Politik Sarungan

Bukan pertama kali Presiden Joko Widodo mengenakan sarung. Namun, berjas-sarung-peci-sandal di acara resmi,

Editor: Rosalina Woso
Biro Pers Setpres
Presiden Joko Widodo sebelum menaiki pesawat kepresidenan untuk bertolak ke Semarang, Jawa Tengah dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Minggu (8/1/2017). 

Peci pun amat politis, bentuk perlawanan terhadap imperialisme. Para pendiri bangsa pada awal abad ke-20 rata-rata mengenakan peci untuk menumbuhkan heroisme dan nasionalisme.

Pendiri bangsa, seperti HOS Cokroaminoto atau Tjipto Mangunkusumo, pun melepaskan belangkonnya.

Bisa jadi karena simbol perlawanan, sejumlah tokoh dunia juga bangga dengan pakaian kebesarannya.

Pejuang Palestina Yasser Arafat (1929-2004) selalu berseragam militer lengkap dengan kafiyeh-nya.

Mantan PM India Jawaharlal Nehru (1889-1964) selalu tampil dengan achkan, pakaian khas India.

Mantan PM Myanmar U NU (1907-1995) selalu berpakaian khas longyi, mirip sarung Indonesia. Pendiri Tiongkok, Mao Tse Tung (1893-1976), selalu berbaju safari khas model zhongshan.

Jokowi seperti mengingatkan kembali tentang simbol kepribadian nasional, di tengah ancaman terhadap kebinekaan.

"Kalau ada yang mau macam-macam, Bapak Presiden, Pak Wapres, panggil saja kita," tegas Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri di arena perayaan HUT ke-44 PDI-P, Selasa (10/1).(Kompas.Com)

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved