakin menggelora, sepertinya kekuatan bahasa yang sebegitu dahsyat menjadi semacam "cerita kejayaan masa lampau". Bagaimana tidak, bahasa yang dahulu dapat melululantahkan monster penjajah (Belanda) dan berhasil merangsang rasa nasionalisme bangsa, kini digempur sindrom berbahasa yang buruk serta dilanda oleh berbagai degradasi dan deviasi berbahasa yang semakin parah.

Penggunaan bahasa gaul yang semakin menduri pada dinding ke-baku-an bahasa Indonesia terus mencabik dan menjalar tak terbendung. Contohnya: dalam bahasa SMS, kata "kakak" ditulis dengan kata "kaks", atau frase "selamat malam" dipoles menjadi "met mlm", serta banyak frase bahasa gaul lainnya yang serupa dengan penyimpangan berbahasa di atas.

Selain penggunaan bahasa gaul yang masif-destruktif, bahasa juga secara terang-terangan diinstrumentalisasi oleh berbagai kepentingan politik. Bahasa menjadi sarana strategis untuk menjatuhkan lawan politik dan menjadi kendaraan yang praktis untuk melakukan kampanye hitam.

Dalam momen-momen ini juga bahasa cenderung dimonopolisasi sebagai sarana penyebaran berita palsu (hoax) yang bergenre agitatif-provokatif. Ruang publik serentak mengalami disorientasi fungsional dari ruang diskursus konstruktif yang bebas represi, bertransformasi menjadi locus dan arena yang penuh dengan fitnah, caci maki, kebencian serta manuver manipulatif. Ruang publik secara in se mengalami pergeseran makna.

Tidak sampai di sini, potret buram blunder berbahasa juga dipertontonkan secara terbuka oleh tokoh-tokoh besar dan pemimpin bangsa kita yang memonopoli bahasa Indonesia dengan menggunakan bahasa negara lain dalam forum formal.

Tentang hal ini, ujaran sinis Sudhamah dalam acara pengukuhan guru besar J.O.I Ihalauw di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga menjadi sangat relevan bahwa, "kita sudah mencapai kebhinekaan tetapi belum sepenuhnya mewujudkan ketunggalikaan", dan "kita memiliki bahasa tetapi belum sepenuhnya berbahasa secara cerdas dan pantas".

Kritik Bahasa
Rentetan praktik pereduksian makna bahasa dan blunder berbahasa di atas menjadi sindrom baru yang mengancam kemapanan ke-baku-an bahasa Indonesia. Ingat bahwa, "bahasa menunjukkan bangsa", demikian bunyi sebuah pepatah melayu klasik.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved