Kekitaan: Antara Anamnesis dan Amnesia
Berbagai cara hidup dari usaha memeroleh pengidupan dalam kesederhanaan hingga kepada yang paling kompleks
Mengkritisi Berbagai Fakta Bunuh Diri
Oleh: Vinsensius Nurdin
Guru SMAN 3 Borong, Kabupaten Manggarai Timur
POS KUPANG.COM -- Pergulatan hidup tidak pernah memerhitungkan kesiapan manusia untuk menghadapinya. Hidup menjadi perlombaan kewaspadaan manusia untuk melangkah maju sembari menenteng bendera kemenangan atau menutup muka sembari melambaikan tangan tanda menyerah.
Berbagai cara hidup dari usaha memeroleh pengidupan dalam kesederhanaan hingga kepada yang paling kompleks bertautan dengan seberapa kuat atau lemahnya kita menempatkan orientasi sebagai tujuan yang ingin digapai.
Secara metafisis cara berada manusia akan menentukan cara bertindaknya. Cara berada manusia demi tetap bertahan ditentukan seberapa berkualitasnya dia menghidupi kehidupan.
Adagium klasik Yunani kuno "hidup yang tidak direfleksikan tidak layak untuk dihidupi" sampai kepada kembaran pengertian resiprokal ilmu pengetahuan dalam literasi vivere deinde philosophare (hidup duhulu baru dapat berfilsafat/berkebijaksanaan) atau philosophare deinde vivere (berfilsafat dahulu baru dapat hidup) adalah bagian kecil horoskop kehidupan yang tanpa disadari terjaring dalam penjangkaran manusia dan lingkungannya yang terus memertanyakan identitas dirinya.
Refleksi untuk dapat memiliki kebijaksanaan sehingga dapat hidup secara layak dan bermartabat dan atau karena memiliki kebijaksanaan sehingga dapat menentukan cara hidup.
Semua uraian tentang manusia berujung kepada usaha sadar manusia memahami diri sendiri dan lingkungannya. Akan tetapi tetap ada celah yang sengaja dibuat manusia dengan menarik garis batas antara apa yang ada dalam kesejatian hidupnya yang digesek dalih privatisme ke ruang keegoisan yang individualistis.
Manusia yang dibentuk dari budayanya sendiri semakin lama diganti oleh budaya alien yang kelihatannya dipaksakan karena terlebur dalam keseragaman sosial tertentu. Konsep latah sosial dari ilmu psikologi sosial menjadi afirmasi yang cukup memberi pertimbangan akan hal ini.
Tingkat kesejatian manusia yang sudah lama diapik oleh para pendahulu hanya menjadi bahan ajaran sekolahan yang berhenti pada hafalan untuk memeroleh nilai plus atau minus.
Kesejatian manusia dalam budayanya jauh dari kesadaran dalam pola anamnesis. Term anamnesis dalam pengertian leksikal Yunani merujuk kepada peringatan akan sesuatu yang membuat subjek yang mengingat masuk ke dalam objek ingatan itu dan menjadi terlebur di dalamnya.
Anamnesis menjadi penting untuk digalakkan karena banyak manusia zaman kita yang telah melupakan nilai kebijaksanaan para pendahulu dan karenanya mudah terhempas dalam arus zaman. Kelupan massal di zaman kita akan penghargaan terhadap hidup menjadi pemicu munculnya berbagai problematika kehidupan yang tidak logis misalnya peristiwa bunuh diri.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi telah banyak membantu manusia. Dengan kemajuan ini pula, banyak informasi tentang permasalahan manusia dalam kesehariannya dipertontonkan atau diperdengarkan kepada khalayak ramai dan menuai perbincangan bervariasi.
Media memberi citra tersendiri dalam berbagai pemberitaan yang menonjolkan problematika manusia dari yang paling mulia sampai yang tidak masuk akal. Semua ini adalah dinamika hitam dan putih kehidupan manusia.
Sorotan dalam hubungan dengan hal ini adalah manusia yang menemui jalan buntu dengan mengakhiri hidupnya sendiri dan orang lain dalam peristiwa pembunuhan. Jalan pintas ini adalah bagian dari menyusutnya unsur kekitaan manusia dalam bentuk kealpaan beranamnesis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/depresi-bunuh-diri_20170318_154842.jpg)