Kamis, 30 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Kamis 30 April 2026, "Akulah Dia"

Yesus tidak hanya mengajar, tetapi mengutus murid-murid-Nya untuk melanjutkan karya keselamatan.

Tayang:
Editor: Eflin Rote
DOK. POS-KUPANG.COM
RENUNGAN - Bruder Pio Hayon SVD menyampaikan Renungan Harian Katolik. 

Renungan Harian Katolik
Oleh: Bruder Pio Hayon, SVD
Hari Kamis Biasa Pekan Paskah keempat– 30 April 2026
Bacaan I:  Kis. 13:13-25
Injil:  Yoh. 13:16-20
Tema: “Akulah Dia”

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Dalam Hari Kamis pekan Paskah keempat, Gereja menuntun kita melihat bahwa iman yang bertumbuh selalu membawa kita pada perutusan.

Yesus tidak hanya mengajar, tetapi mengutus murid-murid-Nya untuk melanjutkan karya keselamatan.

Hari ini, Injil memperlihatkan sikap yang perlu menyertai perutusan itu: kerendahan hati, menerima martabat Sabda yang diwartakan, dan menyadari bahwa orang yang menerima utusan sedang berhadapan dengan Kristus sendiri. Tema khusus hari ini terungkap dari Injil: “Menerima utusan Tuhan.”

Saudara-saudari terkasih. 

Dalam bacaan  ini (Kis 13:13-25) Paulus dalam kotbahnya mengingat perjalanan sejarah keselamatan: Allah memilih bangsa-Nya, memelihara, dan menyiapkan jalan melalui janji-janji-Nya.

Penekanannya bukan pada “cerita masa lalu”, melainkan pada kebenaran bahwa Allah setia pada janji dan membawa pemenuhan keselamatan dalam diri Yesus. Dengan demikian, pewartaan selalu bersumber pada karya Allah yang nyata.

Sementara dalam Injil (Yoh 13:16-20) Yesus menegaskan bahwa murid tidak lebih daripada gurunya, dan utusan tidak lebih daripada yang mengutusnya. Siapa menerima utusan berarti menerima pengutus.

Maka, ketika murid menjalankan tugasnya, ia bukan berdiri atas namanya sendiri; ia membawa dan mewartakan apa yang berasal dari Kristus. Poin refleksi kita adalah “Cara respect”: Apa yang kita hormati saat berhadapan dengan pewartaan dan pelayanan?

Permenungan kita: saat mendengar Sabda atau menerima nasihat rohani, apakah kita mendekati dengan sikap terbuka atau sekadar menghakimi karena pembawa pesan manusia? Hari ini, belajar menghormati karya Allah di balik setiap utusan.

“Kecil dihadapan Kristus”:  Dalam Injil menyebut bahwa murid tidak lebih dari gurunya. Ini berarti perutusan bukan ajang pamer diri.

Permenungan kita: apakah kita tergoda untuk mencari sorotan dalam pelayanan/kehidupan beriman agar kita diakui, dipuji, atau merasa “paling benar”?  “Allah setia pada janji”: di manakah kita perlu mempercayakan masa depan kita?

Bacaan pertama mengajak kita melihat kepastian Allah. Permenungan kita: renungkan satu pergumulan yang belum jelas: apa yang bisa kita serahkan karena kita percaya Allah bekerja dalam sejarah dan langkah kita, bukan hanya dalam keinginan kita sendiri.

Saudara-saudari terkasih,

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved