Jaya Merah Putih

Pasca vonis Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok atas kasus penistaan agama, seluruh nusantara seakan mengamuk atas realitas

Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG.COM/ROBERT ROPO
ilustrasi 

Artinya, diskriminasi bisa memperkuat stereotip dan prasangka; stereotip bisa menyebabkan orang berprasangka; dan orang menggunakan stereotip untuk memperkuat perasaannya. Hal tersebut pada akhirnya akan memfragmentasikan bangsa ini ke dalam bagian-bagian primordialis dengan Ahok (dan latar belakangnya) sebagai objek persepsi. Di satu pihak, ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa putusan peradilan yang telah ditetapkan adalah bagian dari proses hukum prosedural sesuai dengan prinsip keadilan.

Namun, di pihak lain ada sebagian masyarakat Indonesia yang menilai putusan hakim sebagai bagian dari bentuk diskriminasi minoritas atas tuntutan mayoritas sehingga penegakan keadilan dianggap gagal dalam kasus tersebut. Hal tersebut pada akhirnya akan menimbulkan prasangka negatif terhadap kelompok tertentu yang berhujung pada konflik horizontal akibat lunturnya nilai nasionalisme.

Komunikasi Antarbudaya
Dalam pandangan Ilmu Komunikasi, konflik horizontal yang mendera bangsa Indonesia akibat prasangka sosial dan lunturnya nilai nasionalisme tersebut bisa diredam dengan penerapan konsep efektivitas komunikasi antarbudaya yang oleh Jurgen Habermas disebut sebagai pemahaman kritis.

Liliweri menyatakan bahwa komunikasi antar budaya yang efektif adalah interaksi antar budaya dimana pelaku-pelaku di dalamnya mampu menjaga keseimbangan dan relasi komunikasi di antara dua kebudayaan yang berbeda.

Dengan demikian bila seseorang belum mampu menghadapi dan menerima perbedaan-perbedaan budaya maka ia belum berkomunikasi antarbudaya secara efektif. Hal itu pada akhirnya mampu memperbaiki kerusakan simetrisitas sosial yang oleh Muhamad Damm disebut sebagai kematian partikular. Simetrisitas sosial adalah relasi antara manusia dengan dirinya (intra subyektif) dan dengan orang lain (antar subyektif).

Pola komunikasi antarbudaya yang efektif pada dasarnya memiliki tiga fungsi utama, yakni fungsi integrasi sosial, fungsi kognitif, serta fungsi sosialisasi nilai. Fungsi integrasi sosial berarti komunikasi antar budaya adalah "penyatu" bagi orang-orang yang terlibat dalam proses komunikasi itu sehingga setiap orang akan berupaya untuk saling menghargai dan menerima satu sama lain.

Dengan demikian akan tercapai suatu integrasi sosial dan menghindari berbagai konflik horizontal. Kemudian fungsi kognitif berarti komunikasi antar budaya memberikan pengertian dan pengetahuan kepada setiap orang yang melakukan proses komunikasi sehingga mengetahui dan memahami identitas setiap pribadi. Hal itu bisa meminimalisir stereotip dan prasangka sosial sehingga terwujudnya nilai toleransi dan kesetaraan. Dan yang terakhir adalah fungsi sosialisasi nilai yang berarti bahwa komunikasi antar budaya merupakan bagian integral dari proses pembelajaran dan pewarisan nilai-nilai luhur seperti kebhinekaan, toleransi dan kesetaraan bagi sesama dan generasi selanjutnya.

Secara historis, kejayaan merah putih diperoleh dengan peluh, darah, dan nyawa para pejuang dan pewaris generasi sebelumnya. Hal itu diperkuat oleh semangat nasionalisme sebagai ikatan persaudaraan yang kuat karena memiliki Indonesia dan segala isinya sebagai sebuah keluarga besar, yakni bangsa Indonesia. Indonesia bukan milik segelintir orang yang dengan arogansinya menentang kekuatan Pancasila sebagai common platform atau pemersatu utama di atas segalanya.

Indonesia juga bukan milik segelintir orang yang ingin mendiskriminasi minoritas oleh dominasi mayoritasnya. Indonesia juga bukan milik segelintir orang yang dengan arogansinya menentang mayoritas dan hukum akibat prasangka negatif yang pada akhirnya akan terpola dalam arus antagonisme kelompok. Namun, Indonesia adalah milik segenap bangsa Indonesia yang bersatu dalam perbedaan dan mencintainya dalam nuansa demokratis yang adil, egaliter, dan pro populis.

Eric Weil (1904-1977), seorang pemikir dan aktivis perdamaian meyakini bahwa setiap orang adalah pembawa kedamaian dan bertanggung jawab untuk melestarikan perdamaian itu. Hal itu menjadi bukti bahwa semua orang (terutama mahasiswa) harus memiliki kesadaran sosial dan keyakinan sebagai pendorong tindakan sosial demi perdamaian.

Mengapa? Karena perdamaian bisa menjadi nyata dalam kehidupan bersama yang diwarnai oleh kerja sama, dialog, solidaritas, saling menghormati, saling menghargai, saling menolong dan hidup bersaudara. Selain itu, toleransi dan semangat antar budaya juga mampu melestarikan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Hal itu secara tidak langsung mampu mengembalikan citra moderat-rasional bangsa ini ke arah yang lebih baik tanpa diskriminasi dan politik primordialis. Maka dari itu, marilah kita menjaga semangat nasionalisme dalam lingkaran komunikasi antarbudaya untuk stabillitas bangsa yang lebih baik. Jaya Merah Putih!

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved