Jaya Merah Putih
Pasca vonis Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok atas kasus penistaan agama, seluruh nusantara seakan mengamuk atas realitas
Oleh: Mario Djegho
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Undana, Kupang
POS KUPANG.COM - Belakangan ini kondisi dan situasi bangsa sedang mengalami sebuah guncangan (shock). Media massa lokal maupun nasional selalu mengangkat topik seputar kasus Ahok dengan racikan redaksional yang berbau sosial-politik, sosial-budaya, hingga sosial-religi.
Pasca vonis Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok atas kasus penistaan agama, seluruh nusantara seakan mengamuk atas realitas peradilan yang jauh dari implementasi keadilan. Hukum sebagai panglima tertinggi seolah tidak berdaya menghadapi tuntutan massa mayoritas ketimbang penegakannya sebagai solusi terakhir atas sebuah problematika.
Hal itu pada akhirnya menimbulkan kekecewaan dan kemarahan dalam diri masyarakat Indonesia sehingga bangsa ini terfragmentasi dalam beberapa bagian primordialis yang menyimpang dari manifestasi Bhineka Tunggal Ika.
Beberapa daerah di seluruh lapisan nusantara menyelenggarakan aksi seribu lilin untuk mendukung penegakan hukum yang adil, egaliter, dan pro populis. Namun, jika ditelisik secara lebih mendalam, guncangan dalam diri bangsa Indonesia sebenarnya sedang mengoyak semangat nasionalisme sehingga merah putih seakan sedang menitikan air mata. tulisan sederhana ini merupakan sebuah hasil refleksi penulis atas realitas bangsa Indonesia yang sebenarnya merindukan sebuah perdamaian yang adil, egaliter, dan pro populis.
Berangkat dari pemahaman kritis yang oleh Jurgen Habermas disebut reflektivitas, yakni suatu proses permenungan yang berguna dalam membaca dan menafsirkan dinamika demokrasi, maka seluruh rakyat Indonesia harus merenungkan kembali semangat nasionalisme sambil menafsirkan semua realitas demokrasi dalam kerangka dialog antar budaya.
Bangsa Indonesia merupakan bangsa pluralis dan multikulturalis. Sebagai bangsa pluralis, masyarakat Indonesia dianugerahi keanekaragaman secara etnisitas sehingga dituntut suatu kesetaraan tanpa membeda-bedakan. Masyarakat pluralis sangat mengecam adanya diskriminasi dan penindasan terhadap kelompok tertentu.
Sedangkan sebagai bangsa multikulturalis, masyarakat Indonesia dianugerahi kemajemukan dalam latar belakang yang berbeda, terutama dari segi kepercayaan sehingga dituntut suatu sikap toleransi untuk saling menghargai.
Dalam pandangan komunikasi antar budaya, perbedaan merupakan sebuah realitas universal yang niscaya karena manusia adalah mahkluk sosial. Maka dari itu, bangsa Indonesia adalah bangsa beragam dan majemuk yang menjadikan perbedaan sebagai landasan persatuan.
Melunturkan Jati Diri Bangsa
Belakangan ini realitas bangsa seolah menampilkan sebuah paradoks atas identitasnya sendiri. Masyarakat Indonesia terbentur oleh berbagai konflik horizontal yang selalu melekatkan isu suku, agama, ras, dan antar golongan sebagai tema utama. Adanya diskriminasi dan pengecualian tertentu menjadikan bangsa ini melepas status pluralis yang seharusnya memperjuangkan kesetaraan.
Perbedaan etnis dan ras menjadi persoalan ketika stereotip masa lalu selalu melabelkan sekelompok etnis tertentu sebagai "biang keladi" kehancuran bangsa dan stabilitas negara. Di lain pihak, persoalan agama pun kini menjadi isu sensitif yang selalu mampu memantik kemarahan pihak-pihak tertentu yang belum mampu mandiri secara moderat. Mandiri secara moderat berarti berintegritas secara karakter, berintelektual secara pengetahuan, dan berdikari secara kapital serta netral dan bijak dalam mengambil sikap dan keputusan.
Entah mengapa agama menjadi batu sandungan sehingga maraknya penolakan melalui demonstrasi dan aksi provokatif telah melunturkan jati diri bangsa ini sebagai masyarakat multikulturalis. Bangsa Indonesia sebenarnya adalah bangsa yang moderat, tetapi sikap dan perilaku sekelompok orang telah merusak nilai persatuan dan nasionalisme bangsa ini melalui isu-isu tertentu yang berbau SARA.
Kebhinekaan dan persatuan adalah dua hal utama yang menjadi pijakan keberlangsungan bangsa Indonesia yang pluralis dan multikulturalis. Perbedaan merupakan sebuah realitas universal yang mutlak dan tidak bisa dihilangkan melainkan harus dipersatukan dalam bingkai nasionalisme. Anderson (via Damanik, 1981 : 6-7) menyatakan bahwa nasionalisme merupakan suatu ikatan persaudaraan horizontal yang menjadi dasar bagi anggota sebuah bangsa untuk mengikat diri dalam entitas suatu bangsa.
Guncangan dalam diri bangsa Indonesia sebenarnya telah mempolarisasikan masyarakat Indonesia dalam beberapa kelompok dengan perspektifnya masing-masing pasca vonis Ahok akibat prasangka tertentu. Taylor dkk (via Rahman, 2013 : 240-241) menyatakan bahwa prasangka merupakan bagian dari group antagonism (antagonisme kelompok) setelah stereotip dan diskriminasi.
Prasangka merupakan perasaan negatif terhadap out-group (kelompok di luar pengamat). Sedangkan stereotip adalah keyakinan mengenai karakteristik tertentu dari anggota suatu kelompok dan diskriminasi ialah perilaku merendahkan orang lain akibat keanggotaannya dalam kelompok tersebut. Ketiga komponen tersebut saling berhubungan dalam sebuah realitas antagonisme kelompok.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/para-siswa_20161130_095200.jpg)