Andmesh, Kebangkitan Mutiara (Hitam) NTT

Awalnya, penulis tidak percaya ketika alumni SMA N 3 Kupang itu ikut RSI. Pasalnya, siapa yang mengantarnya ke studio RCTI atau

Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/ENOLD AMARAYA
Juara the Rising Star Indonesia 2016 melakukan selfie di hadapan penggemarnya sebelum konser di alun-alun Rumah Jabatan Gubernur NTT di Kupang, Jumat (31/3/2017) malam. 

Mengapa? Andmesh telah membuktikannya ketika ia mampu bersyukur dengan apa yang diterimanya ketika bernyanyi di kafe-kafe Kota Kupang, walaupun nilainya kecil. Bahkan kita semua pasti setuju, apa yang kebanyakan orang bilang, mensyukuri hal-hal sederhana, pasti ada hal-hal luar biasa yang Tuhan siapkan untuk kita. Inilah yang dilalui Andmesh.

Kedua, semangat mengeksplore talenta dibidang tarik suara. Pada titik ini, Andmesh menunjukkan talentanya. Bukan dengan nada tendensius saya menjudge generasi muda di NTT. Namun, hampir pada umumnya generasi muda kita justru `mengurung' potensi diri mereka.

Mereka justru tidak merasa percaya diri dan percaya dengan talenta dan potensi yang dimiliki. Namun, apa yang dilakukan Andmesh, memutuskan untuk mengikuti ajang-ajang lomba di tingkat lokal adalah bentuk dia mengeksplore talenta dan bakatnya hingga menjadi juara dalam ajang RSI 2017.

Ketiga, ia tidak merasa sombong. Ketika mendapatkan pujian dari para penggemar atau reward (penghargaan) dari panitia RSI yang sangat fantastis besar. Hal itu tak membuatnya besar kepala. Pada malam final RSI 2, kita menyaksikan kesederhanaan Andmesh bahwa apa yang diperolah adalah pemberian Tuhan dan dukungan masyarakat NTT.

Hemat saya, ia sudah terbiasa dengan hal-hal sederhana, sehingga ia tak perlu merasa sombong. Kini yang dilakukan Andmesh adalah bersyukur atas apa yang diterimanya. Ini bukti, perjuangan, kerja keras, ketabahan, kesetiaan dan ketekunan dalam mengasah dan mengeksplore kemampuan yang sebelumnya dianggap biasa, namun berubah menjadi luar biasa.

Keempat, terbuka dan siap menerima saran dan kritikan orang lain. Di tengah kompetisi dalam ajang tersebut, putra Alor tersebut telah menunjukkan sikap terbuka dan menerima setiap krikan dari para expert, baik yang destruktif maupun konstruktif. Percaya atau tidak, hari-hari ini generasi di NTT, masih saja alergi dengan kritikan. Padahal, saran dan kritikan tersebut akan berujung pada perbaikan diri untuk menjadi lebih baik.

Kelima, tahu menempatkan diri bahwa di balik kesuksesan, pasti ada dukungan orang lain. Dukungan masyarakat Indonesia, khususnya NTT tak membuat Andmesh lupa daratan, ucapan terima kasih terus `mengalir' di bibirnya, lantaran apa artinya sebuah keberhasilan tanpa dukungan doa dan kerja keras orang-orang lain. Pada tataran ini, keberhasilannya harus menjadi batu loncatan baginya, bahkan bagi semua generasi muda NTT untuk mengeksplore potensi diri.

Hapus Stigma Negatif NTT
Semangat anak-anak muda seperti Andmesh, Mario Klau dan Azizah setidaknya perlahan hendak menghapus "stigma-stigma negatif" terhadap NTT. Pasalnya mereka telah menunjukkan bahwa NTT itu tak selamanya memiliki wajah buram. Pada titik ini, hemat saya, mereka telah mengangkat wajah NTT di kancah nasional. Andmesh misalnya, dalam setiap kali penampilannya pun selalu menggunakan busana dengan motif tenunan NTT. Ini juga menunjukan kecintaan terhadap daerah NTT serta jiwa nasionalisme yang dimiliki seorang Andmesh.

Fenomena ini sejatinya membuka mata dan hati kita bahwa sebenarnya ada Andmesh-andmesh lain di NTT yang belum muncul di permukaan. Dukungan masyarakat dan pemerintah mutlak dibutuhkan, karena ini bukan saja soal individu (Andmesh), namun soal nama daerah asal pun menjadi taruhan.

Ketika mendengar Andmesh, orang juga pasti mengatakan dari NTT. Nama NTT pun menjadi semakin tersohor dengan talenta dan prestasi anak daerah. Karena itu, terima kasih atas dukungan semua pihak yang telah mendukung Andmesh, baik lewat doa maupun vote.

Dengan juara tersebut, harapan saya, Andmesh bisa menjadi sumber inspiratif, motivasi, semangat dan kebangkitan bagi generasi NTT yang lain untuk mengeksplore bakat, minat dan talenta yang dimiliki. Dengan demikian semakin menghapus stigama negatif terhadap NTT. Bangkitlah mutiara hitam NTT. Semoga.*

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved