Kamis, 9 April 2026

Wafatnya Kiai NU Ini Didoakan Umat Katolik dalam Perayaan Ekaristi

Meninggalnya KH Mahfudz Ridwan, pengasuh Pondok Pesantren Edi Mancoro tidak hanya menimbulkan kesedihan mendalam bagi keluarga besar Nahdlatul Ulama (

Editor: Alfred Dama
Duta besar Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik (berkacamata) berbincang dengan KH Muhamad Ridwan LC, pengasuh Pondok Pesantren Edi Mancoro, desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Rabu (24/2/2016) siang.(Kompas.com/ Syahrul Munir) 

POS KUPANG.COM, UNGARAN -- Meninggalnya KH Mahfudz Ridwan, pengasuh Pondok Pesantren Edi Mancoro tidak hanya menimbulkan kesedihan mendalam bagi keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU). Umat agama lainpun ikut merasa kehilangan.

Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (HAK KAS) sekaligus pastor rekan di Paroki Ungaran, Romo Aloys Budi Purnomo mengatakan, menjelang sakramen perayaan Ekaristi, Minggu (28/5/2017) sore, ia mendapat kabar duka bahwa Kiai Mahfudz meninggal dunia.

Saat itu, Romo Budi mengajak umat Katolik yang hadir dalam Misa Minggu Paskah VII di Gereja Kristus Raja, Ungaran, berdoa bagi Kiai Mahfudz.

"Misa sore ini saya persembahkan untuk mendoakan guru, sahabat, dan tokoh bangsa kita, KH Mahfudz Ridwan yang berpulang ke pangkuan Allah tadi siang. Semoga bahagia dalam damai di surga," ungkap Romo Budi mengumumkan kepada umat di awal Ekaristi.

Romo Budi juga menyempatkan untuk berbelasungkawa secara lansung kepada keluarga almarhum dengan mendatangi rumah duka di Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Minggu malam.

"Aku berlutut berdoa di dekat jenazah Abah Mahfudz Ridwan tadi bada tarawih sesudah beliau dikafani," ujarnya.

Baginya, Abah (panggilan Romo Budi untuk KH Mahfudz Ridwan), bukan saja pengasuh pesantren. Kiai sepuh NU dan Mustasyar PBNU ini juga sahabat karib mendiang KH Sahal Mahfudz dan sahabat karib KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Bagi Romo Budi, sosok Kiai Mahfudz adalah pribadi yang ramah dan bersahaja. Kebetulan setiap tahun "Romo Saksofonis" ini selalu menyempatkan untuk bersilaturahmi kepada Kiai Mahfudz pada hari pertama perayaan Idul Fitri.

"Kadang sendiri, kadang bersama rombongan suster dan umat. Kadang juga bersama mendiang Mgr Johannes Pujasumarta dan terakhir pada Lebaran tahun lalu bersama Romo FX, Administrator Diosesan Keuskupan Agung Semarang. Abah sungguh luar biasa rendah hati," kenang Romo Budi.

Setiap kali datang, sambung Romo Budi, Abah selalu menyambut dengan ramah dan penuh canda. Ia ingat betul ucapan yang selalu mengiringi perjumpaannya dengan sahabat Gus Dur ini.

"Ngaturaken sugeng Riyadi, mugi kalepatan kawula kalebura ing dinten Riyadi punika (Selamat Hari Raya, semoga kesalahan saya dilebur di Hari Raya ini)," kata Romo Budi.

Ucapan Romo Budi ini lantas dijawab Kiai Mahfudz dengan ramah dan rendah hati. "Sami-sami Romo, kita dungo-dinonga amrih tentreming bangsa kita (Hal yang sama Romo, kita saling mendoakan agar bangsa kita damai sejahtera)," tutur Romo Budi menyepertikan ucapan Kiai Mahfudz. 

Menurut penuturan putranya, Muhammad Hanif Mahfudz atau Gus Hanif, sambung Romo Budi, Abah sakit selama 13 hari. Sakit itu merupakan bagian dari sakit yang diderita Abah sekian tahun silam.

Pernah dalam suatu kesempatan berkunjung, Romo Budi yang biasanya datang bersama mendiang Uskup Mgr Johannes Pujasumarta, kala itu datang sendiri. Saat itu Kiai Mahfudz sedang sakit.

Namun dalam kondisi sakitnya, Kiai Mahfudz tetap mengingat Romo Puja, panggilan Mgr Johannes Pujasumarta. "Spontan beliau yang kala itu juga sedang sakit langsung bertanya, Kados pundi kabaripun Romo Puja (Bagaimana kabarnya Romo Puja)," tuturnya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved