Selasa, 14 April 2026

Perihal Wisata Nonton Paus di Lembata, Sebuah Terobosan atau?

Lokakarya yang dihadiri sebagian besar pimpinan SKPD dan akademisi ini mendorong upaya pengembangan

Editor: Dion DB Putra

Komodifikasi
Di NTT, pada ranah budaya, entah disadari atau tidak, praktek komodifikasi sudah dan tengah menggerusi lokalitas dan orisinalitas kebudayaan masyarakat NTT. Di Lamalera, Lembata -kampung yang terkenal dengan tradisi perburuan Paus itu, melaut kerap menjadi komoditi wisata bagi para nelayan. Semangat melaut malah melejit ketika mereka bisa terbayar oleh para turis.

Di Bena -Bajawa, menurut catatan Stroma Cole dalam Tourism, Culture and Development: Hopes, Dreams and Realities in East Indonesia (2007), orang menenun tidak terutama karena cara hidup mereka atau demi melanggengkan tradisi menenun, tapi terutama demi segepok uang dari para turis yang datang berkunjung ke Bena.
Kisah miris di Lamalera dan di Bena ini barangkali juga terjadi di daerah lain di NTT.

Entahkah hospitalitas orang-orang Larantuka menyambut para tamu menjelang Semana Santa sungguh menjadi bagian integral dari tradisi keagamaan itu, atau sebaliknya hanyalah apa yang dalam sosiologi pembangunan disebut sebentuk komodifikasi berlabel `religius' di tengah arus ekonomi uang? Entahkah Tarian Caci di Manggarai kini masih tetap an sich menjadi tradisi seni orang-orang Manggarai atau sebaliknya hanya sebuah `jualan' di saat para penari bisa terbayar?

Entah ya, entah tidak! Namun patut disadari bahwa hal komodifikasi adalah dampak yang memang sering sulit dihindari dari arus kapitalisme dewasa ini. Apa pun bisa jadi komoditi, bisa jadi uang. Kekayaan budaya pun bisa jadi uang. Dan demi uang, konsekuensi yang mungkin paling berat harus ditanggung adalah di satu pihak mengutamakan interese para customer, para turis, mereka yang beruang dan di lain pihak, orisinalitas dan identitas asali kekayaan budaya pun bisa dikorbankan.

Lalu, kalau demikian yang terjadi, apakah kita tetap juga lantang mengatakan masyarakat NTT memang sedang mewarisi kebudayaan leluhurnya? Sering kita dengar lontaran yang sangat klise, bahwa ekonomi masyarakat NTT bisa didongkrak antara lain melalui pariwisata budaya.

Hal itu kedengaran luar biasa, tetapi juga tersimpan logika kapitalis yang juga tak kalah luar biasa, seperti halnya pada industri pertambangan atau misalnya rencana `penyulapan' Pantai Pede di Labuan Bajo, yang gencar ditolak di NTT. Maka, demi uang, kekayaan budaya pun bisa dimodifikasi, dilakonkan seturut kehendak wisatawan atau mereka yang beruang dengan resiko sangat mungkin terjadi adalah orisinalitas nilai dari kekayaan budaya itu dapat tergerus. Ini serupa hukum pasar, hukum jual beli; bahwa apa yang kita punyai dan hanya bisa terjual sekurang-kurangnya bisa memenuhi apa yang menjadi harapan pembeli, pengunjung atau mereka yang beruang.

Hemat saya, cara pandang semacam itu mesti dibalik dengan melihat bahwa kekayaan budaya yang dimiliki adalah hal yang patut dijaga sebagai cerminan identitas kolektif masyarakat dan dihidupi sebagai cara hidup.

Dan, karena itu, sebagai konsekuensi dari penghidupan itu adalah antara lain bisa mendatangkan uang atau bisa mendongkrak ekonomi masyarakat NTT. Maka, yang menjadi tugas dan tanggung jawab utama kita di NTT adalah menghidupi budaya, bukan terutama demi uang, tetapi demi terjaganya orisinalitas nilai dan identitas kolektif masyarakat NTT. Lalu menjadi pertanyaan sekarang: apakah bisnis bernama "wisata nonton paus" pas dengan lokalitas dan tradisi NTT? *

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved