Rabu, 29 April 2026

Pariwisata Nusa Tenggara Timur Butuh Branding

Dua even ini sungguh teramat besar dan penting menggemakan NTT ke dunia luar. Bukti kebesaran dan pentingnya

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Tour de Flores 2016 

Eksotisme Sumba dan pesona Flores itu ibarat produk. Tetapi produk itu masih ada di gudang. Disimpan rapi di gudang dan jauh dari jangkauan orang lain. Produk itu tidak ada manfaat apa-apa jika tidak diambil, diperkenalkan dan dijual ke luar. Ke luar daerah, ke luar negeri.

Ajang TdF dan Festival Sumba adalah cara paling jitu lagi kreatif menjual Sumba dan Flores ke luar. Di tengah gencarnya daerah lain mencari cara dan jalan menjual daerahnya ke dunia luar, Festival Sumba dan TdF mesti dipandang sebagai cara paling tepat mempromosikan Sumba, Flores dan NTT ke luar.

Ada yang protes. TdF hanya menghambur-hambur uang. TdF terlalu mahal di tengah kemiskinan rakyat Flores.

Benar! TdF butuh banyak biaya. Dan, untuk promosi dana perlu banyak. Pariwisata tanpa promosi nonsense. Omong kosong. Masing-masing pemerintah kabupaten di daratan Flores diminta mendukung dengan dana dari APBD sekitar Rp 1 miliar untuk TdF. Nominalnya besar, tetapi untuk promosi daerah sebenarnya dana ini terlalu kecil. Satu miliar rupiah untuk membuat daerah jadi terkenal. Heemmm.. kecil sekali.

Jujur mesti diakui, lebih dari 90 persen APBD kita di NTT datang dari pemerintah pusat. Mestinya jika punya good will, dana untuk TdF itu tinggal direncanakan dan dimasukkan dalam mata anggaran. Apalagi sektor pariwisata ditargetkan pemerintah pusat menjadi satu dari 10 sektor unggulan pendapatan nasional. Kalau tidak ada yang mem-politik-ing TdF, pastilah semua akan lancar-lancar saja. Beda haluan politik, membuat cara pandang jadi beda. Perbedaan cara pandang menyata dari kebijakan yang berbeda.

Ah, sayang kalau Festival Sumba dan TdF mesti dilihat secara politis. Eksotisme Sumba dan pesona Flores akan tenggelam dan hilang di tengah gemuruh dan gaduh di ruang politik. Kita mesti malu kalau tentang Sumba yang eksotis itu Taufik Ismail begitu terkenang.

Penyair besar dari luar NTT ini dengan bangga membandingkan Sumba dengan Uzbekistan dalam puisinya tahun 1970 berjudul Beri Daku Sumba.

Nusa Nipa kurang dikenal. Orang Barat memberi nama pulau yang bentuknya seperti ular yang sedang tidur ini dengan Flores. Terjemahan: bunga. Ya, disebut bunga karena indah memesona. Gunung dan bukit, lembah dan ngarai, sawah dan ladang di Flores membuat banyak misionaris Eropa tak mau kembali ke Eropa. I Remember Flores, begitu Tasaku Sato memberi judul bukunya. Begitu terpesonanya kapten Jepang ini semasa Perang Dunia II hingga dia menulis pengalamannya tentang Flores.

Siapa mengenal keindahan NTT kalau tidak diciptakan mereknya? Bagaimana wisatawan datang ke NTT kalau tidak ada branding-nya? Hanya dengan menciptakan merek, hanya dengan branding NTT akan dikenal di dunia. Pemda NTT bertekad menjadikan NTT destinasi wisata dunia tahun 2018. Kita dukung! *

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved