Optimisme Menghapus Stigma Miskin
Polemik pun bermunculan, baik yang pro maupun kontra terhadap data yang dirilis BPS itu. Kelompok masyarakat yang pro lebih
Semangat optimisme agar keluar dari kondisi miskin harus menjadi pegangan bagi siapapun dengan merevolusi cara berpikir mulai dari pemerintah sampai masyarakat. Revolusi berpikir menjadi hal yang utama diperlukan. Walaupun program pembangunan membanjiri NTT seperti yang ada sekarang, tetapi kalau cara berpikir masyarakat tidak berubah, maka kemiskinan itu tetap ada. Faktor utama penyebab kemiskinan bukan karena kekurangan, tetapi lebih pada kerancuan berpikir yang membudaya dalam menjalani hidup.
Revolusi berpikir itu harus menjadi keharusan bagi semua elemen misalnya dari sisi pemerintah dilakukan dengan menerapkan nilai keadilan sosial dengan benar dalam pelayanan kepada masyarakat. Dalam kaitan dengan keadilan sosial, pemerintah harus membuktikan diri sebagai garda terdepan dalam mengamalkan perilaku berkeadilan sosial.
Selama ini nuansa keadilan sosial sama sekali kurang nampak. Korupsi, Kolusi dan Nepotisme masih menjadi batu sandungan dalam mewujudkan keadilan sosial. Pemimpin masih berpikir untung rugi dan tebang pilih dalam pelayanan.
Daerah-daerah yang bukan merupakan basis dukungan dalam pesta demokrasi selalu dianaktirikan bahkan tidak diperhatikan sama sekali. Keadaan ini diperparah lagi dengan adanya dendam politik dalam kancah pilkada yang terus mewabah dan menggerogoti pikiran masyarakat. Rakyat diracuni oleh pemahaman demokrasi yang keliru dan dangkal. Kerancuan berpikir seperti itu harus dilenyapkan dari tanah Flobamora.
Revolusi berpikir adalah pintu awal suatu transformasi kehidupan tanpa kekurangan. Dengan merevolusi pikiran, maka cara berpikir kita akan merdeka dalam betindak serta tumbuhnya komitmen dan kesadaran untuk berubah. Ketika seseorang mengalami perubahan pada pola pikir dan mengubah cara melihat realitas hidup, maka kemiskinan dalam bentuk apapun akan segera berlalu dari dirinya.
Revolusi berpikir tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi, cukup bermodalkan pendidikan kesadaran nurani yang memang secara kodrat dimiliki manusia.
Revolusi berpikir pada tataran yang mudah dan sederhana adalah memaksimalkan keadaan atau potensi yang ada di sekitar tempat tinggal menjadi sesuatu yang bermanfaat demi menekan pengeluaran uang. Sesuatu yang sederhana itu misalnya menanam sayur, buah-buahan, bumbu-bumbu dan masih banyak lagi tanaman yang bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Menanam tanaman yang bermanfaat haruslah menjadi budaya agar tidak merasa kekurangan.
Selama ini masyarakat mengabaikan hal ini sehingga segala sesuatu harus dibeli. Uang yang sebenarnya untuk sesuatu yang tidak bisa diperoleh di rumah malah habis untuk memenuhi kebutuhan akan sayur-mayur. Pemerintah, tokoh agama dan tokoh masyarakat punya tanggung jawab yang cukup besar mengubah pola pikir masyarakat dengan melakukan bimbingan dan pengajaran yang disertai perbuatan yang konsisten, bukan sesuatu yang sensasional.
Tokoh agama misalnya harus menjadi contoh dalam tindakan atau perbuatan, tidak sekedar berkata-kata. Memberikan motivasi kepada masyarakat atau umat lewat perbuatan merupakan cara yang tepat mengatasi kemiskinan. Bagaimana mungkin seorang pemimpin menyuruh rakyat menanam sayur di pekarangan rumah jika para pemimpin sendiri tidak mau melakukannya.
Oleh karena itu, revolusi pikiran harus menjadi fondasi dasar bagi semua masyarakat agar bisa keluar dari kemiskinan. Program pembangunan masyarakat bisa berjalan dengan baik jika masyarakat mau berubah dan perubahan itu harus dimulai dari pikiran. Pada akhirnya masyarakat tidak akan tersandera kembali oleh perilaku-perilaku yang mengarah pada kemiskinan.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/miskin_20170107_193733.jpg)