Narkoba Mengancam dan Mengancam Narkoba

Ditemukannya puluhan narkoba jenis baru ini menunjukkan bahwa Indonesia, termasuk NTT, merupakan salah satu pasar terbesar

Narkoba Mengancam dan Mengancam Narkoba
BBC/Getty
Selain paket berisi satu kilogram sabu kristal, remaja Hongkong diduga terkait dengan pengiriman 28 kg narkoba. 

Oleh: Frano Kleden
Anggota KMK-Ledalero, Tinggal di Wisma Rafael

SAAT ini penyalahgunaan narkoba di Indonesia sudah sangat merajalela. Hal ini terlihat dengan makin banyaknya pengguna narkoba dari semua kalangan dan juga peredaran narkoba yang terus meningkat. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan bahwa ada 35 narkoba jenis baru yang masuk ke Indonesia bahkan saat ini beredar di seluruh Indonesia, termasuk NTT, melalui kartel, pengedar dan kurirnya. Ditemukannya puluhan narkoba jenis baru ini menunjukkan bahwa Indonesia, termasuk NTT, merupakan salah satu pasar terbesar yang dimanfaatkan oleh kartel maupun sindikat peredaran narkoba, baik jaringan nasional maupun internasional. Dari hasil pengungkapan oleh BNN, di Indonesia saat ini ada sekitar 4,2 juta pecandu narkoba. Angka ini bisa bertambah bahkan sudah masuk ke kalangan pelajar SMP. Dengan kondisi ini, Presiden Joko Widodo telah menetapkan darurat narkoba di Indonesia (PK, 20/8/16). Hal ini terbilang serius. Oleh sebab itu negara perlu memberi perhatian serius dan menempatkannya sebagai problem besar yang perlu ditanggulangi.

Negara dan Narkoba
Narkoba telah menjadi ancaman berat bagi negara kita. Oleh karena itu, menghadapi bahaya narkoba yang mengancam keselamatan negara merupakan hak dan kewajiban setiap warga negara. Dalam pertahanan negara, kita semua, sebagaimana tercantum dalam pasal 30 ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara. Dewasa ini ancaman terhadap negara tidak terbatas pada ancaman berupa serangan bersenjata seperti agresi dan invasi saja, tetapi justru ada bahaya yang secara diam-diam akan menghancurkan suatu negara. Bahaya tersebut datang dari dalam negara itu sendiri, yang dinamakan subversi. Kegiatan subversi ini dapat dilancarkan dengan berbagai cara terselubung, seperti melalui usaha merusak kebudayaan bangsa, menghantam dunia pendidikan dengan mengobarkan ide-ide atau pendapat-pendapat yang dapat membahayakan (menimbulkan ketegangan-ketegangan sosial) dan dapat pula dengan cara merusak fisik atau mental masyarakat suatu negara. Cara terakhir ini bisa menggunakan narkoba sebagai alatnya. Jelaslah bahwa narkoba yang disalahgunakan dan kemudian mendapat banyak 'pengikut' atau pecandunya menjadi bahaya yang tidak kecil artinya. Bahaya tersebut menuntut suatu usaha pembelaan negara dari segenap warga negaranya.

Sikap bertanggung jawab atas keselamatan negara harus dilandasi oleh hati nurani yang ikhlas serta watak dan ciri yang penuh rela berkorban. Hal ini sebagaimana pernah diucapkan oleh almarhum Presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy: "Do not ask what your country can do for you, but ask yourself what you can do for your country" (Jangan tanya kepada negaramu apa yang dapat diberikan oleh negaramu, tetapi tanyalah kepada dirimu sendiri apa yang dapat Anda berikan untuk negaramu).

Dengan kesadaran warga negara seperti ini, kita tentu memiliki harapan untuk menolak bahaya narkoba secara spontan. Dengan demikian, sekalipun narkoba membanjiri negara kita, kita akan menjawab "tidak usah" atau "pergi hai setan narkoba!". Kita akan meringkus, mengganyang pengedar gelap dan para penyelundupnya serta membuat angkat kaki sindikat narkoba internasional atau pengedar narkoba manapun dari Indonesia. Kita perlu menanamkan apa yang dinamakan sense of security kita bersama: suatu kesadaran bahwa masalah keamanan adalah tanggung jawab kita bersama.

Mengancam Narkoba
Secara apriori narkoba memang menimbulkan dampak negatif yang mempengaruhi tubuh baik secara fisik maupun psikologi. Selain itu ia juga menjadi salah satu sumber dari tindakan kriminalitas yang dapat berpengaruh pada rusaknya norma dan ketenteraman umum. Pasalnya, mengekang diri untuk tidak menyalahgunakan narkoba merupakan kewajiban menjunjung tinggi hukum karena penyalahgunaan narkoba adalah tindakan melanggar hukum (Undang-Undang). Atas dasar itu, usaha untuk ikut mencegah rekan-rekan agar tidak menyalahgunakan narkoba sebagai tindak pidana merupakan pula kewajiban bersama (warga negara).

Dengan melihat kenyataan yang terjadi disertai dampak negatif narkoba yang sangat besar di masa yang akan datang, maka semua elemen bangsa ini (pemerintah, aparat penegak hukum, institusi pendidikan, agama, masyarakat) mulai dari sekarang perlu melakukan gerakan memerangi narkoba secara serius, efektif dan terus-menerus.

Pemerintah telah melaksanakan kegiatan 'represif' dengan menghukum seberat-beratnya para pengedar. Sudah sekian banyak bandar dan pengedar kelas kakap yang dihukum mati di Indonesia umumnya dan di NTT khususnya. Pemerintah juga telah merehabilitasi ratusan ribu pecandu narkoba untuk memutus peredaran narkoba selanjutnya. Penanggulangan yang baik di samping tindakan-tindakan dari pemerintah di atas ialah juga koordinasi yang baik dari semua lapisan warga. Secara 'preventif', bahaya narkoba dapat dicegah melalui cara moralistik dan abolisionalistik. Secara moralistik, pembinaan kesadaran mental dan moral serta penyampaian penerangan kepada masyarakat bukan tidak mungkin membuat warga menjadi kebal terhadap bujukan narkoba. Begitupun cara abolisionalistik yang memuat usaha-usaha menghilangkan atau memperkecil sebab-sebab penyalahgunaan narkoba. Kita sendiri baik secara individu ataupun kelompok hendaknya dapat menghindarkan diri untuk berada dalam keadaan yang dapat menjadi sebab kita terjerumus dalam rayuan narkoba seperti kekecewaan, ingin sok jago, menentang keluarga, dan lain-lain. Terlepas dari itu, kita dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan-kegiatan bersama semisal rekreasi, olahraga, kesenian, pengembangan bakat keterampilan dan sebagainya. Di Kupang, salah satu cara sederhana untuk mengampanyekan hidup sehat tanpa narkoba adalah dengan cara berolahraga: bermain tenis meja (PK, 29/8/16). Akhirnya, keterlibatan aktif dari lembaga-lembaga sosial swasta (yayasan, Gereja, Masjid dan sebagainya), para ahli dari berbagai keahlian (psikolog, psikiater, sosiolog, kriminolog) dan terutama kalangan orang tua secara perseorangan sangat dibutuhkan dalam usaha menyelamatkan warga negara di daerahnya masing-masing agar tidak terjerumus dalam 'lembah narkoba'. Jangan biarkan narkoba terus memperbudak kita. Ayo ancam narkoba!*

Editor: Agustinus Sape
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved